Upaya Dinkes Mura Atasi Gizi Buruk Sudah Maksimal

Rabu, 25 Januari 2017
Sekretaris Dinkes Musirawas Muhammad Nizar

Muarabeliti, Sumselupdate.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Musirawas telah melakukan berbagai upaya dalam penanganan gizi buruk yang dialami warga. Tercatat, dari 42 balita yang menderita gizi buruk, kini 20 diantaranya sudah membaik.

Selebihnya, 22 balita masih ditanggulangi dengan pemberian makanan tambahan selama 90 hari. Diantara penderita tersebut, termasuk Sita dan Wahyuni, warga Desa Sembatu Jaya, Kecamatan BTS Ulu.

Read More

Sekretaris Dinkes Musirawas Muhammad Nizar mengatakan untuk dua penderita gizi buruk tersebut sudah ditangani sejak tiga bulan lalu. ‎Keduanya sudah dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif. Hanya saja Sita yang akan dioperasi telah terlebih dulu dibawa pulang atas permintaan keluarga.

Sedangkan, Wahyuni tetap dilakukan perawatan. “Kita penanganan nya gizi dulu, setelah sembuh, baru nantinya keterlibatan lintas sektoral. Karena, Dinkes tidak bisa menangani terus menerus,” ujarnya, Selasa (24/1).

Diakuinya, kedua penderita gizi buruk tersebut masuk kategori keluarga miskin. Hal ini, tentunya sudah ditangani Dinkes terkait masalah gizi dan ia berharap dinas terkait juga melakukan penanganan.

“Kita membuat surat kepada Bupati, untuk minta petunjuk agar dilakukan rapat lintas sektoral. Seharusnya, setelah Dinkes, pihak camat, kades serta Dinsos juga ikut. Sebab, dalam artian kalau cuma gizi saja yang ditangani, tentu percuma,” jelasnya.

Ia menyampaikan, berdasarkan deteksi kegiatan Posyandu, terdeteksi balita dibawah garis merah (gizi buruk) mencapai 278 balita di Musirawas. Selebihnya, gizinya sudah meningkat dan tetap dalam monitoring puskesmas setempat.

“Untuk 2017, petugas turun ke desa seminggu dua hari. Jadi, dengan membagi daerah binaan. Penyebab balita menderita gizi buruk, itu ada beberapa faktor, diantaranya ekonomi, pola asuh dan orang tua yang malas datang ke Posyandu,” jelasnya.

Ia menjelaskan, cara penanggulangan gizi buruk kedepan, pihaknya akan mengembangkan sistem surveyland berbasis masyarakat. Metode ini, melibatkan seluruh komponen, seperti kades, camat dan tokoh masyarakat setempat.

“Artinya semua pihak bisa segera melapor ke Posyandu atau Puskesmas terdekat. Kita juga akan terus melakukan pemantauan,” ungkapnya.‎ (ain)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts