Laporan Henny Primasari
Inderalaya, Sumselupdate.com – Lebih dari 250 orang anggota Relawan Anti Narkoba (RAN) memadati Aula Caram Seguguk KPT Tanjung Senai, Jumat (10/7/2020). Diduga melanggar protokol kesehatan di saat pandemi corona, Asisten I Pemkab Ogan Ilir (OI) Rahman Rosyidi ‘mengamuk’.
Ia meminta dengan sangat kepada para peserta untuk menjaga jarak sebelum acara dimulai. Anggota RAN tersebut berasal dari 241 desa/kelurahan, setiap peserta menggunakan seragam kaos biru tua bertuliskan RAN dibagian punggung.
Sebelum kegiatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) dan Pelantikan Pengurus RAN oleh Bupati OI H Ilyas Panji Alam dimulai, Asisten I Rahman Rosidi menggunakan pengeras suara, bahwa kegiatan itu jelas melanggar protokol kesehatan, “Kalau kegiatan ini tidak mau dibubarkan silahkan jaga jarak!,” ujar dia.
Selain itu, Rahman juga mengingatkan jika acara ini tidak mau dibubarkan lakukan physical distancing, menjaga protokol kesehatan. “Jaga jarak, atur jarak maksimal 50 orang, bahkan upacara HUT RI berdasarkan ketentuan nasional saja maksimal 20orang. Kalau tidak berkepentingan silahkan keluar. Kalau kegiatan ini tidak mau dibubarkan silahkan jaga jarak!,” tegas Asisten 1 Rahman Rosyidi menggunakan pengeras suara.
Usai mendengar arahan, ratusan pesertapun mengatur kursi agar jarak antara peserta lainnya lebih baik.
Kegiatan dibuka langsung oleh Bupati OI H Ilyas Panji Alam. Bupati dalam arahannya berharap para relawan bisa menyampaikan pesan moral kepada warga tentang bahaya penggunaan narkoba, dengan harapan ke depannya bisa meminimalisir penggunaan narkoba di kalangan anak muda dan orang dewasa.
Kepala BNNP Sumsel Brigjen Pol Drs Jhon Turman Panjaitan, Kepala BNNK Ogan Ilir AKBP Irpan Asanto, SSos, didampingi Kasi Brantas Kompol Jhon Le, SH, MSi, berpesan kepada relawan anti narkoba untuk terus mengampanyekan ‘Stop Narkoba’ di seluruh penjuru Kabupaten Ogan Ilir.
Ini sangat bermanfaat dan menyangkut masa depan bangsa dan negara Indonesia juga meminta seluruh relawan anti narkoba untuk tidak segan-segan datang mendiskusikan program yang akan dilaksanakan.
Pantauan di lokasi kegiatan, karena terlalu ramai, setiap peserta meski duduk berjarak namun tetap berdekatan. Selain itu setiap peserta juga tidak dilakukan pengukuran suhu dan di aula tersebut tidak tersedia fasilitas untuk cuci tangan. (**)











