Palembang, Sumselupdate.com — Kegiatan Retret Laskar Pandu Satria yang berlangsung selama sembilan hari yang berakhir 10 Juli kemarin di Bumi Perkemahan Gandus, Palembang, menuai sambutan hangat dan respon luar biasa dari peserta.
Diselenggarakan oleh kolaborasi pemerintah dan lembaga pendidikan, retret ini secara khusus dirancang sebagai bentuk penguatan pendidikan karakter generasi muda Sumatera Selatan di tengah momentum bonus demografi nasional.
Berdasarkan survei independen yang dilakukan oleh PT Kartini Masa Kini Research, Survey & Capacity Building, retret ini menunjukkan keberhasilan dalam membentuk disiplin, kepemimpinan, serta kesadaran sosial para peserta yang mayoritas pelajar dari berbagai daerah di Sumatera Selatan.
Direktur Eksekutif PT Kartini Masa Kini, M.Hafidz Alfurqan, yang saat ini sedang menempuh studi Magister bidang Industri Kreatif dan Media Komunikasi di Macquarie University, Sydney, Australia, menjelaskan bahwa kegiatan ini bagian dari pendekatan strategis untuk mengasah kecerdasan emosional dan karakter bangsa.
“Retret ini menjadi bukti bahwa pembangunan sumberdaya manusia tidak bisa hanya bergantung pada teknologi dan infrastruktur saja. Justru, pembentukan karakter seperti tanggung jawab, empati, ketahanan mental, dan nasionalisme merupakan fondasi utama. Program seperti ini adalah bentuk investasi jangka panjang yang tak ternilai bagi masa depan generasi muda.” ujar Hafidz.
Ia menambahkan bahwa ditengah era global yang cepat berubah, pendidikan karakter adalah mata uang paling mahal, karena hanya individu yang kuat secara mental dan etika yang mampu bersaing, bertahan, dan menjadi pemimpin perubahan.
Dia mengambil persamaan seperti seperti Korea Selatan, Finlandia, dan Singapura telah lama membangun ketahanan bangsa lewat pendidikan karakter yang menyatu dalam sistem nasional.
Korea menanamkan nilai disiplin dan kerja keras sejak usia dini, sementara Finlandia fokus pada empati, kesejahteraan emosional, dan kolaborasi.
Singapura mewajibkan “Character and Citizenship Education (CCE)” untuk membentuk moral dan tanggung jawab warga muda.
“Semua contoh ini menunjukkan bahwa membangun manusia berkarakteradalah fondasi penting menuju bangsa yang tangguh, dan retret Laskar Pandu Satria adalah langkah strategis ke arah itu. Dan itu sebabnya saya merasa kegiatan seperti retret ini sangat relevan dan bahkan harus diperluas ke berbagai wilayah Indonesia, khususnya di Sumatra Selatan,” jelas Hafids
Selain itu, PT Kartini Masa Kini tengah menjajaki kerja sama strategis dengan universitas, lembaga psikologi, pesantren modern, dan industri kreatif untuk membuat kegiatan retret semakin kreatif dan inovatif.
Kolaborasi tersebut juga akan memperkuat sistem monitoring agar keberhasilan program dan proses mentoring para alumni dapat dipantau secara efektif.
Sebanyak 94 peserta peserta mengaku mengalami perubahan positif dalam pola pikir dan kebiasaan harian setelah mengikuti retret, mulai dari bangun pagi, ibadah tepat waktu, hingga kemampuan bekerja sama dalam tim.
“Kami tidak hanya mengevaluasi secara kualitatif, tapi juga mengembangkan instrumen penilaian psikologis sederhana untuk menilai growth mindset dan resilience. Hasilnya sangat menjanjikan. Ini bisa jadi dasar untuk advokasi kebijakan pendidikan karakter ditingkat provinsi maupun nasional,” kata Hafidz.
Ke depan, PT Kartini Masa Kini tengah merancang Post-Retreat Mentoring Program, sebuah pendampingan lanjutan setelah kegiatan retret.
Peserta akan dipantau secara berkala oleh fasilitator dan alumni retret untuk menjaga konsistensi karakter positif yang telah terbentuk.
Programini didukung penuh oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan selaku inisiator utama, yang terus mendorong pengembangan retret sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia di daerah.
“Sebagai Direktur Eksekutif dan juga mahasiswa di luar negeri, saya melihat betapa bangsa- bangsa besar selalu memulai dari hal-hal kecil membentuk karakter sejak muda. Retret ini bukan hanya tentang membangun semangat, tapi membentuk sistem nilai yang bisa dibawa seumur hidup,” imbuhnya.
Dirinya percaya, perubahan besar lahir dari ruang-ruang kecil seperti perkemahan, diskusi malam, dan keteladanan yang konsisten.
“Retret Laskar Pandu Satria adalah bukti bahwa investasi karakter adalah investasi bangsa, dan kami siap berkolaborasi untuk menjadikan program ini sebagai model yang berkelanjutan dan berdampak luas kepada pemuda-pemudi di Sumatra Selatan,” tutupnya.(**)











