Prof Apriantoni: Jepang Bisa Jadi Kiblat Pembinaan Atlet

Prof Dr Apriantoni.

Palembang, Sumselupdate.com – Pada hari kedua Rakor Litbang KONI Sumsel di Hotel Santika membahas perbandingan pembinaan atlet di Indonesia dan sejumlah negara maju oleh Prof Dr Apriantoni serta terkait asa Sumsel berprestasi di PON Papua 2020 dengan narasumber Iyakrus dan regulasi dari penggunaan venue di kawasan JSC dengan narasumber Direktur Operasional PT JSC Bambang Supriyanto.

Prof Apriantoni yang dari Departemen Sport Science ITB mengungkapkan beberapa fenomena yang terjadi dalam pembinaan atlet di Indonesia yang membuat negara ini tertinggal dari atlet dari negara lain seperti Jepang, Cina, Korsel, Singapura, ataupun negara-negara dari Eropa. “Yang terjadi di kita, atlet sering berpindah-pindah,” ucapnya.

Bacaan Lainnya

Pencapaian PON tak bisa menjadi gambaran dari hasil pembinaan karena kerapkali atlet yang turun datang dari provinsi lain. Hal itu berbeda dengan Jepang, yang mempunyai regulasi yang jelas dan benar-benar diterapkan.

Jika atlet sudah memperkuat daerah asalnya, maka sudah tidak bisa pindah lagi. Hasil analisa, salah satu alasan atlet pindah karena bonus dari daerah lain lebih besar.  Artinya pemikiran atlet juga lebih ke materi atau bonus jika berhasil menyabet medali emas.

Berbeda dengan Jepang yang jika ada atlet meraih medali di event setingkat PON seperti di Indonesia diberikannya beasiswa. “Jadi lebih pada pendidikan atlet. Itu merata, jadi selain ada aturan yang jelas tak boleh perkuat daerah lain, tidak ada perbedaan soal bonus,” jelasnya.

Prof Apriantoni juga menyampaikan jika setiap provinsi harus fokus melakukan pembinaan pada cabor-cabor unggulan, seperti Lampung yang selalu berada di deretan 10 besar dalam beberapa PON terakhir. “Itu karena mereka fokus pada beberapa cabor unggulan, jadi atletnya bisa berprestasi di PON ataupun event internasional,” jelasnya.

Sport science juga punya peranan sangat penting dalam pembinaan atlet unutk meraih prestasi tertinggi. Di Jepang atau negara di Eropa dari cabor sepakbola bukan prestasi yang dikejar, tapi melahirkan atlet yang berkualitas.

Mereka dengan sport science mendapati jika pemain sepakbola berusia 8-12 tahun masih bisa diubah, gaya bermain, posisi, skill dan lain-lain. Tapi, jika lebih dari itu sudah sulit untuk diubah lagi. “Jadi turnamen atau event olahraga yang digelar, hanya supaya atlet main bagus saja. Tapi kalau di sini, meski di usia dini prestasi yang dikejar,” ucapnya.

Wakil Ketua I Bidang Penelitian dan Pengembangan KONI Sumsel Iyakrus yang juga menjadi narasumber, mengambil judul ‘Jalan Terjal Menuju PON Papua’.

Iyakrus mengungkapkan jika gagasan itu diambil karena memang di PON Papua 2020 tidak bakal mudah. Prestasi atlet Sumsel belakangan terus menurun.  “Tapi bukan tidak ada jalan atau peluang berprestasi di PON nanti. Masih ada jalan meski terjal,” ucapnya.

Program Sriwijaya 2020 diharapkan bisa mendongkrak prestasi atlet, sehingga di PON Papua nanti bisa mendulang banyak emas. (rel)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.