Silaturahmi Ke PWI Sumsel, Ketua DPRD Pagaralam Klarifikasi Terkait Pemberitaan dan Pernyataan ‘Pers Pelat Merah’

Ketua DPRD Kota Pagaralam Jenni Shandiyah didampingi Wakil Ketua DPRD Pagaralam Epsi Komar berfoto bersama usai bersilaturahmi ke kantor PWI Sumsel, Senin (2/11/2020).

Palembang, Sumselupdate.com – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pagaralam Jenni Shandiyah didampingi Wakil Ketua DPRD Pagaralam Epsi Komar bersilaturahmi ke kantor PWI Sumsel di Jalan Supeno 11 Palembang, Senin (2/11/2020).

Ketua DPRD Pagaralam langsung diterima oleh Ketua PWI Sumsel, Firdaus Komar dan Wakil Ketua Bidang Organisasi Anwar Rasuan serta Sekretaris Dwitri Kartini, dan Bendahara Novas Riady dan pengurus lainnya di Aula PWI Sumsel.

Bacaan Lainnya

Jenni  menemui PWI Sumsel, pertama menyampaikan berkaitan dengan soal pernyataannya di media sosial terkait pers pelat merah, itu yang dia maksudkan posisi humas yang menyampaikan release atau pemberitaan dari pemerintah daerah.

“Tidak ada sama sekali menyinggung tugas wartawan,” ujar Jenni. Jenni pun sudah mengklarifikasi hal ini ke media.

Bahkan Jenni memaparkan sebagai ketua DPRD sangat menghargai profesi seorang wartawan.

“Kami tunjukkan pada support anggaran ditambah sebesar Rp1,8 miliar untuk tahun 2021. Anggaran ini diperuntukkan program penyebar luasan informasi dan dibagi secara proporsional  ke seluruh media cetak dan online di Pagar alam.

“Kami sadar media memegang peranan penting. Karenanya kami tambahkan anggaran Kominfo Pagaralam  tahun depan sebesar itu. Ini bentuk bukti dan dukungan kami terhadap pers di Pagar Alam,” kata Jenni yang didampingi Epsi.

Jenni menyampaikan keresahannya, karena beberapa media yang memberitakan menurut Jenni tidak berimbang dan tidak konfirmasi ke DPRD Pagaralam.

Sejak tiga bulan terakhir, Jenni merasa, dirinya atau pun lembaga yang dipimpinnya, kerap mendapatkan berita yang tidak berimbang dan terkesan begitu memojokkan.

Ketua DPRD Kota Pagaralam Jenni Shandiyah berbincang dengan Ketua PWI Sumsel, Firdaus Komar.

“Bahkan tanpa konfirmasi sedikit pun. Dengan narasumber yang tidak diketahui dari siapa,” katanya seraya menunjukkan beberapa print-out dari media online.

Terlebih lagi pada saat demonstrasi Omnibus Law 8 Oktober lalu. “Ini menyudutkan saya, karena saya diberitakan atau dinilai tidak mengerti isu nasional. Sehingga  saya mendapat teguran secara kepartaian,” cetusnya.

Karena itu, menuliskan opini pribadinya melalui akun sosmed tanggal 9 Oktober 2020. Namun sayangnya, statusnya dipenggal dan tidak dimaknai secara utuh.

Supaya tidak menimbulkan polemik berkepanjangan, Jenni pun melakukan klarifikasi di hadapan sejumlah wartawan.

“Saya menjelaskan bahwa kalimat ‘pers pelat merah’ itu ditunjukkan  untuk humas dan kominfo,” katanya.

Terkait  itu, dirinya dilaporkan ke polisi oleh wartawan ALK pada tanggal 15 oktober 2020. Kemudian pada Kamis diadukan 15 Oktober oleh Al Kahfi, salah seorang wartawan di Kota Pagaralam.

“Secara pribadi tidak pernah ketemu, baik tatap muka, via telepon. Saya merasa dipojokkan dan sangat dirugikan. Jika  pun proses ini berlanjut, saya dipanggil polisi, saya pastikan hadir,” tegasnya.

“Dari berita yang memojokkan saya dan lembaga, kami minta keadilan dan kebijaksanaan dalam pemberitaaan. Dan juga akan kami sampaikan ke dewan pers. Kalau pun ada akan proses hukum  yang berlanjut. Saya pastikan tidak sedang berhadapan dengan wartawan, dan kemungkinan melaporkan balik,” ujarnya lagi

Berkaitan dengan pemberitaan tidak berimbang, Ketua PWI Sumsel Firdaus Komar menanggapi hal ini akan meneruskan ke Dewan Kehormatan jika terdapat anggota PWI, akan diserahkan ke DK.

Namun demikian secara aturan UU Pers No 40 tahun 1999 dapat menggunakan hak jawab terkait dengan materi pemberitaan yang tidak sesuai atau tidak cover both side.

Berkaitan dengan proses hukum yang dilaporkan kaitan dengan pernyataan di medsos, menurut Firdaus, tentunya sebagai warga negara mematuhi proses hukum yang dijalankan saat ini.

“Terkait dengan pernyataan itu, sebenarnya tidak ada istilah pers pelat merah,  juga dalam status tidak menyinggung pekerjaan profesi wartawan. Karena sangat jelas, dikatakan Jenni tidak menyinggung kaitan kerja wartawan,” kata Firdaus.

Namun demikian Firdaus menyampaikan bisa dikomunikasikan dan dengan cara mencari pemecahan masalah.

Di akhir pembicaraan, pada intinya Jenni menyampaikan hal ini dan meminta jalan terbaik yang bisa dilakukan. Firdaus juga sangat mengapresiasi niat baik Ketua DPRD Pagaralam, dan Firdaus memuji langkah yang dilakukan DPRD Pagaralam yang telah memperhatikan pers di Pagaralam.

Soal laporan wartawan ke Polres, Firdaus mengatakan, PWI mengimbau agar jalin komunikasi karena dan bisa dilakukan dengan duduk satu meja.

Sebelumnya, pelapor Al Kahfi mengatakan, sebagai insan pers yang merasa hal itu sudah masuk dugaan pencemaran nama baik rekan-rekan media.

Menurut Al Kahfi, sebelum membuat laporan, rekan-rekan media melakukan pertemuan dan rapat. Hasilnya, mereka mempertanyakan ‘Pers Plat Merah’ itu. Namun jawabannya bahwa cuitan itu ditujukan untuk Kominfo dan Humas.

Dijelaskan Al Kahfi, berdasarkan pandangan rekan-rekan media bahwa Kominfo dan humas itu bukan  pers.

“Jadi aku melaporkan itu berdasarkan hasil rapat beberapa media yang menyatakan “pers Plat Merah’ itu adanya dugaan indikasi suatu pencemaran nama baik bahwa pers itu makan suap atau pers itu sudah tidak lagi indenpenden. Jadi seolah-olah pers itu di bawah naungan pemerintah,” kata Al Kahfi saat dihubungi, Rabu (21/10/2020).

Dengan laporan tersebut, menurut Al Kahfi, tujuan pihaknya untuk mencari keadilan dan Ketua DPRD Pagaralam dapat menjelaskan siapa ‘Pers Plat Merah’ itu.

Al Kahfi berharap dengan laporan tersebut menjadi  pelajaran buat pejabat Pagaralam khususnya dan Indonesia umumnya, agar tidak terlalu mudah membuat cuitan atau unggahan yang membuat orang  tersinggung dan terindikasi terjadinya pencemaran nama baik. Apalagi yang membuat statement ini adalah pejabat publik. (rel/**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.