Pembacaan Louis Althusser Atas Materialisme Historis Dan Materialisme Dialektis Karl Marx Pada Kesenian Calung Di Desa Jipang, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes

Selasa, 19 Juli 2022
Nandhy Prasetyo

Oleh: Nandhy Prasetyo

Perkembangan merupakan suatu yang niscaya, dengan sendirinya kebenaran epistimologi mengenai kedinamisan alam semesta bersifat aposteriori. Tanpa perlu adanya dalil-dalil khusus yang dapat mendorong terjadinya diskursus, perubahan dan pergeseran menempati legitimasinya, yakni kebenaran relatif lagi absolut. Akan tetapi mengingat berbagai proyeksi dengan keberagaman perfektif didalam menyoroti esensi, sekaligus sebagai pengantar jalan kepada “perkembangan” itu sendiri, pada gilirannya mempersilahkan banyak jalur diskusi. Secara nisbi sesuatu yang dipertentangkan secara universal, tidak lain merupakan upaya pencarian untuk memantapkan hakikat dari perkembangan itu sendiri. Berangkat dari diametral yang bisa jadi mendorong adanya diadik, triadik bahkan yang lebih luas dari itu, yakni (keuniversalan), menjadi pendasaran kerangka berfikir yang penulis ketengahkan. Preposisi pertama saya ajukan, sebagaimana Tesis Althusser untuk membongkar corak pemikiran Kalr Marx:

Read More

Krisis filosofis yang dialami oleh ilmuan-ilmuan ini merupakan fakta, bahwa krisis tersebut senantiasa secara filosofis berorientasi pada satu arah yang sama: yakni menghidupkan kembali tema-tema empiris atau formalis yang lama dalam kerangka idealis. Oleh karenanya, krisis-krisis itu mengarahkan pada pertentangan dengan materialism.

Sublimasi dari Tesis diatas, lebih merupakan genderalisasi yang terkesan dihadap-hadapkan atau dipertentangkan diantara materialism dan idealism. Akan tetapi perlu diingat bahwa keduanya, tidak dapat direduksi maknanya menjadi sesuatu yang paradoks maupun ambivalen. Lain pada itu, untuk menegasi kerangka berfikir sebelumnya saya berpegang pada pokok persoalan yang menjadi basic generalisasi antara materialism dan idealism itu sendiri, yakni dalam praktek filsafat. Preposisi kedua yang saya pakai, berpegang pada Tesis Althusser dalam buku “Filsafat Sebagai senjata Revolusi” dengan menuliskan:

Lenin mengatakan, bahwa rumusan dan definisi-definisi saya masih kabur dan belum terpoles; saya tahu bahwa para filosof tengah menuduh paham materialism saya berwatak metafisik. Akan tetapi blueprint dari persoalannya adalah, bukan saja saya tidak berfilsafat dengan filsafat mereka, namun saya juga tidak berfilsafat selayaknya mereka semua berfilsafat. Cara mereka berfilsafat ialah dengan mengembangkan keunggulan kecerdasan dan kepelikan pemikiran mereka, dengan tak ada tujuan lain selain dari perenungan dalam dunia filsafat. Sementara saya memperlakukan filsafat secara berbeda, saya mempraktekan filsafat seperti pandangan Marx, dengan menundukan diri pada realitas yang ada.
Kedua tesis diatas merupakan pengejawantahan jawaban symptomatic, atas pemikiran-pemikiran Marx terkait faham materialism yang dibelanya. Bahkan apabila dianalisa lebih lanjut, perdebatan yang melelahkan dari banyak para filosof dan saintis dipertengahan abad 19 yang lalu, masih terus berlangsung sampai dewasa ini, hanya bermuara pada sikap fatalism belaka.

Karena kebersetujuan Marx atas pemikiran Hegel dan Feuerbach tidak dianggap menjadi titik tekan kematangan konsep berfilsafatnya, justru terkesan semakin memisahkan diri dari filsafat, bagi banyak para komentatornya. Bagi banyak orang, tranformasi teori Marx yang niscaya diilhami dari kedua filsuf Jerman itu, bisa saja dikleim secara sinis sebagai suatu anomaly karena sifat dualismenya. Gumaman klasik mengenai tuduhan dualism Marx bernada” “Apakah Kalr Marx seorang filosof ataukah saintis?”.

Untuk sementara, bagi para komentatornya sikap ambivalensi atas pemikiran Marx bukan hanya tanpa dasar, melainkan logis. Sekurangnya esai-esai dalam karyanya: Theses On Feuerbach dan The German Ideology, melegitim jawaban atas pertanyaan dimuka. Secara implisit “Theses On Feuerbach” menerangkan para filosof hanya mengubah penafsiran mereka atas dunia dalam berbagai cara, padahal yang terpenting adalah mengubah dunia. Lebih jauh lagi, bahkan secara radikal karya tersebut memberikan kesimpulan bahwa kita hanyalah korban dari sebuah ilusi filosofis massa lalu. Paradoks atas kesimpulan itu adalah, profetik yang nampaknya menjanjikan sebuah filsafat baru, filsafat yang tidak sekedar interpretasi, namun lebih menstigmakan transformasi atas dunia. Hibernasi ini yang kemudian terus dipertahankan, bahkan sampai setengah abad oleh Labriola serta Gramsci dalam mendefinisikan Marxis sebagai sebuah filsafat praktis. Lain pada itu, bahkan Marx secara esklusif dalam “The German Ideologi” menyatakan upaya menyingkirkan semua khayalan filosofis dan beralih pada studi atas realitas positif sebagaimana adanya.

Tafsir umum mengenai “The German Ideology” adalah suatu sikap pengabaian pada filsafat, yang secara sinisme menganggap teori filsafat sebagai sebuah halusinasi, mistifikasi, bahkan lebih jauh lagi sebagai mimpi, yang terbangun atas residu murni dari sejarah nyata manusia kongkrit, dimana residu murni sendiri sebenarnya hasil dari pengabstraksian. Marx didalam karyanya mengingatkan, pentingnya berkonsentrasi pada sejarah yang nyata, yakni kehidupan material manusia. Dengan nada unilateral, Marx menganggap sainslah realitas itu dan hanya melalui tindakan, kita dapat memahami serta memecahkannya. Secara eksplisit karya “The German Ideology” menggambarkan upaya Marx menghancurkan ideology-ideologi yang menyelubungi kenyataan: dan filsafat merupakan salah satu ideology itu. Dengan penuh kehati-hatian Althusser menyebut hal ini sebagai ketimpangan analisis, akibat dekadensi pemahaman esensial dan gradualitas filsafat serta sains sebagai pokoknya. Kekosongan filsafat sebagai preposisi tautologi Althusser untuk mendamaikan silang pendapat, hingga pada gilirannya dapat dijelaskan secara lebih sistematis dan komprehensif. Menurutnya, Marx telah berkontribusi membangun saint baru dengan mengelaborasi konsep-konsep saintifik, dimana sebelumnya tidak lebih hanya manipulasi gagasan-gagasan ideologis. Dengan penuh tanggung jawab, Marx mengikatkan sebuah sains sejarah dimana yang ada sebelumnya hanya filsafat-filsafat sejarah.

Pengandaian Althusser untuk menunjukan sikap netralnya dengan mempergunakan istialah metafor yakni seolah-olah dalam ruang yang sama (ruang sejarah) Marx telah menggantikan teori-teori ideologis dengan sebuah teori saintifik.

Untuk lebih menunjang analogi penjelasan Althusser, diperlukan perluasan khusus pada ranah penemuan-penemuan saintifik besar yang diasosiasikan sebagai benua sains, dengan ciri ketetatan regional. Seperti kita ketahui, sebelumnya sudah terbentang dua benua saintifik sebagai hasil dari pengetahuan epistemology yakni benua Matematika (yang dibangun oleh orang-orang Yunani seperti Thales) dan benua fisika (oleh Galileo dan penerusnya). Oleh karenanya kemunculkan The German Ideologi dan Theses On Feuerbach dipreposisikan sebagai penemuan benua baru, yakni saint sejarah karena secara implisit memisahkan wilayah epistemology. Disinilah Althusser dengan analisis mendasar dan penuh kehati-hatian merefleksikan kondisi ini sebagai keheningan filosofis sebelum kemunculan karya-karya Marx yang melegetimasi ciri-ciri saintifiknya. Secara natural, memang diperlukan rentang waktu yang panjang untuk memisahkan antara moment reorganisasi filosofis dengan revolusi saintifik untuk mendorong kelahirannya. Dengan bahasa yang sederhana, keberadaan filsafat hanya terlihat dalam dunia yang berisikan sebuah sains atau sejumlah sains.

Barangkali inilah, mengapa filsafat dalam artian yang ketat baru lahir bebarengan dengan Plato, yang kelahirannya didorong oleh keberadaan Matematika Yunani: kemudian filsafat ini dibongkar oleh Descartes akibat dari dorongan sains fisika Galileo: lantas diubah bentuknya oleh Kantian, dibawah pengaruh penemuan Newton: dan disusun kembali oleh Husser akibat dorongan aksioma-aksioma molekuler pertama, begitu seterusnya.

Dengan bahasa retoriknya “filsafat selalu tertinggal dibelakang sains, dan sainslah yang mendorong kelahiran pertama dan kelahiran kembali filsafat secara revolusioner. Perlu juga digaris bawahi, bahwa proses kehamilan filosofis sangat berkaitan dengan proses kehamilan saintifik, dimana keduanya saling mempengaruhi.

