Polda Sumsel Selidiki Jebolnya Tanggul di Tambang PTBA, Federik Diduga Tertimbun di Kedalaman 30 Meter Bersama Alat Berat

Direktur Ditreskrimum Polda Sumsel, Kombes Pol Hisar Siallagan.

Laporan Haris Widodo

Palembang, Sumselupdate.com – Peristiwa jebol dan longsornya tanggul air di Tambang Air Laya Barat PT Bukit Asam (Persero) Tbk, mendapat perhatian serius banyak pihak.

Bacaan Lainnya

Terlebih dalam peristiwa ini, keberadaan Federik Hansen Sagala, operator alat berat PT PAMA Persada Nusantara, belum juga ditemukan.

Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel) saat ini sudah melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bahan keterangan dari lapangan terkait peristiwa ini.

Direktur Ditreskrimum Polda Sumsel, Kombes Pol Hisar Siallagan mengatakan, penyidik sudah datang ke tempat kejadian perkara (TKP).

“Kita sudah ke lokasi kejadian dan melihat medannya. Hingga saat ini kita masih melakukan lidik dan mengumpulkan bahan keterangan,” ujar Kombes Pol Hisar Siallagan kepada Sumselupdate.com, Kamis (15/10/2020).

Dikatakannya, selain mengumpulkan bahan keterangan, dia juga masih menunggu tim ahli tambang apakah peristiwa ini ada unsur kelalaian atau tidak.

“Kita belum bisa menyimpulkan secara cepat apakah ini kelalaian atau bukan, karena masih menunggu ahli,” jelasnya.

Hisar Siallagan menambahkan, saat ini pencarian terhadap Federik Hansen Sagala yang tertimbun material lumpur, masih terus dilakukan.

“Untuk saat ini korban masih diduga terbenam di kedalaman 30 meter di dalam lumpur,” ungkapnya.

Proses pencarian Federik Hansen Sagala di lokasi jebol dan longsornya tanggul air di Tambang Air Laya Barat PT Bukit Asam (Persero) Tbk.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Walhi Sumsel Hairul Sobri saat dihubungi Sumselupdate.com, Rabu (14/10/2020) menyebut, penting untuk dilakukan penggalian informasi mendalam baik adminstrasi maupun fakta-fakta di lapangan.

Ia pun meminta pihak terkait segera melakukan review perizinan dan pemulihan baik lokasi tambang maupun areal terdampak.

Hairul Sobri melanjutkan, peristiwa jebol dan longsornya tanggul di areal tambang ini adalah bukti bahwa eksploitasi SDA yang rakus dan serakah akan memunculkan bencana ekologis.

“Jika kajian lingkungan hidup terus diabaikan, dan izin terus melegalkan aktivitas pertambangan maka ini sama saja dengan dukungan terhadap meningkatnya intensitas bencana ekologis yang akhirnya akan membebani rakyat,” pungkasnya.

Terpisah, Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Dirjen Minerba Kemen ESDM, Lana Saria mengatakan, pihaknya masih melakukan proses investigasi terhadap peristiwa longsornya tanggul air di area tambang PTBA tersebut.

“Kejadian tersebut masih dilakukan proses investigasi. Kami belum bisa memberikan keterangan apa-apa,” ungkapnya, saat dikonfirmasi, Kamis (8/10/2020) via WhatsApp.

Manajer Humas, Komunikasi dan Administrasi Korporat PTBA Iko Gusman saat dikonfirmasi Sumselupdate.com mengatakan, saat ini perusahaan masih fokus melakukan evakuasi akibat kejadian longsor di Tambang Air Laya Barat.

“Selain itu juga perusahaan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi tambang guna memastikan keamanan operasional tambang karena keselamatan dan keamanan para pekerja adalah prioritas utama perusahaan,” kata Iko, Rabu (7/10/2020).

Iko melanjutkan, Emergency Rescue Team (ERT) baik dari PTBA maupun PAMA, Tim BASARNAS serta Tim Pendukung lainnya terus berupaya bekerja keras dan fokus siang dan malam dalam proses evakuasi.

Selain menggunakan alat berat, tambahnya, proses evakuasi juga memanfaatkan peralatan dengan teknologi untuk mempercepat proses pencarian.

“Beberapa teknologi yang digunakan di antaranya metal detector milik PTBA, Echo Sounder dari Unsri, GPR (Ground Penetration Radar) dari Basarnas dan peralatan pendukung lainnya,” pungkas Iko.

Sebagaimana diketahui, tanggul air yang berada di Tambang Air Laya Barat PT Bukit Asam (PTBA) Tbk pada galian PT PAMA Persada, mendadak jebol pada 1 Oktober 2020, sekitar pukul 05.15 WIB.

Tak pelak peristiwa ini mengakibatkan excavator dan dozer yang ada di area tambang terendam banjir.

Tak hanya itu, akibat peristiwa mengenaskan ini empat orang operator menjadi korban. Di mana tiga orang selamat dan dirawat di rumah sakit.

Sedangkan satu orang operator alat berat yang merupakan karyawan PT PAMA hingga kini belum ditemukan. (**)

 

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.