Polrestabes Palembang Gerebek Tempat Produksi Madu Oplosan, Beredar di Lampung, Jambi dan Bengkulu

Barng bukti yang diamankan polisi.

Laporan: Haris Widodo

Palembang, Sumselupdate.com – Satuan Reskrim Polrestabes Palembang terus mengungkap tindak kejahatan di Bumi Sriwijaya.

Bacaan Lainnya

Kali ini melalui Unit Ranmor berhasil mengungkap tempat industri madu oplosan di Lorong Kemang, Kelurahan 32 Ilir, Kecamatan Ilir Barat (IB) II, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (19/5/2022) sekitar pukul 13.30 WIB.

Dari pengrebekan itu, petugas mengamankan barang bukti berupa cairan madu, carang madu, susu SKM, penyedap rasa, soda kue, tepung tapioka, sejumlah jeriken madu yang telah dioplos, dan susu bubuk.

Barang bukti itu didapat petugas dari rumah pemilik industri madu oplosan  bernama Henky Fadly (33), warga Jalan PDAM, Lorong Swadaya,  Kecamatan Ilir Barat 1, Palembang.

Dalam penyergapan tersebut, aparat juga mengamankan Paharudin (45), warga Lorong Kemang, Kecamatan IB II, Palembang yang merupakan pekerja Hengky yang membantunya memproduksi madu oplosan.

Kasat Reskrim Polrestabes Palembang Kompol Tri Wahyudi mengatakan, kasus ini terkuak berkat informasi yang didapat dari masyarakat, jika ada rumah produksi madu di Palembang yang membuat madu oplosan.

“Benar, Unit Ranmor berhasil mengamankan dua orang, mereka ini modusnya membuat madu yang diperjualbelikan yang sudah dioploskan. Madu aslinya 10 hingga 5 persen, yang dicampur bahan-bahan lainnya,” ujar Kompol Tri Wahyudi di ruang kerjanya, Sabtu (21/5/2022).

Tindakan pelaku, bertentangan dengan Undang Undang Kesehatan, pangan, apalagi madu yang mereka produksi tidak memiliki BPOM, izin Depkes, informasi kedarluwarsa suatu barang.

Dari pengakuan pelaku, madu ini sudah dibuat sejak delapan bulan lalu dan telah dikirim ke Jambi, Begkulu, dan Lampung. Dengan harga jual per satu kilogram Rp25.000 dan setiap harinya memprduksi lima kwintal madu oplosan.

Atas perbuatannya tersebut, kedua tersangka dijerat Pasal 62 ayat 1 junto Pasal 8 ayat 1 huruf D dan F UU RI Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

Tak hanya itu, kedua pelaku dijerat Pasal 140 Junto pasal 86 ayat 2 Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 tentang pangan dengan ancaman hukum lima tahun penjara.

Sementara itu, Hengky mengaku kalau sudah menjalani bisnis ini selama delapan bulan dengan menghasilkan uang dalam satu bulan Rp5 juta.

“Tidak besar keuntungan, cukup untuk makan sehari-hari saja,” kilahnya sambil tertunduk.

Madu oplosan itu, diakuinya sampai di pasarkan ke daerah Jambi, Bengkulu, dan Lampung,

“Madu yang kami jual tidak ada sedikit pun dicampur bahan yang berbahaya, selama ini tidak ada laporan dari masyarakat atas keluhan madu yang kami buat. Kami mengolah madu ini belajar secara otodidak,” katanya. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.