Kesimpulannya, kategori-kategori filosofis yang baru telah dielaborasi dalam proses sains yang baru, namun perlu dipahami dalam kasus tertentu, filsafat dapat bertindak sebagai laboratorium teoritis yang didalamnya kategori-kategori baru yang dibutuhkan oleh konsep-konsep untuk reorganisasi sains. Ditengah optimismenya, Althusser mengajak para segenap komentator dan pembaca Marx untuk menganalisa karya teragung Marx “Capital”. Capital dengan singkat dapat dikatakan mengejawantahkan salah satu penemuan saintifik terbesar dalam sejarah manusia: karena berisi 1. konsep-konsep dasar dan 2.sistem konsep-konsep.

Point pertama, Konsep-konsep yang dimaksudkan Marx tersebut, merupakan konsep-konsep dalam artian gagasan-gagasan yang bersifat abstrak. Disini letak kesulitan pertama dari teori, yakni membiasakan diri dari praktek-praktek pengabstraksian. Tingkat kesulitan yang lain, secara terbuka Marx sampaikan pada kata pengantar dalam Capital jilid satu yang menerangkan: bahwa abstraksi bukanlah sekedar wujud dari teorinya, namun juga sebagai metode analisisnya. Kekhasan saintifik Marx justru terletak pada pengabstarksiannya, dan ini perwujudan perselingkuhannya dengan dunia saintfifik secara umum. Pengabstraksian Marx, merujuk pada sebuah realitas kongkrit yang sungguh-sungguh ada, namun tidak bisa terindra. Karena itulah setiap konsep abstrak yang Marx ajukan, menghadirkan pengatahuan akan sebuah realitas yang eksistensinya disikapkannya. Sebagai contoh: ketika Marx membicarakan total capital social, tidak ada seorangpun yang bisa menyentuhnya dengan tangan dan melihatnya dengan nyata, akan tetapi abstraksinya nyata lagi real dalam dinamika masyarakat social. Poin kedua, konsep-konsep dasar eksis dalam bentuk sebuah sistem dan oleh karenanya dikatakan sebagai suatu teori. Suatu teori berisi sebuah sistem konsep-konsep yang tidak mungkin ditawar dalam artian ketat. Sistem keketatan dalam suatu teori (sistematis), tidak bersifat fantasi, maupun bersifat formalitas, akan tetapi vital sebagai penunjang praktek saintifik. Inilah yang menurut Marx disebut sebagai sifat keketatan dari metode penyajian sebuah teori saintifik.

Esensi pemanfaatan praktis “Capital”, hanya bisa dipahami oleh orang yang terlibat dalam perjuangan kelas kaum proletar, yakni orang-orang yang mengetahui praktik-praktik dari ekploitasi kapitalis. “Capital” sangat mudah dipahami para buruh, karena karya tersebut membicarakan realitas sehari-hari yang mereka geluti dalam kerangka yang saintifik: yaitu ekploitasi yang mereka rasakan sebagai efek dari sistem kapitalis. Sementara bagi borjuis kecil yang notabene kaum terpelajar, profisional, dosen dan professor akan kesulitan memahami “Capital, karena mereka tunduk dan terjerat pada sistem ideology penguasa. Atas dasar karya “Capital”, Althusser berkesimpulan, karena setiap sains pada dasarnya berwatak positivism yang merupakan karakter borjuis (dengan ciri keketatannya), maka sains Marxisme merupakan sebuah filsafat, sebuah filsafat post Hegelian (filsafat praksis).

Dasar-dasar pemikiran filosofis Marx secara substansial memiliki kemiripan dengan para filosof-filosof lain dalam melihat realitas kehidupan. Marx menitik beratkan kehidupan manusia pada wilayah sosialnya, dengan mengedepankan 1.(kebebasan dan kreatifitas), 2. (kesetaraan, equality yang bersifat egalitarian), dan 3.(kritiknya akan praktik-praktik kapitalisme) yang berdampak pada ekploitasi, hegemoni serta alienasi. Objek dan orientasi pengamatan Karl Marx inilah yang pada gilirannya, mendorong multitafsir dari para pembaca karya dan komentatornya. Marx membagi 2 pendasaran realita social yang terjadi dimasyarakat, dengan pengkategorisasian base struktur (ekonomi) dan super struktur (politik, hukum, budaya, agama, seni dll). Dalam perfektifnya, base struktur menjadi pendorong sekaligus penggerak super struktur di dalam kehidupan realitas masyarakat. Menurut Marx pranata social yang ada ketika itu, sangat dipengaruhi oleh alat-alat produksi, hubungan produksi yang tiada lain utamanya bersandar pada motif ekonomi. Secara lebih spesifik, Marx menjelaskan siklus hubungan kehidupan kita secara social senyatanya adalah relasi ekonomi, yang pada gilirannya membentuk kesadaran kelas, membentuk relasi social, menumbuhkan kelas social hingga ahirnya mendorong berdirinya suatu Negara (yang berfungsi melegitim kelas-kelas penguasa). Lebih jauh lagi, identifikasi kelas yang timbul akibat relasi ekonomi mendorong terjadinya determinisme ekonomi yang berujung pada desterminisme social. Pola berfikir individu dibentuk dan dipengaruhi oleh realitas social, akibat kondisi-kondisi social didalam lingkungan proksimitasnya. Dengan kata lain, kalau yang menjadi dasar itu ekonomi maka materilah yang menentukan kehidupan realitas kita.

Oleh karenanya, ide-ide kita terbangun atas relasi social yang pada gilirannya membentuk realitas social, sehingga dengan segera dapat disimpulkan bahwa mainset individu-individu secara dominan dipengaruhi oleh materi. Dengan demikian pada hakikatnya, sejarah merupakan relasi-relasi antar materi didalam kehidupan manusia. Inilah teori Marx, materialism historis, yang diperdebatka antara corak pemikiran saintifik atau filosofis.

Marx mensistematiskan pemikirannya dengan sangat rinci, sebagimana ciri dan watak saintifik, sementara konsep-konsep yang dipakai merupakan pengabstraksian realitas social Eropa pertengah Abad 19, yang memiliki kecondongan prinsip-prinsip filsafati. Inilah pengadopsian gaya berfilsafat Hegel oleh Marx sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, kalau Hegel bersandar pada idealism sementara Marx lebih pada hal-hal sebagaimana adanya (bersifat materialism). Banyak yang berpendapat, “Capital” merupakan karya tebesar Marx, karena karya itu merupakan hasil dari pengabdian seumur hidupnya sejak tahun 1850. Bahkan Althusser berpendapat bahwa “Capital” harus dijadikan sandaran penilaian kita terhadap Marx, bukan berdasar pada karya-karya sebelumnya pada saat Marx belum mencapai kematangan intelekual. Esay dalam “Capital” meneguhkan teori Materialism Historis, sekaligus mengembangkan teorinya menjadi Materialisme Dialektik. Dimata Althusser, kegigihan dan kecerdasan Marx dalam menuangkan gagasan filosofisnya yang praktis, cukup memberikan legitimasi bahwa Marx seorang pemikir kritis yang melek zaman. Didalam meneguhkan teori Materialisme Historis, Karl Marx mendambakan suatu realitas social yang dalam perfektinya tidak dipenuhi dengan ketimpangan-ketimpangan. Marx merefleksikan masyarakat tanpa kelas sebagai suatu bentuk kehidupan social yang paling ideal. Pembongkaran feodalisme atas kelas-kelas yang berkuasa hanya akan terjadi, ketika muncul kesadaran dari para buruh atau proletarian atas hak-haknya yang diintervensi oleh kelas penguasa. Pada pemaknaan triadik yang sangat umum, dialektika memungkinkan suatu kondisi Tesis, Antitesis, dan Sintesis, oleh karenanya revolusi social ditengah masyarakat membuka jalan terjadinya suatu konflik. Di dalam buku “Capital” secara inklusif Marx mengskemakan proses dialektika dalam frase perkembangan masyarakat: {masyarakat primitive (komunis kuno) sebagai Tesis}, {kepemilikan (lahirnya perbudakan dan tuan), feodalisme (lahirnya elitism, dinasti), kapitalisme (kelas borjuasi), sosialisme (berdirinya Negara mengatur kepemilikan kelas-kelas penguasa) sebagai Antitesis} dan {komunis (kehidupan social tanpa kelas) sebagai Sintesis}.

Inilah manifestasi pengejawantahan pendambaan sekaligus bentuk pengecaman Marx atas pemikiran-pemikiran Hegel. Marx mengaktualisasi pendasaran pemikiran Materialisme Dialektika dengan Tesis rancangan Feurebach terkait dengan dimensi substansial agama. Sementara ketakutan yang diproyeksikan Marx atas praktik-praktik kapitalisme dari kaum borjuasi adalah, ketertindasan, ekploitasi, hegemoni dan alienasi dari kelas proletar. Dari sudut efek kecemasan inilah, mengejawantahan Marx atas mengadopsi gaya berfikir Feuerbach yang merupakan seorang filosof eksistensial awal. Terkait hal ini, Althusser berpendapat, bahwa feurebach skeptis terhadap agama sebagai dampak manusia teralienasi, sementara Marx menganggap bahwa kekalahan ekonomilah yang membuat manusia tunduk terhadap agama.

