Situasi Terkini Hutan Air Pohal OKU Pasca-Petani Diterkam Beruang, Polisi Perketat Pengawasan

Writer: - Jumat, 17 April 2026
Korban tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Ibnu Sutowo Baturaja setelah mengalami luka serius akibat insiden di kawasan hutan Air Pohal, OKU. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Baturaja, Sumselupdate.com – Aparat kepolisian bersama instansi terkait meningkatkan kewaspadaan di kawasan hutan Air Pohal, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), menyusul petani bernama Rahmat (55) nyaris tewas setelah diterkam beruang madu saat menyadap karet di kawasan hutan Air Pohal, Desa Rantau Kumpai, Kecamatan Sosoh Buay Rayap, Kamis (16/4/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.

Langkah ini dilakukan setelah adanya laporan insiden di wilayah tersebut yang mengindikasikan tingginya interaksi antara manusia dan satwa liar di kawasan hutan yang masih alami.

Read More

Kapolres OKU AKBP Endro Aribowo melalui Kapolsek Sosoh Buay Rayap Karbianto mengatakan pihaknya telah melakukan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) di lokasi serta berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Koordinasi tersebut bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali satwa liar di sekitar area perkebunan dan pemukiman warga.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak BKSDA untuk langkah antisipasi. Dikhawatirkan satwa tersebut masih berada di sekitar kawasan hutan dan berpotensi kembali muncul,” ujarnya.

Korban tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Ibnu Sutowo Baturaja setelah mengalami luka serius akibat insiden di kawasan hutan Air Pohal, OKU. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Ia menjelaskan, kawasan hutan Air Pohal merupakan habitat alami berbagai satwa liar sehingga potensi konflik dengan manusia cukup tinggi, terutama bagi warga yang beraktivitas di kebun yang berbatasan langsung dengan hutan.

Untuk itu, masyarakat diimbau agar lebih berhati-hati saat beraktivitas, khususnya di area rawan.

Kapolsek juga menegaskan pentingnya menghindari aktivitas seorang diri di dalam hutan serta memperhatikan waktu kerja agar tidak berada di lokasi saat jam-jam rawan kemunculan satwa liar.

Selain itu, peran Bhabinkamtibmas turut dioptimalkan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait keselamatan saat berkebun, termasuk pentingnya membawa alat pelindung diri dan memahami tanda-tanda keberadaan satwa liar.

“Kami mengingatkan masyarakat bahwa hutan adalah habitat satwa. Oleh karena itu, kewaspadaan harus ditingkatkan agar kejadian yang tidak diinginkan dapat dihindari,” tegasnya.

Pihak kepolisian juga mengajak pemerintah desa dan masyarakat untuk aktif melaporkan jika menemukan tanda-tanda keberadaan satwa liar di sekitar permukiman, sehingga langkah penanganan dapat segera dilakukan.

Dengan langkah koordinasi lintas instansi dan peningkatan kesadaran masyarakat, diharapkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar di wilayah OKU dapat diminimalisir.

(**)

 

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts