Pangkalan Balai, Sumselupdate.com – Penguatan budaya dan karakter bangsa melalui dunia pendidikan memiliki peran strategis bagi kemajuan bangsa. Untuk itu, dunia pendidikan melalui proses pembelajarannya mesti menjadi ujung tombak dalam upaya membina anak didiknya menjadi sosok yang berbudaya dan berkarakter.
Demikian benang merah dari hasil Seminar ‘Program Pembinaan Budaya dan Karakter Bangsa’ di SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III, Selasa (25/10/ 2016) yang menghadirkan anggota DPD RI atau senator Hendri Zainuddin, S.Ag, SH dan pengamat pendidikan, Solehun, M.Pd, sebagai pembicaranya.
“Budaya dan karakter itu penting untuk kemajuan bangsa ini, terlebih ketika menghadapi dunia global yang penuh tantangan dan persinggungan dalam setiap aspek kehidupan”, ujar Hendri Zainuddin.
Hendri memberikan contoh bagaimana negara Jepang yang kini menjadi negara maju dan diperhitungkan karena negara ini sangat memperhatikan persoalan budaya dan karakter dalam setiap jenjang pendidikannya.
“Sejak awal tahun 60-an Jepang mampu menunjukkan posisinya sebagai negara paling maju dalam ekonomi dan teknologi. Kemajuan tersebut tidak saja dicapai berkat kedisiplinan dan keuletan orang Jepang, tetapi yang utama adalah bagaimana pelatihan fisik dan nilai-nilai bushido (kode etik samurai) mendasari penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah informal dan sekolah formalnya,” ujar senator ini.
Sementara itu, pengamat pendidikan Solehun, M.Pd mengatakan, dalam sejarahnya Indonesia begitu kuat dalam budaya dan karakter sehingga bangsa ini mampu merebut kemerdekaan, mempertahankan dan mengisinya. Namun, dalam perkembangannya bangsa ini seolah abai terhadap persoalan terkait identitas dan jati diri ini sehingga korupsi marak, masyarakat mudah terprovokasi dan tidak sedikit generasi muda yang terjebak perilaku di luar etika dan norma.
“Kita bersyukur kini pemerintah telah sadar akan pentingnya penguatan budaya dan karakter untuk mengembalikan keadaban dan daya saing bangsa ini. Bahkan dalam gatra kedelapan Nawacita pemerintahan Jokowi-JK tersurat dengan jelas agenda melakukan revolusi karakter bangsa,” ujarnya.
Selain itu, Solehun menyebutkan, UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 3, juga telah menekankan bahwa fungsi pendidikan nasional untuk membentuk watak serta peradaban bangsa, dengan tujuan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
“Lebih jauh Kemendikbud juga telah menerbitkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti, yang disusun untuk menumbuhkan karakter positif peserta didik”, katanya.
Solehun juga mengingatkan, pendidikan budaya dan karakter ini hendaknya memperhatikan prosesnya yakni mulai dari diajarkan, dibiasakan, didisiplinkan, sehingga menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi kebudayaan.
“Dari banyak pengalaman, keberhasilan pendidikan budaya dan karakter ini sangat ditentukan oleh sinergisitas antara apa yang dipelajari anak di sekolah dengan yang mereka dengar, lihat, dan rasakan di lingkungannya. Artinya, harus ada keserasian antara sekolah, keluarga dan masyarakat,” tandasnya.
Sebelumnya, Kepala SMAN 2 Plus Banyuasin III, Rukanto, Sp.d mengatakan proses pendidikan di sekolahnya sangat mengedepankan persoalan budaya dan karakter. Berkat upaya ini, lanjutnya, prestasi siswanya meningkat seperti terlihat pada lulusan tahun kemarin dimana 74 persennya diterima di perguruan tinggi negeri.
Sementara ketua pelaksana seminar, Ibzani S.Pd, mengaku gembira atas kehadiran kedua pembicara dalam seminar yang diikuti para guru, komite sekolah, dan peserta didik ini. Dia pun berharap seminar ini dapat memperkokoh budaya dan karakter masyarakat, khususnya di kalangan siswa. (shn)