Terlepas dari perdebatan-perdebatan diantara banyak komentatornya, dan pembacaan Althusser atas pemikiran Marx terkait dengan Materialisme Historis dan Materialisme Dialektis sebagai suatu kecondongan saintifik ataupun filosofis. Penulis sepakat bahwa Marx telah meletakan suatu benua saintifik baru yakni sejarah saint, lain pada itu dasar-dasar pemikirannya dapat dijadikan landasan berfilsafat karena Ia telah mentranformasikan filsafat sebagai suatu ilmu praktis berfilsafat. Penting disini penulis ingatkan, sebagaimana objek dan judul didalam penulisan “Pembacaan Louis Althusser Atas Materialisme Historis Dan Materialisme Dialektis Karl Marx Pada Kesenian Calung Di Desa Jipang, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes” maka pemikiran Marx yang tertuang dibeberapa karyanya perlu diuraikan secara komprehensif. Terlebih cara-cara pemikiran Hegel dan Feurebach yang turut berkecamuk memanifestasikan pemujaan dan kritisme Marx didalam menuangkan setiap gagasan-gasannya. Hal yang tidak boleh dilupakan untuk menyelami pemikiran Marx terkait realistas social, adalah dua pendasaran yang pernah penulis urai sebelumnya, yakni pendasaran subestructural dan superstructure.

Lain pada itu, sesederhana apapun Marx memposisikan kesenian sebagai bagian kebudayaan manusia, tetaplah niscaya di dalam kemewahan alam berfikirnya. Memposisikan seni pada wilayah superstruktur tidak dapat diartikan meniadakannya sama sekali, justru kesenian bagian integral sekaligus menjadi motor penggerak mata rantai realitas social masyarakat. Secara inhern membicarakan seni dalam terminology khusus, Jhon Hopers (1967) mengatakan bahwa filsafat seni agak lebih sempit dari kajian estetika, sebab filsafat seni hanya bertalian dengan konsep-konsep dan persoalan yang timbul dalam hubungannya dengan karya-karya seni, tetapi tidak mencakup pengalaman estetis mengenai alam. Pada wilayah ini dapat disimpulkan bahwa, pemikiran tentang seni sebagai karya merupakan refleksi simbolik, metaforik, manipulasi objek, ekspresi diri yang berisi pesan dan kesan, yang merefleksikan gambaran-gambaran realitas dan penglihatan dunia yang diwakilkan ke dalam karya. Lebih dari itu, seni pada dasarnya bukanlah hasil produki dan reproduksi alam melainkan karya tangan manusia, sehingga seni memiliki daya-daya artifisial. Oleh karenanya seni berkapasitas tidak alami dalam artian, dibuat dan dimaksudkan untuk manusia dalam kehidupannya (Martono 2001). Menjembatani konstruk berfikir Marx terkait substansi seni akan lebih esenial dengan pendasaran-pendasaran atas sejarah seni itu sendiri.

Himsyari Yusuf (2014) mengungkapkan, seni dalam historisitasnya sudah ada sejak zaman Yunani kuno, bahkan secara hakikat sudah muncul bersamaan keberadaan manusia di dunia. Dinamika rentang perjalanan sejarah yang panjang, turut serta menarik pergeseran-pergeseran paradigma seni baik pada wilayah substansial maupun pemfungsian eksistensinya sendiri. Pada pemaknaan terdahulu, secara leterlek dari berbagai literasi menerangkan bahwa pembahasan seni terkait dengan domain ekspresi jiwa manusia yang syarat akan nilai-nilai keyakinan serta magis. Pada artian, suatu kepercayaan yang bersifat religious magis diekspresikan pada dunia seni sebagai simbolisme dari bentuk ketaatan, oleh karenanya dalam konteks ini seni dimaknai mengandung nilai-nilai spiritual dan metafisik. Sementara disatu sisi pencapaian-pencapaian rasional manusia yang berjalan dengan gerak perkembangannya, menjungkir balikan paradigma seni sedemikian rupa. Religious magis yang menjadi esensi seni dalam pemahaman Yunani kuno, digeser secara signifikan oleh keunikan-keunikan pemahaman sebagai dampak progresifitas pemikiran para pengamat dan filosof dalam mendefinisikan seni. Modernisme memiliki kecenderungan mengagungkan rasionalitas, dengan sendirinya memberikan legitim yang cukup luas akan keragaman sudut pandang yang komplek, terkait dengan seni itu sendiri. Sekurangnya akan penulis hadirkan pendefinisian seni dalam pemahaman modernisme, sehingga menampakan celah perbedaan dengan pemahaman seni pada zaman sebelumnya. The Liang Gie, melihat bahwa filsafat seni merupakan cabang filsafat yang membicarakan semua persoalan mengenai penciptaan seni, pengalaman seni, kritik seni, nilai seni dalam kehidupan manusia, dan penetrasi hubungan seni dengan kegiatan dan kepentingan manusia lainnya. Selaras dengan itu, secara esklusif Sumartono menuliskan bahwa karya seni hadir dengan memiliki kapasitas fitrah dan keperluannya masing-masing.

