Jakarta, Sumselupdate.com – Draft NBA 2025 menghadirkan kejutan besar ketika Portland Trail Blazers memilih center asal China, Yang Hansen, di urutan ke-16. Keputusan itu langsung menuai sorakan protes di arena dan kritik tajam di media sosial.
Bahkan sejumlah analis menyebut langkah Blazers sebagai blunder. Namun bagi sebagian orang yang mengikuti perjalanannya, keputusan itu adalah taruhan berani yang bisa mengubah cara NBA menilai talenta masa depan.
Awal Gemilang di China
Yang Hansen lahir di Zibo, Provinsi Shandong. Pada usia 18 tahun, ia sudah menembus liga basket profesional China (CBA) bersama Qingdao Eagles. Musim debutnya mencatat rata-rata 15 poin, hampir 11 rebound, memimpin liga dalam blok, serta meraih gelar Rookie of the Year, Defensive Player of the Year, dan starter All-Star.
Meski berprestasi, banyak pemandu bakat meragukannya. Mereka menilai level persaingan di CBA kurang ketat, sementara gaya main Yang dianggap sulit menyesuaikan dengan ritme cepat NBA.
Bersinar di Panggung Internasional
Nama Yang makin dikenal saat tampil di Piala Dunia FIBA U19 2023. Menghadapi talenta muda terbaik dunia, ia tetap tampil impresif. Meski China kalah telak dari Amerika Serikat, kontribusi Yang terlihat lengkap: poin, rebound, assist, hingga blok.
Ia bahkan masuk jajaran teratas untuk kategori rebound, assist, dan blok. Namun kritik tak berhenti. Ia dinilai kurang eksplosif, kurang bugar, serta lambat bertahan di ruang terbuka.
Perbaikan dan Penyempurnaan
Salah satu kelemahan terbesar Yang adalah akurasi tembakan jarak jauh. Pada musim 2024, ia hanya mencatat 22 persen dari tripoin. Namun setahun kemudian, persentase itu naik menjadi 33 persen dengan volume tembakan lebih tinggi.
Dipadukan dengan visi bermain dan kemampuan passing, ia mulai dianggap sebagai big man modern yang serbabisa.
Visi Portland Trail Blazers
Blazers ternyata sudah lama mengincarnya. Manajemen bahkan rela menukar pilihan draft demi mendapatkan Yang Hansen.
“Talenta ini sangat unik. IQ basket, passing, dan cara membaca permainan — itulah kunci kemenangan di era sekarang,” ujar General Manager Blazers, Joe Cronin.
Pelatih Chauncey Billups pun mendatangkan Thiago Splitter, eks juara NBA, untuk membimbing Yang, seperti halnya saat melatih center non-atletis Alperen Sengun.
Ujian di Summer League
Debut NBA-nya datang di Summer League 2025 melawan Golden State Warriors. Dalam 24 menit, ia mencetak 10 poin, 5 assist, dan 3 blok. Dari empat pertandingan, ia rata-rata menyumbang 10,8 poin, 5 rebound, hampir 4 assist, dan lebih dari 2 blok, dengan akurasi tripoin 33 persen.
Lebih dari angka, gaya main Yang sebagai pengatur serangan dari high post membuat banyak orang kagum. Beberapa bahkan mulai membandingkannya dengan Nikola Jokic, tiga kali MVP NBA yang juga butuh waktu sebelum menjadi bintang.
Taruhan Global
Yang Hansen adalah pemain China pertama yang dipilih di putaran pertama draft sejak Yao Ming pada 2002. Tekanan besar pun ada di pundaknya.
Namun, ia dikenal rendah hati dan santai. Gemar bermain gim, menyukai makanan sederhana, dan hobi tidur siang, Yang kini juga tergabung dengan Clutch Sports untuk memperluas pengaruh global.
Jalan ke Depan
Keraguan tetap ada: kecepatan bertahan, akurasi free throw, hingga risiko turnover. Namun bila berhasil, ia bisa memvalidasi filosofi baru bahwa kecerdasan bermain sama pentingnya dengan keatletisan.
Apa pun hasilnya, Yang Hansen kini bukan lagi prospek misterius dari China. Ia telah menjadi pusat dari salah satu eksperimen paling berani di NBA, dan dunia basket menanti bagaimana kisahnya berkembang.
(**)











