Wakil Ketua Komisi VII DPR: Pariwisata Indonesia Jangan Bergantung Pada APBN

Writer: - Selasa, 4 November 2025
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga. (Foto; Sumselupdate.com/Humas DPR RI).

Denpasar, Sumselupdate.com – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga mengatakan, kondisi sektor pariwisata Indonesia saat ini masih tergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hal ini menjadi sebuah ironi, di mana di berbagai belahan dunia, pariwisata justru menjadi penyumbang utama APBN.

Read More

Menurut Lamhot, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang sifatnya regulator tidak dapat berdiri sendiri.

Dia mempertanyakan kecukupan anggaran Kemenparekraf untuk membangun destinasi super prioritas dan menyarankan perlunya koordinasi kuat dengan BUMN Pariwisata seperti InJourney.

Lamhot memberikan contoh kasus BUMN perhotelan, Hotel Indonesia Natour (HIN). Dia menyayangkan  HIN hanya memiliki hotel di Bali, sementara destinasi menarik lain seperti Danau Toba belum tersentuh.

“Kalau di sana perhotelannya sudah tumbuh, objek wisatanya jelas sudah ada, baik wisata alam, lalu kemudian di situ ada event, ada atraksi, ada sport tourism segala macam. Maka secara tidak langsung pariwisata itulah yang menjadi kontributor utama terhadap APBN,” jelas Lamhot saat Kunjungan Kerja Reses Komisi VII, di Denpasar, Bali, Jumat, (31/10/2025).

Dia juga menyoroti minimnya sport tourism (pariwisata olahraga) yang dapat diandalkan Indonesia.

Dia membandingkan dengan negara lain, seperti Spanyol yang terkenal dengan Matador, atau Inggris, Italia, dan Jerman yang menarik jutaan wisatawan melalui liga sepak bola mereka.

Lamhot menaruh harapan besar pada Menteri Pemuda dan Olahraga saat ini, Erick Thohir untuk menumbuhkan sport tourism yang berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Lamhot menegaskan, peran utama pemerintah seharusnya bukan menopang pariwisata dengan APBN, melainkan fokus pada tiga hal vital, yakni membangun infrastruktur dasar, memastikan aksesibilitas dan konektivitas antarwilayah, hingga marketing/promosi secara masif.

Dikatakan, destinasi seperti Danau Toba dan Raja Ampat sudah dikenal  turis Eropa dan di luar Eropa. Namun, lemahnya promosi,  tidak adanya exhibition  dari Indonesia yang sebanding dengan Osaka Exhibition di Jepang.

Lamhot berharap melalui fokus pada tiga peran tersebut, target kunjungan wisman (wisatawan mancanegara) dapat meningkat dari 12 juta menjadi 20 juta lebih pada tahun berikutnya.

Peningkatan jumlah wisman ini, terutama melalui long stay (tinggal lebih lama) yang didorong event dan sport tourism, akan berdampak signifikan pada devisa.

“Minimal dia harus tinggal tujuh hari. Tujuh hari dikali $1.390, ya kurang lebih sudah sekitar $13.000 per satu orang yang spend. Kalau dikalikan sekian juta orang, sudah berapa triliun? Hanya dari wisman,” katanya.

Politisi Fraksi Partai Golkar ini menekankan semua rencana ini harus dirancang secara sistematis oleh pemerintah sebagai turunan dari undang-undang pariwisata demi mencapai kemandirian sektor pariwisata yang mampu berkontribusi besar pada APBN.

(**)

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts