Penjemputan 2 Pelaku Sindikat Pemalsuan Sertifikat Tanah di Desa Sukamukti Ternyata Diwarnai Kontak Senjata

Direktur Ditreskrimum Polda Sumsel, Kombes Pol Hisar Sillagan saat press realese penangkapan dua pelaku sindikat pemalsuan markah (Sertifikat Pengakuan Hak dan sertifikat tanah) di Desa Sukamukti, Kecamatan Mesuji, Kabupaten OKI, Senin (20/12/2021).

Laporan: Diaz Erlangga

Palembang, Sumselupdate.com – Proses penjemputan dua pelaku sindikat pemalsuan markah (Sertifikat Pengakuan Hak dan sertifikat tanah) di Desa Sukamukti, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan pada Kamis (16/12/2021) lalu, berakhir ricuh.

Read More

Aparat penegak hukum sempat meletuskan tembakan peringatan sebanyak lima kali guna menghalau warga yang menghalangi operasi penjemputan kedua pelaku sindikat pemalsuan markah, yakni Abu Sairi dan Sudirman.

Bahkan, ada aba-aba provokasi kepada masyarakat untuk menyerbu aparat kepolisian malam itu.

Kedua terduga sindikat pemalsuan markah ini dijemput secara kooperatif oleh anggota Subdit III Jatanras Polda Sumsel yang tengah menduduki lahan HGU milik PT Trekreasi Marga Mulya yang diklaim beberapa warga Sukamukti.

Direktur Ditreskrimum Polda Sumsel, Kombes Pol Hisar Sillagan dalam press realese, Senin (20/12) mengatakan, kedua pelaku Abu Sairi dan Sudirman diduga telah memalsukan tanda tangan mantan Kades Sukamukti serta cap basah Desa Sukamukti dalam pembuatan Surat Pengakuan Hak (SPH) untuk menerbitkan sertifikat tanah pada tahun 2019 yang mendompleng program sejuta sertifikat oleh presiden.

“Sebelumnya B, AS, Y, dan S (pelaku pemalsuan markah) ini mangkir dua kali pemanggilan penyidik, sehingga kita terbitkan surat perintah untuk menjemputnya. Kemudian, tim ke lokasi mencari empat orang tersebut,” ungkap Kombes Pol Hisar Sillagan.

Diungkapkan Hisar, dalam proses penjemputan para pelaku sempat terjadi keributan hingga keluar letusan peringatan ke udara saat barikade petugas yang tengah beranjak ke lokasi, hendak diserbu warga.

“Pada saat kita bawa, tiba-tiba ada sekelompok masyarakat yang berusaha menyerang petugas dengan menabrak barikade petugas, sehingga dengan terpaksa diletusan tembakan peringatan sebanyak lima kali,” pungkasnya.

Akibatnya, sempat terjadi kontak senjata selama 30 menit antara warga yang menghalangi operasi polisi dengan anggota Jatanras Polda Sumsel.

Namun dari baku tembak tersebut tidak satu pun dari warga maupun personel kepolisian yang terkena tembakan.

“Tidak ada luka tembak baik petugas maupun masyarakat,” ungkapnya

Hisar mengatakan, setelah situasi merendam dari 15 warga yang dilakukan pemeriksaan, didapat enam tersangka yang terlibat dalam kericuhan tersebut.

Keenam tersangka tersebut adalah warga yang hendak menabrak barikade polisi dan merupakan warga yang melepaskan letusan senjata api rakitan.

Keenam tersangka itu adalah warga Sukamukti yakni Agung Jati, Artian, Mat Jarun, Macan Kunci, Pei, dan Pudin Pringayida.

“Yang kita amankan enam orang, sisanya kita lepaskan secara bersayarat wajib lapor,” ungkap Hisar Sillagan.

Kombes Pol Hisar mengatakan penetapan tersangka penyerangan ini setelah ditemukan empat bilah senjata tajam di dalam mobil yang hendak menabrak barikade polisi.

Selain itu, polisi mengamankan dua pucuk senjata api rakitan jenis laras pendek revolver kaliber 556 yang diakui Agung Jati dimilikinya untuk melakukan perlawanan kepada pihak kepolisian.

“Dari mobil yang menyerang kita temukan dua pucuk senjata rakitan, dan empat bilah senjata tajam. Kemudian mobil juga kita sita,” tegasnya.

Dalam melumpuhkan laju mobil Fortuner SUV yang hendak menabrak aparat, polisi menghujani peluru terhadap ban mobil, hingga akhirnya enam penumpang yang berada di dalam berhasil dibekuk petugas.

Dari perbuatannya, keenam pelaku dikenakan pasal berlapis yakni undang-undang darurat nomor 12 tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api, dan pasal 212 KUHP tentang penyerangan, dengan ancaman hukuman penjara 12 tahun.

Sementara salah satu tersangka Agung berperan sebagai sopir mobil Fortuner SUV yang hendak menabrak barikade polisi mengaku, mobil tersebut miliknya.

Dia nekat menabrak barikade polisi setelah mendapat intruksi dari rekannya.

“Kata temen saya terebos aja!!!, Itu Pei yang berteriak untuk numbur polisi,” ungkap Agung.

Diakui Agung, mereka baru datang ke lokasi pada saat penjemputan terhadap kedua pelaku sindikat pemalsuan markah.

Tujuannya datang ke lokasi untuk melakukan penyerangan terhadap polisi. “Saya disuruh adek saya, katanya di lahan ada keributan,” ungkapnya. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.