Puisi: Duka Semeru

Karya Solehun*)

Sabtu sore awal Desember. Peristiwa kelam bertahta. Semeru lepas dari pantauan. Erupsinya melesat dahsyat. Gelontorkan lahar sangar. Tumpahkan awan panas. Gemuruhkan pekik ketakutan. Semua berkelibat menyerupa kiamat.

Read More

Di lereng Semeru, masih di sore itu. Lelehan cerita pilu pun terlukis. Memompa air mata. Membuncah sedih. Mengundang empati dan peduli.

Ada cerita tentang gigih ibu berbalut tangis. Menerjang debu. Melupa perih. Semata demi selamat si buah hati bisa teraih.

Ada juga cerita heroik seorang ibu tua. Di belasan kilo dia mesti berlari. Demi selamatkan diri. Sayang, tumpah air matanya tak jua terhindari. Sebab anggota keluarganya ternyata ada yang mati. Diterjang erupsi.

Cerita Rumini dan Salamah tak kalah pilu. Anak dan ibu renta ini tewas berpelukan. Sang anak tak tega tinggalkan ibunya sendirian. Demi bakti pada orangtua, ia bertahan. Membersamai sang ibu meregang nyawa. Saat terjangan erupsi tak lagi terelakkan.

Banyak lagi cerita nan menyayat hati di sini. Tentang seorang ibu yang mati dengan menggendong bayi. Tentang mereka yang bertemu ajal karena terjebak di truk pasir. Tentang puluhan orang yang terpaksa hilang. Tentang ribuan ternak yang mati. Tentang ratusan rumah yang porak-poranda tertimbun vulkanik. Juga tentang korban luka yang tak kalah banyaknya.

Duka Semeru duka kita. Tercurah empati untuk mereka yang tengah terhinggap duka di sana. Semoga tetap kuat dan sabar menjalaninya. Yakinlah, Tuhan selalu menyayangi hamba-Nya.

                                                                                                                  Palembang, 10 Desember 2021

 *) Penulis adalah Pemimpin Umum Sumselupdate.com dan pengarang buku antologi puisi “Kehilangan Paras” (2017).

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.