Sidang Dugaan Suap dan Gratifikasi Calon Siswa Polri Digelar, Empat Saksi Dihadirkan

Suasana sidang dugaan suap dan gratifikasi calon siswa (Casis) Polri tahun angkatan 2016 atas nama terdakwa AKBP Edya Kurnia di Pengadilan Negeri Klas 1 A Khusus, Senin (15/2/2021).

Palembang, Sumselupdate.com – Sidang dugaan suap dan gratifikasi calon siswa (Casis) Polri tahun angkatan 2016 atas nama terdakwa AKBP Edya Kurnia masih terus bergulir di Pengadilan Negeri Klas 1 A Khusus.

Pada sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua Abu Hanifah sore kemarin, beragendakan mendengarkan keterangan empat orang saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum.

Identitas keempat saksi tersebut ialah Bambang (dari Mabes Polri), Ahmad Sujono (Polri) Deni Darmapala (Polri, Sekretaris Panitia), Miman Sukmanurrakhman (Psikologi asal Bandung).

Dalam keterangan saksi Miman mengakui bahwa dirinya melihat terdakwa Edy Kurnia mengkondisikan serta memasukkan nilai psikologi sebelum tes dimulai.

“Saya melihat pak, karena saya didatangkan dari Bandung guna untuk melihat  hasil  Psikologi secara langsung karena saat itu pihak IT Polda Sumsel tidak ada pak hakim,” terangnya.

Sementara Deni Mapala selaku Sekretaris Panitia Pelaksana pada saat itu juga mengaku pernah mendapatkan titipan nama untuk diatensi oleh ibu kapolda.

“Pernah saya dikasih amplop berisi nama-nama untuk diberikan atensi dari ajudan Kapolda bernama Reva, dan ajudan itu ngomong bahwa ada titipan dari ibu kapolda,” terangnya.

Hakim Ketua Abu Hanifah pun menanyakan kembali bagaimana bisa mengetahui bahwa dalam amplop tersebut berisikan nama-nama yang akan diatensi.

Deni menerangkan bahwa saat dibuka didapati 30 nama-nama orang yang akan dibantu hingga lulus.

Usai mendapatkan amplop tersebut, ia pun mengaku langsung menyerahkan amplop tersebut ke Syaiful Yahya (Narapidana yang sedang menjalani hukuman karena kasus hal serupa).

“Setelah menyerahkan itu saya tidak tahu lagi Pak,” singkat saksi Deni.

Usai mendengar keterangan saksi dari keempat terdakwa, ia pun menyatakan tidak menyanggah dari  keterangan saksi tersebut

Dengan demikian sidang ditunda minggu depan masih dengan beragendakan mendengarkan keterangan saksi.

Untuk diketahui Dalam amar dakwaan yang dibacakan oleh JPU Dian terdakwa diduga melanggar ketentuan pasal 22 Undang-Undang RI No 21 Tahun 1999 jo RI 55 ayat 1 ke 1 KUHP dan pasal 5 ayat (2) ayat (1) Undang- Undang RI No 31 tahun 1999 tentang tindak pidana Korupsi.

Sementara itu, dilansir dari situs resmi Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri (PN) Palembang, dijelaskan bahwa terdakwa telah melakukan atau turut serta melakukan dengan AKBP Syaiful Yahya, Ssi, Apt dan Kombes Pol Soesilo Pradoto, MKes (masing-masing telah jadi terpidana), menerima hadiah atau janji berupa bagian uang dari para casis TA 2016.

Uang itu mereka terima melalui AKBP Syaiful Yahya sebesar Rp2 miliar dan janji pemberian uang antara Rp5 juta sampai dengan Rp10 juta dari setiap peserta sebanyak 317 calon Casis Bintara titipan dalam penerimaan Brigadir TA 2016 di Kepolisian Daerah Sumatera Selatan.

Dan kemudian, terdakwa menerima uang sejumlah Rp.543 juta dari AKBP Deni Dharmapala yang tersimpan dalam rekening buku tabungan.

Padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya.

Yaitu terdakwa mengetahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji berupa uang tersebut diberikan untuk meluluskan 100 orang titipan peserta seleksi penerimaan casis Bintara TA 2016 di Polda Sumatera Selatan yang dikumpulkan melalui AKBP Syaiful Yahya.

Dan 317 orang lainnya sebagaimana daftar titipan calon siswa casis Bintara TA 2016 dari AKBP Deni Dharmapala dalam tahap seleksi test Psikologi.

Hal tersebut bertentangan dengan kewajiban terdakwa selaku anggota Polri yang menjabat Kabag Psikologi ROSDM Kepolisian Daerah Sumatera Selatan.

Saat itu ia juga ditunjuk sebagai Ketua Tim Psikologi Panitia Seleksi Penerimaan Bintara Umum dan Bintara Penyidik Pembantu Polri TA 2016.

Diketahui, kasus gratifikasi yang terjadi tahun 2016 silam tersebut, juga menyeret dua petinggi kepolisian Polda Sumsel lainnya.

Mantan Kepala Bidang Dokter dan Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda Sumatera Selatan Kombes Pol Purn Soesilo Pradoto dan AKBP Saiful Yahya yang pada tahun 2016 silam menjabat sebagai sekretaris panitia pemeriksaan kesehatan, kini telah divonis bersalah oleh majelis hakim pengadilan negeri Palembang.

Sidang putusan digelar di Pengadilan Tipikor Palembang dengan ketua majelis hakim Abu Hanis Abu Hanifah SH, MH, Kamis (23/7/2020) lalu.

Keduanya divonis 5 tahun penjara dan denda Rp200 juta karena terbukti menerima uang suap dengan total sebesar Rp6,5 miliar dalam penerimaan anggota brigadir Polri, bintara penyidik pembantu dan bintara umum pada tahun 2016 silam. (ron)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.