RMP Sosrokartono, Perjuangkan yang Ada Dalam Hati dan Pikiran

Selasa, 5 September 2023
RMP Sosrokartono.

Jakarta, sumselupdate.com – Pemerhati Budaya Agus Widjajanto mengatakan, Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono adalah seorang intelektual terkenal. Baik mahasiswa maupun  pekerja. Sebagai seorang intelektual, ia mempunyai wawasan luas. Dengan wawasan  luas itu, RMP Sosrokartono memperperjuangkan apa yang ada dalam hati dan pikirannya.

RMP Sosrokartono lahir di Jepara 10 April 1877 dan meninggal di Bandung  8 Februari 1952. Menurut Agus Widjajanto, Sosrokartono muda diketahui meninggalkan tanah air setelah lulus sekolah menengah di Semarang dalam usia 21 tahun.

Dia merupakan wartawan perang  dunia I di Eropa, menguasai 37 bahasa,  penerjemah di Liga Bangsa Bangsa,  guru, ahli kebatinan Indonesia,  filsuf dan sufi kebatinan Jawa.

RMP Sosrokartono adalah anak ke-empat dari Bupati Jepara RM Ario Sosrodiningrat. RMP menjadi inspirasi adik kandungnya Raden Ajeng Kartini untuk menulis surat korespondensi kepada pejabat di Belanda dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Buku yang berisikan soal emansipasi bagi wanita agar mendapat pendidikan dan hak  sama dengan laki laki.

RMP Sosrokartono dijuluki ‘Si Jenius dari Timur’ dan ‘Pangeran dari Jawa’ oleh orang-orang Eropa sebelum Perang Dunia II. Lulusan Universitas Leiden Belanda itu terkenal dengan ucapannya sebagaimana biografi RMP Sosrokartono karya Solichin Salam (1987).

Dikatakan Agus, ucapan yang sangat terkenal dan menggoncangkan Eropa saat itu adalah, “Dengan tegas saya menyatakan diri sebagai musuh dari siapapun yang akan membikin kita sebagai Pribumi Bumi Putra, menjadi Bangsa Eropa yang akan menginjak injak tradisi serta adat istiadat kebiasaan leluhur suci, dan selama matahari dan rembulan bersinar,  mereka akan saya tentang,”.

Seorang insinyur berkebangsaan Belanda, Ir Heyning, pernah menyarankan agar RMP Sosrokartono mengambil kuliah jurusan tehnik di Delft University of Technology. Sehingga kelak  bisa membantu kota kelahiran RMP Sosrokartono di Jepara yang saat itu diprediksi akan kekurangan air dalam saluran irigasi untuk pertanian.

Akan tetapi, hati kecil RMP Sosrokartono merasa tidak cocok dan ia memutuskan pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur di Universitas Leiden Belanda.

Dalam buku “Menumbuhkan Sikap Patriotisme Membangun Karakter Bangsa, RMP Sosrokartono juga diketahui masuk dalam daftar redaksional penyusunan buku yang dikirim  Indische Vereeniging atau Perhimpunan Pelajar Mahasiswa Hindia (Indonesia) kepada Boedi Oetomo di tahun 1908.

Sementara Sumidi Adisasmita dalam bukunya “Wasiat peninggalan Jiwa Besar kaliber Internasional RM Sosro Kartono” menulis, satu satunya mahasiswa yang berhasil lulus ujian tes penterjemah artikel panjang dalam bahasa Inggris, Perancis dan Rusia, hanya RM Sosro Kartono yang lulus seleksi.

Saat awal-awal meletusnya Perang Dunia II, Sosrokartono memutuskan pulang  menemui guru spiritualnya di Mojoagung, Jombang Jawa Timur. Setelah bertemu  pandangan dan gaya hidup Sosrokartono berubah. Beliau meninggalkan seluruh harta dan jabatan yang ada di Eropa dan memutuskan pulang untuk mengabdi kepada bangsanya.

Padahal, Mohammad Hatta dalam Memoir (1979) meyakini gaji yang diterima RPM Sosrokartono saat menjadi jurnalis The New York Herald Tribune dan penerjemah dari Liga Bangsa Bangsa sangat besar untuk ukuran jaman itu  berkisar USD1250.

Namun RMP Sosrokartono tetap memutuskan pulang sehingga para pejabat Pemerintah Hindia Belanda merasa curiga. Bagaimana mungkin seorang Bangsawan Jawa  cerdas, menguasai 36 bahasa, dan mempunyai jaringan kuat di Eropa mau hidup di tanah kelahirannya.

Menurut Agus, Belanda curiga RMP Sosrokartono punya rencana untuk menggalang kemerdekaan. Oleh sebab itu, setiap saat intel-intel Belanda selalu mengawasi, hingga akhirnya timbul inisiatif menawarinya pekerjaan. Akan tetapi Sosrokartono menolak  dengan alasan ingin mengajar bangsanya agar menjadi bangsa yang tetap punya karakter ketimuran

“Karena penolakan tersebut, dia harus berurusan dengan Christiaan Snouck Hurgronje dan difitnah sebagai orang berpaham komunis, ” kata Agus dalam rilisnya di Jakarta, Selasa (5/9/2023).

