Semarang, Sumselupdate.com – Subhanallah! Sebuah penampakan menakjubkan terlihat pada bangunan masjid berbentuk kapal Nabi Nuh. Lokasinya di Kampung Padaan, Desa Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, Semarang.
Masjid Safinatun Najah, itulah namanya. Bangunan masjid berdesain langka itu berada di tengah hutan dan diapit area perkebunan dan persawahan. Karena berada jauh dari pusat kota, keberadaan masjid berasitektur megah itu pun sempat membuat heboh pengguna internet (netizen). Bahkan tidak sedikit kawula muda dikabarkan kian santer memburu masjid yang berada di pelosok desa, tetapi megah dan langka itu.
Saat ini, masjid berbentuk bahtera raksasa dan berwarna cokelat muda itu masih dalam tahap pembangunan. Sujadi (40 tahun), salah satu pelaksana proyek, menjelaskan Masjid Safinatun Najah dibangun di awal 2015 dan kini telah mencapai 80 persen.
“Luas bangunan masjid mencapai sekitar 2000 meter persegi. Kalau total lahannya sekitar dua hektare,” kata Sujadi seperti dilansir metrosemarang.com, Kamis (9/3/2017).
Masjid itu dikelola Yayasan Safinatun Najah dan sejak awal memang menginginkan mendirikan masjid berbentuk bahtera Nabi Nuh. Menurut Sujadi, bentuk bangunan yang menyerupai kapal ini dibangun atas keinginan saudagar keturunan Arab bernama Muhammad Munawar. Sang saudagar rupanya tebersit ide untuk membangun masjid kapal setelah menjalin kerjasama dengan ulama besar asal Arab Saudi.
“Sebelum wafat, ulama dari Arab Saudi berwasiat ingin membangun masjid berbentuk kapal di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Tapi karena butuh dana sangat besar, maka beliau memutuskan membuat masjidnya di Semarang. Lagi pula harga tanah di Kampung Pandaan relatif terjangkau,” jelasnya.
Jika dilihat lebih dekat, Masjid Safinatun Najah dibangun tiga lantai. Lantai dasar akan dimanfaatkan sebagai balai pertemuan, sedangkan dua lantai di atasnya untuk ruang salat yang mampu menampung lebih 500 jemaah.
Yang paling unik, pada sekeliling masjid memang sengaja dibangun kolam. Fungsinya, selain agar tampak bangunan masjid kapal itu seperti mengambang di atas air, juga untuk membersihkan kaki jemaah saat memasuki masjid.
Interior masjid memadukan konsep Timur Tengah dengan desain lokal. Pada kuncup kubahnya, arsitek masjid memberinya warna hijau tua, yang mirip kuncup kubah masjid Nabawi di Mekkah, Arab Saudi.
“Untuk sementara ini baru bisa dipakai salat. Fasilitas lain, seperti klinik kesehatan dan fasilitas umum lain segera menyusul,” kata Muhammad Barabar, tenaga pengawas proyek masjid itu.
Walau bangunan belum rampung seratus persen, puluhan pengunjung datang melihat masjid itu dalam per hari. Rata-rata mereka adalah mahasiswa hingga pengunjung yang berasal dari luar kota. (shn)











