Sekayu, Sumselupdate.com – Perusahaan daerah PT Muba Elektrik Power (MEP) selalu menjadi sorotan publik, tidak hanya disampaikan pada rapat paripurna DPRD Musi Banyuasin (Muba), namun di kalangan masyarakat pelanggan MEP sendiri banyak mengalami keluhan.
Betapa tidak, perusahaan yang selalu disubsidi oleh Pemkab Muba mencapai miliar rupiah per tahun. Meski mengaku selalu merugi, tapi perusahaan yang membidangi listrik ini disinyalir selalu berfoya-foya dengan anggaran.
Bayangkan saja, dahulu perusahaan plat merah ini memberikan fee kepada P2TL, perusahaan yang melakukan penagihan rekening kepada pelanggan yakni Rp13.500 per lembar, namun sekarang sudah diubah dengan persentase, yakni 10 persen dari tagihan yang didapat.
“Bayangkan jika dalam satu kecamatan tagihan Rp6-Rp7 miliar, persentase sepuluh persen,” jelas sumber yang namanya tidak untuk ditulis saat dihubungi Sumselupdate.com, Selasa (3/9/2019).
Dijelaskan sumber tersebut, bahwa untuk melakukan kontrak dengan MEP ada empat perusahaan yang mengikuti proses lelang tertutup, yakni PT Cahaya Abadi, Bima Karya Cipta, Eka Tama Elektrik, dan Ramiza Mandiri.
Namun, setelah dilakukan pelelangan tertutup bahwa dua perusahaan maju ke tahap selanjutnya yakni PT Cahaya Abadi dan Bima Karya Cipta, sementara dua perusahaan lainnya didiskualifikasi tanpa alasan yang jelas, dengan kata lain disingkirkan.
Ditambahkannya, dengan pola persentase sepuluh persen sudah sangat jelas tidak bisa untuk mendongkrak pendapatan.

Terpisah, wartawan Sumselupdate.com menerima pesan whatshapp dari sumber yang juga minta identitasnya dirahasiakan, disebutkan bahwa ada oknum petugas PT MEP yang menjual KWh liar.
“Berita Heboh, ada petugas mep nama (sengaja tidak ditulis) melakukan penjualan KWH pada pelanggan mep di kec lalan sebesar Rp440.000 per kwh,” sebut penulis dalam pesan whatshapp tersebut.
“Pekerjaan ini murni menyalahi aturan yang dikeluarkan Direktur MEP, untuk penggantian kwh rusak pelanggan diwajibkan membayar biaya Rp60.000. Bisa dibayangkan berapa uang yang masuk kantong oknum MEP, sekali sppd mereka membawa 50 kwh untuk mengganti kwh yang rusak di desa di Kecamatan lalan guna penurunan losis yang terus naik akibat kwh macet dan kwh bodong,” lanjut pesan tersebut.
Sementara itu, Direktur PT MEP Ir Humaidi Rozali dikonfirmasi via pesan WhatshApp menyarankan agar wartawan langsung datang ke kantor.
“Sebaiknya kami berikan penjelasan di kantor, bisa langsung temui Manager Niaga kita, dia akan berikan penjelasan, saya masih di Tungkal,” jawabnya membalas konfirmasi Sumselupdate.com. (est)











