Palembang, Sumselupdate.com – Memasuki pekan ke-10 Liga 1 Indonesia 2017, ternyata masih menyisakan dilema dan prokontra.
Regulasi PSSI yang terbilang unik masih memunculkan tanda tanya, apakah orientasinya betul-betul untuk kemajuan sepakbola tanah air.
Forum Jurnalis Olahraga Sumatera Selatan (FORJOSS) mencoba membedah, dari semua sisi bagaimana regulasi yang seakan dipaksakan tersebut.
Menggelar acara di Hotel Swarna Dwipa, Sabtu (10/6/2017) menghadirkan beberapa tokoh sepakbola Sumsel dari PSSI Sumsel, KONI, PT SOM, manajemen SFC, Suporter, pengamat, sampai insan olahraga yang turut mencurahkan pikiran.

Semua sepakat jika regulasi yang terlanjur ini jangan sampai terulang di kompetisi selanjutnya.
Hendra Kusuma wartawan senior Sriwijaya Post mengatakan, seperti ada udang di balik batu dalam melaksanakan regulasi PSSI musim ini.
Ia menyoroti pemberlakuan marque player yang diterapkan di Indonesia.
Menurutnya, ada satu tim sebelum regulasi itu diterapkan telah menyusun list pemain asing dengan kelas marque player.
“Saya curiga, apakah ini dipaksakan. Soal marque player. Apakah pesanan, karena ada satu tim yang telah menyusun list pemain sebelum regulasi diterapkan,” ucapnya.
Karena itu, diharapkannya tahun depan regulasi ini dapat diubah. Karena dengan niatan pembinaan dan industri olahraga, Liga 1 sebagai laga tertinggi tidak bisa dicampur.
“Kalau pembinaan kan sudah ada tempatnya. Liga U-21, U-19. Divisi II dan Liga Nusantara. Kalau Liga 1 itu kan sudah industri olahraga,” pungkasnya
Sementara itu, Sektim SFC Achmad Haris mengatakan, regulasi ini seakan begitu kejam.
Antara niatan untuk memunculkan bibit berbakat pesepakbola tapi malah membunuh karir sebagaian pesepakbola lain.
“Kita hitung, asing saja 4 pemain. U-22 3 pemain. Artinya tinggal 4 slot untuk pemain lain dan imbasnya banyak pemain yang tersingkir bukan Karen kalah bersaing tap karena regulasi,” tuturnya
Sementara itu, pengamat sepakbola Sumsel sekaligus perwakilan KONI Sumsel, Drs Syamsu Ramel lebih menekankan dengan perbaikan pembinaan sepakbola.
Dikatakan Ramel, melihat gejola sepakbola nasional naik turun. Sudah saatnya Sumsel khususnya SFC berpacu untuk memproduksi atlet sepakbola.
Untuk itu, manajemen harus segera menyusun standarisasi bagaimana perekrutan pemain.
“Harapan kita SFC selalu menjadi wadah bagi pemain bola Sumsel untuk mewujudkan mimpi. Karena SFC sejak didirikan memang diamanahkan untuk menjadi sentral pembinaan sepakbola Sumsel,” harapnya. (tra)