Christiaan Snouck Hurgronje  merupakan ilmuwan besar dan disebut-sebut sebagai mata-mata kolonial Belanda yang menyatu dengan masyarakat Nusantara demi berbagai informasi intelijen.

Terkait tuduhan berpaham komunis, RMP Sosrokartono pernah menyatakan pada sahabatnya yang mantan menteri kebudayaan Belanda Henrij Abendonan. – “Saya bersumpah atas kubur ayah saya dan Kartini,  saya tidak sekalipun pernah menganut paham Komunis, dan tidak lebih yang saya inginkan hanya bekerja dan mengabdi untuk pendidikan mental Anak Bangsaku sendiri, “-

Setelah Belanda menyerah dalam perang dunia kedua dan Jepang masuk, kesehatan RMP Sosrokartono mengalami penurunan dan terserang stroke. Dikutip dari buku “Wajah Bandung Tempo Doeloe” (1984) karya Haryoto Kunto, pernah suatu ketika utusan dari Ir Soekarno datang dan bertanya kepada Sosrokartono.

Soekarno menanyakan soal peluang Indonesia bisa merdeka. Dengan tegas RMP Sosrokartono menjawab  Indonesia Pasti Merdeka. Jawaban dari ahli kebatinan ternama, seorang sufi Jawa dan filsuf itu di kemudian hari terjadi. Indonesia Merdeka  tahun 1945.

Sebagai seorang ahli kebatinan Jawa, RMP Sosrokartono terkenal dengan ilmunya yang bernama Catur Murti. Catur artinya empat dan Murti adalah pengabdian diri. Empat pengabdian diri itu ada pada tubuh, yakni pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan.

Keempatnya ditekankan harus lurus dan menjurus pada huruf Alif dan hadir sebagai situasi puncak ketidaksadaran maupun kesadaran, atau melebur yang mempunyai makna sangat sakral, atau tidak terpisahkan alias manunggal seperti penjabaran Alif, Lam, Mim, Ra’ Nur Muhammad.

Semua sebagai satu-kesatuan tunggal untuk mencapai Hakekat Makrifatullah. Hal itu juga yang kemudian dimanfaatkan RMP Sosrokartono sebagai media pengobatan bagi masyarakat di Kota Bandung dan sekitarnya, medio tahun 1945 – hingga 1950.

RMP Sosrokartono adalah peletak dasar pendidikan Karakter Bangsa. Dia pernah mengajar pada perguruan Taman Siswa. Dia terpanggil untuk mencintai bangsanya dengan mencintai budaya dan adat istiadat sebagai tata hidup luhur dari para leluhur. Dia menambahkan, tata hidup luhur ini disebutkan bagian dari harga diri dan ruhnya Bangsa Merdeka. Bangsa yang tidak suka bangsanya dijajah bangsa lain dan berjuang dengan cara sendiri.

Falsafah dari SMP Sosrokartono yang hingga kini menjadi pedoman bagi para pini sepuh dalam pengajaran budi pekerti terhadap anak-anaknya adalah prinsip hidup Sugih Tanpo Bondo (kaya hati tanpa harus harta), Digdoyo Tanpo Aji (tak terkalahkan tanpa kesaktian) dan Ngluruk Tanpo Bolo (menyerbu musuh tanpa pasukan).

Selanjutnya Menang tanpo ngasorake (Menang tanpa merendahkan lawan), Trimah Mawi Pasrah (menerima dan pasrah akan takdir), Suwung Pamrih Tebih Ajrih (kalau tanpa pamrih maka tidak ada ketakutan pada diri kita) serta Langgeng Tan Ono Susah Tan Ono Bungah (Seterus nya hidup selalu ada sedih dan gembira).

RMP Sosrokartono wafat  8 Februari 1952 di Bandung dan dikebumikan di pemakaman keluarga besarnya di Desa Kaliputu, Kota Kudus, Jawa Tengah. Urip Kuwi Urup, RMP Sosrokartono adalah cahaya rembulan yang menyinari kegelapan malam saat jamannya.

Semoga bisa menjadi inspirasi bagi generasi saat ini dan generasi mendatang untuk selalu menjaga dan mencintai bangsa, budaya dan adat istiadat. Apalagi, masalah karakter bangsa di era reformasi dianggap bangsa ini  mulai kehilangan jati diri.

Dimana budaya luar sangat deras masuk ke segala lini kehidupan bangsa, baik sosial budaya, hingga politik yan menghalalkan segala cara. Untuk memberikan pencerahan kepada generasi muda milenial, saya coba tulis tentang sejarah hidup salah satu inspirator pembangun karakter bangsa di era sebelum Indonesia Merdeka. Terutama saat  Budi Utomo berdiri 20 Mei 1908 di Jakarta. (duk)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts