Sekjen PBB: Solusi Dua Negara Palestina–Israel di Titik Paling Kritis

Writer: - Kamis, 25 September 2025
Pertemuan tingkat tinggi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang masalah Palestina diadakan di markas besar PBB di New York pada 23 September 2025. (Xinhua/UN Photo/Manuel Elias)

PBB, Sumselupdate.com – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, memperingatkan bahwa peluang terwujudnya solusi dua negara antara Palestina dan Israel kini berada di titik paling kritis dalam lebih dari satu generasi.

Pernyataan itu disampaikan Guterres dalam pertemuan tingkat tinggi Dewan Keamanan PBB pada Selasa (23/9/2025).

Read More

Ia menegaskan, ekspansi permukiman Israel yang terus berlangsung, aneksasi de facto, serta pemindahan paksa warga Palestina merupakan bukti nyata semakin terkikisnya prospek perdamaian.

“Siklus kekerasan mematikan, termasuk yang dilakukan pemukim ekstremis, telah mengukuhkan pendudukan Israel yang melanggar hukum dan membawa kita semakin dekat ke titik yang tidak dapat diperbaiki lagi,” ujar Guterres.

Ia menyoroti persetujuan Israel atas pembangunan permukiman di area E1. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi memutus kesinambungan teritorial Palestina di Tepi Barat.

“Permukiman Israel bukan hanya isu politik, tetapi juga pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Guterres memuji upaya Prancis dan Arab Saudi yang memprakarsai kembali konferensi internasional tentang solusi dua negara pada Senin (22/9). Ia juga menyambut baik pengakuan tambahan dari sejumlah negara terhadap Palestina dalam beberapa hari terakhir.

Sekjen PBB itu menekankan, masa depan Gaza setelah berakhirnya perang harus berlandaskan hukum internasional, bebas dari pembersihan etnis, serta memiliki arah politik yang jelas menuju solusi dua negara.

“Ekspansi permukiman, kekerasan pemukim, dan ancaman aneksasi harus dihentikan. Seruan Mahkamah Internasional harus dipatuhi, termasuk agar Israel segera menghentikan aktivitas permukiman dan mengakhiri pendudukan ilegal di wilayah Palestina,” katanya.

Guterres menegaskan, perdamaian yang adil dan berkelanjutan tidak bisa dicapai melalui kekerasan, melainkan melalui diplomasi, penghormatan terhadap hukum internasional, serta penghargaan terhadap martabat semua orang.

“Dewan Keamanan memiliki tanggung jawab besar. Kita tidak boleh membiarkan momen rapuh ini berlalu begitu saja,” pungkasnya.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts