Pagaralam, Sumselupdate.com – Aktivitas pariwisata tidak hanya berkaitan dengan destinasi yang dikunjungi wisatawan. Pergerakan wisatawan juga menciptakan kebutuhan terhadap berbagai produk dan layanan yang disediakan masyarakat setempat.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi pelaku UMKM di Kota Pagaralam, mulai dari kuliner, produk oleh-oleh, perdagangan, jasa transportasi hingga berbagai usaha pendukung pariwisata.
Ketika wisatawan datang, aktivitas ekonomi dapat terjadi di banyak titik.
Pengunjung membutuhkan makanan dan minuman, tempat berbelanja produk lokal, transportasi, penginapan serta berbagai kebutuhan lainnya.
Karena itu, pelaku UMKM memiliki peluang untuk mengambil bagian dalam rantai ekonomi pariwisata.
Salah satu aspek yang semakin penting adalah kemudahan pembayaran.
Wisatawan tidak selalu membawa uang tunai dalam jumlah tertentu. Kehadiran pembayaran digital seperti QRIS dapat memberikan alternatif transaksi bagi merchant.
Bank Indonesia menjelaskan QRIS merupakan standar pembayaran berbasis QR yang memungkinkan transaksi lebih mudah dan mendukung perdagangan, pariwisata serta UMKM.
BRI juga terus mengembangkan ekosistem merchant dan QRIS. Pada Triwulan I 2026, BRI mencatat volume transaksi merchant sebesar Rp67,9 triliun dan volume transaksi QRIS sebesar Rp30,5 triliun.
Pimpinan Cabang BRI Pagaralam Agustian Siburian mengatakan, pelaku UMKM yang berada di sekitar aktivitas pariwisata memiliki peluang untuk mengembangkan usaha dengan menyesuaikan layanan terhadap kebutuhan konsumen.
“Pelaku usaha perlu melihat kebutuhan wisatawan dan menyiapkan layanan yang mudah, termasuk dari sisi pembayaran. Dengan begitu, aktivitas wisata dapat memberikan dampak yang lebih luas kepada pelaku usaha lokal,” ujarnya.
Selain metode pembayaran, kesiapan produk juga menjadi faktor penting.
Pelaku UMKM perlu menjaga kualitas, harga, kemasan dan pelayanan agar wisatawan mendapatkan pengalaman yang baik.
Produk lokal juga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata apabila dikemas dengan baik.
Bagi pelaku usaha, peningkatan aktivitas wisata dapat menjadi momentum untuk mengembangkan kapasitas bisnis. Namun, pengembangan tersebut tetap perlu dilakukan dengan perencanaan.
Pelaku usaha perlu menghitung kemampuan produksi, kebutuhan modal, biaya operasional dan potensi permintaan sebelum melakukan ekspansi.
Di sinilah literasi keuangan menjadi penting.
Usaha yang berkembang tidak hanya membutuhkan omzet yang meningkat, tetapi juga kemampuan mengelola arus kas dan memastikan keuntungan usaha dapat dihitung dengan benar.
Dengan ekosistem usaha yang semakin tertata, UMKM lokal memiliki peluang untuk mendapatkan manfaat lebih besar dari aktivitas ekonomi yang muncul di sektor pariwisata.
Pagaralam memiliki berbagai aktivitas ekonomi yang dapat saling terhubung dengan pariwisata. Tantangannya adalah bagaimana pelaku usaha mampu mengubah kunjungan wisatawan menjadi peluang bisnis yang berkelanjutan.
Digitalisasi, pengelolaan keuangan dan akses terhadap layanan keuangan dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
(**)











