“Ya Allah, Izinkan Aku Kembali Bisa Melihat”

Samna Liya atau akrab disapa Wak Menah pasca-menjalani operasi mata.

Laporan: Alpian Patria Jaya

Muaradua, Sumselupdate.com –  Nasib malang nan memprihatinkan menimpa wanita bernama Samna Liya (60) yang karib disapa Wak Menah ini.

Bacaan Lainnya

Warga Desa Gunung Megang Kecamatan Kisam Tinggi, Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan ini sudah dua tahun terakhir merasakan gelapnya dunia.

Wanita paruh baya ini tak mampu melihat akibat penyakit katarak yang diderita. Beruntung, dengan uluran tangan dari tetangga sekitar dan penghasilan seadanya dari suami serta anak anaknya, akhirnya Samma Liya mampu melaksanakan operasi pertamanya di Rumah Sakit Khusus Mata milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel pekan lalu.

Dari wawancara media Sumselupdate.com, Samma Liya mengaku sudah dua tahun ini tak mampu melihat dan tak mampu berobat karena keterbatasan ekonomi.

“Sudah dua tahun lebih sekitar akhir tahun 2018 penyakit ini saya derita. Saya tidak tahu. Kata dokter waktu di rumah sakit ini namanya penyakit katarak. Setelah diperiksa kami dianjurkan untuk berobat dan diberi rujukan ke rumah sakit yang ada di Palembang,” ucap Wak Menah sapaan akrab Samna Liya.

Wak Menah mengaku, dirinya bukan tidak mau berobat selama ini. Dia beralasan untuk berobat tidak cukup hanya mengandalkan kartu BPJS Kesehatan saja.

Akan tetapi biaya perjalanan ke Palembang dan biaya hidup selama berobat, dan biaya lainnya menjadi pertimbangan dia dan suaminya.

“Tapi alhamdulilah tuhan tidak tidur. Berkat uluran tangan tetangga dan ditambah penghasilan seadanya dari suami dan tambahan kiriman dari anak yang bekerja merantau di pulau kalimantan, akhirnya pada tanggal 9 Januari 2021, saya sudah menjalani operasi pertama di Rumah Sakit Khusus Mata yang ada di Palembang,” ungkap Wak Menah sambil menahan haru.

Di sela ceritanya, Wak Menah berharap operasi yang dijalaninya ini hasilnya tidak mengecewakan semua pihak baik tetangga dan keluarga besarnya.

“Karena jika diingat betapa besar pengorbanan dari mereka untuk kesembuhan saya agar kembali dapat melihat,” ucapnya.

Wak Menah mengaku belum terpikir apakah operasi kedua nanti yang dilakukan tiga bulan mendatang dapat dilakukan atau tidak.

Mengingat ekonomi keluarganya, yang untuk makan minum sehari-hari pun kadang masih susah.

“Tapi kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak dari tetangga atau siapapun karena alhamdulillah proses operasi pertama sudah dilaksanakan dan alhamdulillah sedikit sudah ada perubahan,” ungkap Wak Menah.

Sementara itu, Gunawan Sinim (59) salah seorang tetangga Wak Menah turut prihatin atas musibah yang dialami tetangganya itu.

Dirinya mengatakan jika Wak Menah sudah dia anggap sebagai saudara kandungnya sendiri.

“Prihatin saya sebenarnya dengan musibah  yang dialami Menah ini, kami tau betul dengan beliau meskipun beliau banyak menetap di Gunung Megang tapi kalau ke Muaradua karena rumah anaknya depan rumah kita jadi kami tau betul kehidupan beliau,” kata Gunawan.

“Tidak banyak yang ingin kami sampaikan, semoga pasca-operasi pertama yang dijalani Menah ini hasilnya positif dan operasi kedepan kita bersama sama baik itu pemerintah, masyarakat OKU Selatan akan membantu biaya untuk kesembuhan Menah ini agar kembali dapat melihat dan berkativitas seperti sedia kala,” harap pensiunan Lapas Kelas II B Muaradua yang bernama lengkap Gunawan Sinum, SSos. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.