Sydney, Sumselupdate.com – Hampir satu miliar orang di seluruh dunia diproyeksikan menderita osteoartritis pada 2050, meningkat dari sekitar 600 juta orang pada 2023. Proyeksi tersebut tercantum dalam peta jalan kebijakan kesehatan global yang dirilis kelompok peneliti internasional pada Senin (12/10/2026).
Menurut pernyataan Universitas Curtin Australia, hingga kini belum tersedia obat yang dapat menyembuhkan osteoartritis ataupun terapi yang terbukti menghentikan atau memperlambat perkembangan penyakit tersebut. Kondisi ini mendorong para peneliti menyerukan penguatan kebijakan kesehatan untuk mengatasi beban disabilitas global akibat penyakit sendi tersebut.
Peta jalan yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet bertepatan dengan Hari Artritis Sedunia itu disusun oleh kelompok peneliti internasional yang dipimpin Universitas Curtin.
Dokumen tersebut menyoroti masih terbatasnya perhatian terhadap osteoartritis dalam kebijakan kesehatan di berbagai negara. Penanganan penyakit ini juga dinilai belum terintegrasi secara memadai ke dalam layanan kesehatan untuk penyakit kronis. Sementara itu, upaya pengobatan dan pencegahannya masih belum konsisten dan kerap tidak tepat.
Para peneliti menyerukan kepada pemerintah agar mengakui osteoartritis sebagai salah satu penyakit kronis utama. Mereka juga mendorong peningkatan akses terhadap perawatan berbasis bukti, investasi dalam pencegahan melalui penanganan kelebihan berat badan dan cedera sendi, serta integrasi layanan osteoartritis dengan program penanganan penyakit kronis dan rehabilitasi.
Penulis utama laporan tersebut, Profesor Andrew Briggs dari Universitas Curtin, mengatakan osteoartritis masih menghadapi persoalan persepsi di masyarakat.
“Osteoartritis menghadapi masalah persepsi. Di masyarakat, penyakit ini kerap dianggap sebagai bagian tak terhindarkan dari proses penuaan, sehingga dipandang sebelah mata, sementara pilihan penanganannya dianggap terbatas,” kata Briggs.
Sementara itu, Profesor Lyn March, salah satu penulis senior dari Kolling Institute di Australia, mengatakan beban disabilitas global akibat osteoartritis meningkat sebesar 65 persen selama periode 1990 hingga 2023.
Para peneliti memperingatkan, peningkatan angka obesitas, penuaan populasi, serta bertambahnya kasus cedera sendi diperkirakan akan semakin mendorong kenaikan jumlah penderita dalam beberapa dekade mendatang.
Temuan tersebut memperkuat urgensi peningkatan perhatian terhadap osteoartritis dalam kebijakan kesehatan global, termasuk melalui pencegahan, perawatan yang tepat, dan rehabilitasi untuk mengurangi dampak penyakit terhadap kualitas hidup masyarakat.
(**)