Dengan kata lain, tidak ada satu karya seni apapun dan kapanpun yang dapat menyembunyikan kapasitas dan keperluannya. Seni pada konteks ini, lebih dilihat pada pemfungsiannya yang fulgar dan pemanfaatan keberadaan seni sebagai suatu esensi yang lebih bersifat praktis. Kendati demikian upaya mengembalikan kembali dasar esensi filosofis seni dilakukan oleh Immanuel Khan, dengan teori estetikanya yang mengatakan bahwa, seniman haruslah memiliki interpretasi yang sama terhadap sebuah karya seni, serta membebaskan seni dari berbagai maksud kepentingan.

Liftschits seorang pegiat seni yang mengumpulkan dan menganotasikan tulisan-tulisan Marx terkait seni dan sastra berpendapat bahwa, Marx memiliki hubungan yang intim dengan seni. Tuturnya, selama Ia mengenyam pendidikan di Universitas Bornn, Marx mempelajari juga sejarah sastra (terutama sastra kuno), dan estetika klasik Jerman, selain hukum dan filsafat. Disana secara spesifik Marx mendalami mata kuliah sejarah sastra dan seni-seni modern, bahkan perhatiannya terhadap seni dimanifestasikan kedalam beberapa tulisan sajak maupun puisi. Hal itu cukup membuktikan bahwa persoalan estetis mendapat tempat yang special dalam pemikiran dan kehidupan Marx, sebelum beralih pada pendalamannya akan filsafat-filsafat Hegel. Di mata Marx, keluasan Hegel sebagai seorang filosof berupaya melampaui filsafatnya pada pengetahuan realitas manusia yang tidak terbatas, seperti ilmu, sejarah, agama, politik, maupun seni. Seni bagi Hegel merupakan pengkhususan hasil karya nan agung, karena seni terlahir dari aktifitas jiwa (Geist). Substansi seni dalam perfektif Hegel, sebagaimana yang dituturkan dalam kuliah-kuliahnya di Berlin terdiri dari beberapa rumusan, diantaranya: 1. “Fine Art” usaha dan manifestasi dari manusia untuk membawa keindahan alam raya kedalam ranah budaya, akan tetapi secara jelas seni bukanlah prodak dari alam, 2. Seni adalah buah karya yang proses penciptaanya secara mendasar diperuntukan bagi manusia, melalui pencercapannya objek yang terindra, 3. Seni senantiasa menunjukan suatu tujuan yang mengikatkannya pada manusia, dalam arti kata tidak ada seni untuk seni.

Secara lebih fulgar, Hegel juga menerangkan bahwa seni sebagai karya dari aktifitas manusia bisa dipelajari sekaligus direproduksi sebagai barang imitasi. Lain pada itu, karateristik produksi seni sebagaimana produksi barang lainnya tidak terbatas, oleh karenanya penguasaan cara dan sistem produksi karya seni sangat terbuka dan mekanistik. Disini Hegel menggaris bawahi, bahwa berkarya seni adalah aktifitas artistic dan bukan aktifitas formal yang hanya terdiri atas kaidah dan definisi. Pemaparannya terkait dunia seni, sekurangnya mengantongi dua esensi: 1. Kritik kerasanya pemaknaan seni pada zaman modern (menihilkan seni untuk seni), 2. Penciptaan seni dianalogikan serupa dengan produksi barang lainnya, sehingga seakan-akan Hegel memberikan jalan pada praktik-praktik kapitalisme.

Penghambaan Marx melegitim pemikiran Hegel dalam memahami seni, secara samar-samar terbaca atas kesepemahannya pada dua point di dalam perumusan seni, yakni: A. Seni adalah buah karya yang proses penciptaanya secara mendasar diperuntukan bagi manusia, melalui pencercapannya objek yang terindra, dan B. Seni senantiasa menunjukan suatu tujuan yang mengikatkannya pada manusia, dalam arti kata tidak ada seni untuk seni.

Sementara esensi sekaligus substansi Hegel dalam menganalogikan karya seni serupa dengan produksi barang lainnya, sebagaimana legitimasi akan praktik-praktik kapitalisme, mengejawantahkan kekaguman Marx akan Hegel. Kesamaan pemikiran Marx dan Hegel terkait seni sebagaimana yang sudah penulis uraikan, jelas mencirikan paham materialismenya yang pada gilirannya dijadikan pijakan dalam memberikan kritik tajamnya terhadap paham Hegel (Idealisme). Secara khusus Marx menjelaskan bahwa seni hanya dapat dipelajari secara historis, tetapi sebagaimana semua superstruktur, ia mengandung otonomi yang sangat nisbi. Dengan penuh sarkasme, Marx menjelaskan bahwa seni di dalam dirinya sendiri tidak memiliki kemampuan untuk mengemansipasikan manusia yang bertarung dalam masyarakat kelas.

Namun demikian, disini penulis berkewajiban untuk tetap menuliskan beberapa pembelaan Marx terkait dunia seni. Dengan nada optimism, Marx menjelaskan seni idealnya merupakan citraan-citraan artistic yang justru merepresentasikan moral manusia yang indah melalui wujud integrasi yang menawan. Seni tidak semestinya dikerdilkan dengan refleksi-refleksi penindasan dan ketakutan, perbudakan dan tirani, segala sesuatu yang buruk rupa dan mengerikan, hal ini jelas bertentangan dengan esensi seni dan bentuk pelecehan terhadap seni itu sendiri. Marx menuturkan kesenian baru dimulai ketika suatu langkah umum didasarkan pada kegiatan teoritik, atau ketika objek imajinasinya dalam benak manusia tidak terdistorsi oleh derau kekuatan luar, ketika seniman mediumnya, berbicara dengan bahasa medium itu, sehingga tampil kebenaran yang terdalam (Himsyari Yusuf: 2014).

Setelah memahami beberapa pondasi berfikir Mark, dengan segala upaya-upayanya melampaui ilmu yang tidak terbatas bagi pengetahuan manusia didalam realitas hidupnya. Kini kita manfaatkan bangunan teori-teori itu, sebagai metode sekaligus pisau analisis untuk memahami salahsatu praktik berkesenian di daerah Brebes, Jawa Tengah. Dilihat dari letak wilayahnya yang masuk dalam kategori daerah pesisir pantura, Brebes memiliki beragam ekologi. Sifat keterbukaan dan fleksibelitas masyarakat Brebes pada umumnya, dengan menerima masuknya kebudayaan daerah lain pada gilirannya dapat memperkaya keragamanan jenis seni, adat dan tradisi yang ada. Keluasan ruang kreatifitas dari sejumlah seniman lokal, mengelaborasikan dan membungkus seni-seni yang diadopsinya, dengan seni-seni lokal menjadikan penyajian produk estetis baru yang bersifat orisinil. Bila dianalisa lebih mendalam, karakteristik hasil budaya daerah Brebes seperti: seni, tradisi dan adat masyarakat pada umumnya dipengaruhi oleh budaya Banyumasan, Tegalan dan Cirebonan.

Tidak mengherankan bila kesenian-kesenian daerah Brebes, memiliki bentuk permainan, struktur, serta bentuk penyajiannya yang hampir memiliki kemiripan-kemiripan dengan 3 daerah yang sudah disebutkan diatas. Ada begitu banyak kesenian khas Brebes, baik yang sudah tercatat maupun yang belum tercatat di dinas Kebudayaan daerah setempat seperti: seni Burok (Burokan), Sintren, Lais, Rudat, Tari Topeng Brebes, Tari Sinok, Benta-benti, Tarling, Dogdogkliwon, Jaran lumping, Kunthulan, Genjring Sulap, Barongan, Ronggeng, Wayang golek, Wayang wong, Wayang kulit, Jaipong, Angklung dan Calung. Kesenian-kesenian itu hidup dan berkembang hampir diseluruh kecamatan dan desa di Kabupaten Brebes dengan ciri dan kekhasannya tersendiri. Diantara begitu banyak jenis kesenian yang ada, ada salah satu jenis kesenian yang hanya hidup dan berkembang di Desa Jipang, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, yakni Calung. Sisi unik bagi pribadi penulis khususnya, selain memiliki satu jenis kesenian yang tidak dimiliki desa lain, dialek keseharian warga masyarakat desa Jipang menggunakan bahasa Sunda. Secara teritorial, sebelah Selatan desa Jipang memang berbatasan langsung dengan Kabupaten Banyumas, sementara disebelah Barat berbatasan langsung dengan Jawa Barat. Oleh karenanya tidak mengherankan calung ini menjadi salah satu icon yang sangat pupuler didaerah Brebes Selatan, oleh karena Jipanglah desa tunggal pemilik jenis kesenian bambu tersebut. Calung sebagaimana yang kita kenal dewasa ini, merupakan proportipe dari jenis kesenian angklung yang ada di daerah Jawa Barat, dan Gandalia di daerah Banyumas.

