Serat Wulang Reh Mengajarkan Hidup Didedikasikan Untuk Kemaslahatan Umat

Jumat, 1 September 2023
Serat Wulang Reh merupakan salah satu serat atau ajaran piwulang yang sangat populer dan digemari masyarakat Jawa.

Jakarta, sumaelupdate.com – Praktisi Hukum Agus Widjayanto mengatakan, Serat Wulang Reh merupakan salah satu serat atau ajaran piwulang yang sangat populer dan digemari masyarakat Jawa jaman dahulu selain Serat Wredhatama yang ditulis Sri Paduka Pakubuwono IV Raja Surakarta dalam bahasa Jawa bentuk tembang Gending Jawa.

Serat Wulang Reh merupakan salah satu sumber aspirasi lahirnya Pancasila oleh Pendiri Bangsa Ir Soekarno dalam pidatonya di depan Sidang Badan Penyelidik Usaha – Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), 1 Juni 1945, tentang Falsafah Dasar Negara.

Read More

Ajaran Wulang Reh penuh dengan ajaran filosofi tentang laku (jalan) hidup yang harus dijalani sebagai manusia seutuhnya.
Baik secara jasmani maupun rohani sebagai upaya membangun masyarakat beradab.

Wulang Reh dapat dimaknai ajaran, tingkah laku, tindakan menuju hidup yang bisa saling memahami dan mengutamakan moral untuk membangun pribadi dan menempatkan diri di masyarakat, bangsa dan bernegara.

Utamanya sebagai sebuah komunitas bersama di dalam masyarakat plural seperti di Indonesia tercinta.

“Indonesia merdeka karena keinginan bersama dari beberapa perbedaan kultur budaya adat-istiadat untuk mencapai tujuan bersama. Merdeka menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Agus di Media Center DPR RI Jakarta, beberapa waktu lalu.

Wulang dalam bahasa Jawa memiliki arti ajaran atau pitutur, sedangkan Reh mempunyai arti jalan atau aturan. Serat Wulang Reh adalah karya sastra yang ditulis dan diciptakan Sri Paduka Mangkunegoro ke IV dari Surakarta.

Serat Wulang Reh mengajarkan kepemimpinan tata kelola kerajaan dan ajaran tata hubungan antara para anggota masyarakat Jawa dari berbagai golongan berbeda. Ajarannya mengandung aspek sosiologi terutama di bidang Inter Group Relation.

Apa yang penulis tekankan disini, diarahkan untuk fenomena kepemimpinan masa kini. Khususnya paska reformasi, dimana semua orang bisa menyampaikan berpendapat yang diatur Kontitusi.

Terutama berkaitan dengam faktor kepemimpinan yang juga ditulis dalam Serat Wulang Reh.

Dikatakan, mengacu pada ajaran dalam serat atau tulisan sastra dalam Wulang Reh, ada empat aspek untuk mencapai kepemimpinan ideal untuk dijadikan pedoman dalam Tata Kelola Kepemimpinan, yaitu

Den Ajembar berarti harus luas, bisa dimaknai diri kita harus mempunyai pandangan pemikiran dan hati yang luas, bisa menerima masukan. Baik dari bawah, tengah maupun golongan atas, yang bisa dijadikan pengambilan keputusan secara tepat dan bijak.

Den Momot bisa memuat, dengan makna kalau diri kita bisa menjalani pada fase ajaran Den Ajembar agar kita bisa menampung dan menerima segala aspirasi rakyat. Baik dari bawah, golongan menengah maupun kalangan atas. Syarat utama bisa menampung aspirasi, pandangan dan hati yang luas sesuai aspek Den Ajembar.

Lawan Den Wengku bisa melawan ambisi sendiri, kita harus bisa menghilangkan ego pribadi, kepentingan diri dan golongan kita untuk dapat mengelola tata kelola baik di dalam kekuasaan maupun bisnis. Dalam bahasa sederhana mengatur Kawulo dan Gusti, bawahan serta atasan.

Den Koyo Segoro berarti apabila kita bisa menjalankan hal-hal yang diajarkan ketiga aspek di atas, yaitu bisa menampung aspirasi dari bawah hingga atas, menahan diri dan menghilangkan ego pribadi. Dimana hidup didedikasikan untuk kemaslahatan umat atau kawulo atau rakyat.

Maka diri kita bisa memiliki ilmu, wawasan, pandangan, dan hati seluas samudera. Seperti para pemimpin jaman kerajaan dulu yang tertulis harum dalam sejarah bangsa.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, kata Agus, apakah pemimpin saat ini sudah menjalani, melaksanakan dan memenuhi kriteria yang telah ditulis dan diajarkan Paduka Mangkunegoro IV dari Surakarta dalam serat Wulang Rehnya?
Baik Anggota Dewan, Partai Politik dalam sistem multi partai, aparat penegak hukum; hakim, jaksa, Kepolisian Negara Republik Indonesia, sampai Komisi Pemberantasan Korupsi, selaku benteng keadilan seluruh strata.

Tiada gading yang tak retak, tapi marilah kita berusaha menjalankan apa yang telah ditulis sebagai ajaran laku dari leluhur raja-raja tanah Jawa agar menjadi insan kamil. Demi terciptanya manusia Indonesia adil dan beradab, menuju Indonesia yang adil makmur gemah ripah loh jinawi, toto trentrem kerto raharjo. (duk)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts