Palembang, Sumselupdate.com – Imbas dari perilaku buruk oknum suporter Sriwijaya FC saat pertandingan menjamu Arema FC pada 21 Juli lalu, cukup menguras kas tim kesayangan mereka. Akibat insiden pelemparan kursi itu membuat Laskar Wong Kito merugi hingga Rp600 juta lebih.
Manajer Keuangan PT Sriwijaya Optimis Mandiri Robbiomar Razzi mengungkapkan, kerugian yang dialami Sriwijaya FC karena tidak dapat menggunakan Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, dan harus menjalani dua laga usiran di luar Palembang.
Dimana usai insiden pelemparan kursi, skuad Elang Andalas harus menjalani laga kandang di Stadion H. Agus Salim Padang, Sumatera Barat, saat menjamu Borneo FC, 29 Juli dan Madura United, pada 11 Agustus.
“Dari dua laga kandang usiran ini, total manajemen menelan kerugian sampai Rp600 juta lebih. Pengeluaran paling besar membayar biaya pelaksana pertandingan dan tiket pesawat,” ujar Robbi, Kamis (9/8/2018).
Robbi menjelaskan, untuk biaya panitia pelaksana pertandingan, manajemen Sriwijaya FC harus mengeluarkan uang sebesar Rp140 juta. Semua Panitia pelaksana yang bertugas berasal dari Padang.
Tak hanya itu, tiket penerbangan ke Padang saat bertolak dari Palembang jelang laga lawan Borneo FC menghabiskan Rp150 juta. Kerugian yang sama kembali dialami saat Sriwijaya FC harus kembali ke Padang usai melawan Persib Bandung di Bandung.
“Jadi kalau kita total dari dua laga kandang usiran itu, kerugian dari biaya panpel dan biaya tiket penerbangan mencapai Rp580 juta. Masih ada biaya operasional atau konsumsi. Jadi kita perkirakan bisa habiskan Rp600 juta lebih,” jelasnya.
Meskipun pertandingan masih digelar di Palembang biaya untuk panitia pelaksana memang tetap ada, namun masih bisa ditutupi dari penjualan tiket penonton. Tak hanya itu, manajemen juga tidak perlu mengeluarkan biaya tiket pesawat karena usai menjalani laga tandang tim langsung bertolak ke Palembang.
Bahkan dari penjualan tiket laga kandang, biasanya masih tersisa dan bisa digunakan untuk membiayai operasional tim saat laga away berikutnya.
“Tapi karena main di Pandang, penonton yang datang saja tidak banyak. Jadi uang yang didapat juga sedikit. Ya bisa disebut tidak ada pemasukan sama sekali,” jelasnya. (tra)











