Teknologi IVA untuk Pasien Gangguan Kesuburan Diperkenalkan di Palembang, Apa Manfaatnya?

Writer: - Minggu, 25 Oktober 2026
Dr. Wan Syahirah Yang Mohsin atau Dr. Sera, spesialis obstetri dan ginekologi dari Alhaya Fertility Centre, Kuala Lumpur, Malaysia, menjelaskan teknologi In-Vitro Activation (IVA) dalam kegiatan edukasi fertilitas yang diikuti 24 pasangan di Hotel Aston Palembang, Minggu (25/10/2026). (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Palembang, Sumselupdate.com – Teknologi In-Vitro Activation (IVA), salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk membantu pasien dengan kondisi penurunan fungsi ovarium tertentu, diperkenalkan dalam kegiatan edukasi fertilitas yang diikuti 24 pasangan di Hotel Aston Palembang, Minggu (25/10/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Wan Syahirah Yang Mohsin, atau dikenal sebagai Dr. Sera, spesialis obstetri dan ginekologi dari Alhaya Fertility Centre, Kuala Lumpur, Malaysia. Acara ini digelar bekerja sama dengan Medical Concierge Asia.

Read More

IVA dibahas sebagai salah satu pilihan penanganan bagi pasien dengan Primary Ovarian Insufficiency (POI), yakni kondisi ketika fungsi ovarium menurun sebelum perempuan berusia 40 tahun.

Dr. Sera menjelaskan, prosedur IVA bertujuan merangsang aktivasi folikel yang masih tersisa di ovarium. Prosedur tersebut dilakukan melalui operasi laparoskopi dengan mengambil sebagian jaringan ovarium untuk diproses di laboratorium.

“IVA itu perawatan untuk mengaktivasi sel telur di dalam ovarium pada pasien yang sudah berada di usia premature menopause,” ujar Dr. Sera.

Menurut dia, usia pasien dan lamanya penurunan fungsi ovarium menjadi sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum tindakan dilakukan. Pasien juga perlu menjalani pemeriksaan untuk mengetahui kondisi reproduksinya secara menyeluruh.

Dr. Sera menyebutkan, pasien berusia di bawah 40 tahun dinilai memiliki peluang yang lebih baik dibandingkan pasien berusia lebih tua. Sementara itu, penurunan fungsi ovarium yang telah berlangsung lebih dari lima tahun disebut dapat memengaruhi peluang keberhasilan prosedur.

Meski demikian, hasil penanganan dapat berbeda pada setiap pasien sehingga diperlukan konsultasi dan evaluasi medis sebelum menentukan pilihan terapi.

IVA berbeda dari program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF). Dalam prosedur IVF, sel telur dan sperma dipertemukan di laboratorium untuk menghasilkan embrio yang kemudian dipindahkan ke rahim. Adapun IVA bertujuan mengaktifkan folikel ovarium yang masih tersisa pada pasien dengan kondisi tertentu.

Alhaya Fertility Centre juga menyampaikan laporan kasus kehamilan pada 2026 setelah pasien menjalani prosedur IVA. Pasien berusia 33 tahun tersebut dilaporkan memiliki riwayat POI dan kadar Anti-Müllerian Hormone (AMH) yang sangat rendah.

Menurut keterangan yang disampaikan dalam kegiatan itu, pasien menjalani prosedur pada Juli 2025 dan mengalami kehamilan alami sekitar tujuh bulan kemudian.

Pihak penyelenggara menyebut kasus tersebut sebagai keberhasilan yang diyakini pertama di Asia Tenggara. Namun, klaim tersebut memerlukan verifikasi independen sebelum dapat dinyatakan sebagai pencapaian pertama di kawasan tersebut.

Dalam kegiatan itu, biaya prosedur IVA di Alhaya Fertility Centre disebut sekitar 20.000 ringgit Malaysia atau setara kurang lebih Rp80 juta. Biaya aktual dapat berbeda bergantung pada kebutuhan pemeriksaan, tindakan medis, dan layanan tambahan yang diperlukan pasien.

Selain IVA, Alhaya Fertility Centre menyediakan layanan fertilitas lain, termasuk IVF dan teknologi pendukung reproduksi berbantu. Dr. Sera juga menyampaikan bahwa teknologi IVA telah diterapkan di Malaysia selama sekitar tiga tahun, sedangkan pengembangannya di Jepang disebut telah berlangsung lebih lama.

Bagi pasangan yang mengalami kesulitan memperoleh keturunan, pemeriksaan medis menyeluruh menjadi langkah penting untuk mengetahui penyebab infertilitas. Konsultasi dengan dokter spesialis dan mencari pendapat medis kedua atau second opinion juga dapat membantu pasien memahami manfaat, risiko, keterbatasan, serta alternatif penanganan yang tersedia.

Melalui Medical Concierge Asia, pasien Indonesia dapat memperoleh informasi mengenai konsultasi lanjutan dan pilihan perawatan di Malaysia.

Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui Medical Concierge Asia di nomor +62 821-3166-4124 atau email [email protected].

Pasien disarankan memastikan status layanan, rincian biaya, bukti ilmiah, serta potensi manfaat dan risiko prosedur secara langsung dengan dokter yang menangani sebelum mengambil keputusan medis.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts