Palembang, Sumselupdate.com -Pemerintah Provinsi Sumsel bersama instansi terkait lainnya telah melakukan pemantapan persiapan The 1st Asia Bonn Challenge High Level Meeting pada 9-10 Mei 2017 mendatang, mulai dari penjemputan delegasi di bandara sampai selesai rangkaian kegiatan sudah dipersiapakan dengan matang.
Bahkan saat ini dipastikan, persiapan sudah lebih dari 80 persen lebih dan tinggal penajaman koordinasi penjemputan delegasi dan peserta yang dimulai 7 Mei.
Gubernur Sumsel Alex Noerdin saat memimpin rapat pemantapan persiapan di Griya Agung Palembang mengharapkan partisipasi penuh semua pihak karena kegiatan ini bukan hanya membawa nama Sumsel, melainkan nama Indonesia.
“Kepada semua pihak terkait lakukan yang terbaik, karena ini kita kesempatan untuk memperkanalkan Indonesia di mata Internasional,” terang Alex, Jumat (5/5/2017).
Untuk diketahui, Sumsel terpilih menjadi tuan rumah pertemuan Bonn Challenge karena provinsi ini merupakan satu-satunya daerah yang sadar tentang berbagai tindakan lestari di masa lalu. Serta asap hasil kebakaran lahan gambut dan hutan juga tidak hanya terjadi di Sumsel, tapi juga di berbagai provinsi lain di Sumatera.
Sejak 2014 lalu Alex Noerdin telah menginisiasi pendekatan yurisdiksional lewat inisiasi visi Green South Sumatera, yaitu melalui kemitraan pengelolaan lansekap secara intersektoral. Dengan visi tersebut, pada Maret 2015, Alex diminta memaparkan konsepnya pada forum High Level Meeting Bonn Challenge di Bonn, Jerman.
Selanjutnya, dalam pertemuan di Bonn Challenge Regional Amerika Latin, Panama pada Agustus 2016, Alex kembali memaparkan kemajuan restorasi lansekap lahan gambut pasca kebakaran di Sumsel. Dalam pertemuan itu, Sumsel ditetapkan sebagai tuan rumah Bonn Challenge yang pertama untuk regional Asia Pasifik.
Melalui kegiatan Bonn Challenge berbagai manfaat diperoleh pemerintahan Indonesia diantaranya dapat menginformasikan kepada publik internasional bahwa kegiatan restorasi lansekap tidak hanya dilakukan di tingkat nasional, juga dilakukan pemerintah di tingkat sub nasional yang melakukan berbagai kegiatan restorasi hutan dan upaya penurunan emisi karbon.
Artinya, bagi Indonesia dapat mengemukakan ledging atau janji berapa luas hutan atau lansekap yang akan direstorasi yang perlu difasilitasi oleh Bonn Challenge untuk mendapatkan dukungan internasional untuk mencapai target National Determine Contribution (NDC) pengurangan emisi gas rumah kaca sesuai komitmen Paris.
Terkait lansekap yang akan dibicarakan pada pertemuan Bonn Challenge Regional Asia Pasifik nanti, kita harus memahami pengertian lansekap yang secara umum diartikan sebagai bentang alam.
Hal ini berarti terdiri dari berbagai kegiatan ekonomi dengan berbagai sumberdaya alam terutama hutan yang banyak memberikan manfaat bagi keberlanjutan masa depan kehidupan, seperti ketersediaan sumberdaya air, keanekaragaman hayati dan iklim yang terjaga.
Dari segi ekologi tentunya bertujuan untuk pelestarian atau konservasi, merehabiltasi lahan-lahan yang terdegradasi dan merestorasi kawasan yang mempunyai nilai konservasi tinggi dan habitat dari hewan-hewan yang langka.
Sebagai contoh di lansekap Sumatera, dijumpai berbagai satwa liar karismatik seperti gajah, harimau, dan badak. Dengan demikian pengelolaan lansekap harus mengintegrasikan seluruh komponen yang ada di dalamnya baik komponen hidup maupun yang tidak hidup.
Dalam suatu lansekap pasti ditemukan hasil karya budaya manusia sejak zaman prasejarah dan sejarah, maka penting untuk mengangkat nilai-nilai penting bagi peradaban manusia, yang juga harus terjaga. (ery)