Perbedaan mendasar antara Calung, Angklung dan Gandalia selain dari bentuk (ukuran bilah bambu), susunan tangga nada, juga berbeda sekali dari cara memainkannya. Hal yang sangat substansial diantara perbedaan itu, dapat dilihat dari cara memainkan ketiga instrument tersebut, kalau calung dimainkan dengan cara dipukul menggunakan penakol (pemukul calung), sementara angklung dan gandalia cara memainkannya dengan direg-reg (digoyang-goyangkan). Apabila kita telisik lebih mendalam, eksistensi pertunjukan calung di desa Jipang khususnya, dapat kita simpulkan sebagai perwujudan tranforamasi budaya yang telah mengalami banyak pergeseran-pergeseran. Dahulu kata calung merujuk pada nama suatu instrument bambu, oleh karenanya penyajiannya bersifat instrumental karena dimainkan secara tunggal atau dalam jumlah yang cukup terbatas. Dalam artian ansambel instrument calung, yakni permainan music yang dilakukan secara terbatas dengan menggunakan instrument sejenis. Lain pada itu, cara memainkan instrument juga mengalami pergeseran yang sangat signifikan dimana instrument calung dahulu, dimainkan dengan cara pemain duduk sambil menjulurkan kedua kakinya kedepan (kedua ibu jari pemain) difungsikan untuk mengikatkan kedua ujung tali calung bagian depan, sementara kedua tali calung lainnya diikatkan pada pinggang pemain. Dewasa ini pembuatan calung dibuat dengan pandangan dasar artistic sesuai dengan perkembangan zaman, oleh karenanya calung dibuat dengan sangat sederhana (dapat dijinjing) yang tujuannya memudahkan pemain dalam bergerak.

Secara khusus, eksistensi kesenian calung di desa Jipang mengalami dinamika sejarah yang gradual dan cukup panjang. Eksistensi pertunjukan kesenian calung yang ada dewasa ini, merupakan upaya pelestarian sekaligus representasi suatu kepekaan menjawab tantangan zaman. Keberlangsungan pertunjukan kesenian calung di desa Jipang, tidak terlepas dari kepiawaian serta kreatifitas tangan-tangan dingin para seniman lokal seperti Sujatmono, Rukito, Hendarso, dan Imam Sumatri. Keseriusan, kecintaan dan totalitas mereka dibuktikan, dengan mentransformasikan kesenian calung klasik menjadi suatu jenis seni pertunjukan yang megah dengan nilai-nilai kebaruannya. Pertunjukan calung dewasa ini, tidak hanya terikat pada satu jenis kesenian musik semata, akan tetapi dielaborasikan dengan bentuk kesenian tari serta drama (dialog humor) dari para bodor. Dalam suatu pertunjukan calung biasanya dimainkan oleh 12-25 orang pemain, diantaranya: 1 pemain calung melodi, 3 pemain calung penerus, 1 pemain gong, 1 pemain tamborin, 1 pemain kendang, 1 pemain gitar elektrik, 1 pemain bass elektrik, 1 pemain kybord, 1-2 orang penyanyi, 3 bodor, dan 5 atau lebih penari. Adapun lagu-lagu yang dibawakan untuk mengiringi para penari maupun bodor dalam pertunjukan, terdiri dari dua jenis lagu: lagu calung klasik (Nandhur bawang merah), dan lagu-lagu popular. Lagu-lagu popular biasanya dibawakan untuk mengiringi gerak tari secara khusus, selain menerima reques dari beberapa penonton, sementara untuk lagu klasik dimainkan khusus pada saat mengiringi dialog para bodor saat beraksi. Untuk lebih memberikan legitimasi kepada pembaca, berikut ini penulis lampirkan hasil wawancara beberapa waktu yang lalu dengan sejumlah seniman calung, sebagai berikut:
Kedekatan saya pribadi dengan calung, bisa dibilang paling lama bila dibandingkan dengan teman-teman grup. Karena saya mempelajari calung secara langsung dari Alm. Bapak. Saya melihat bahkan mengalami secara langsung Bapak, membuat instrument calung dan memainkan instrument calung dengan menyanyikan lagu-lagu klasik berbahasa Sunda. Kalau bicara asal muasalnya, proses pembuatan instrument calung sendiri tidak sesederhana seperti pembuatan calung sekarang ini. Mulai dari proses penebangan dan pemilihan bambu sebagai dasar pembuat calung, tidak dapat dilakukan sembarang karena punya waktu-waktu khusus. Proses penebangan dilakukan sesuai waktu-waktu khusus, selain dipercaya dapat memaksimalkan kualitas dari instrument calung itu sendiri, juga berpegang pada mitos-mitos leluhur. Bagi masyarakat desa Jipang pada umumnya, mengenal istilah (pamali), yakni suatu pantangan untuk melalukan aktifitas di hari dan waktu-waktu tertentu. Selain itu bambu yang dipilih memiliki kriteria khusus seperti: struktur batang bambu tipis, bambu yang kering sendiri dipohonnya, dan bambu. tidak terlalu tua. Kualifikasi bambu dilakukan dengan sedetail mungkin, selain memudahkan proses nglaras (penyeteman), juga untuk memaksimalkan suara yang dihasilkannya. Adapun jenis bambu yang paling ideal digunakan sebagai bahan pembuat calung adalah awi wulung (bambu hitam), karena memiliki tampilan yang sangat artistic. Tidak banyak orang yang dapat membuat instrument calung, ditahun 1970an hanya Bapak sementara ditahun 1990an diteruskan sama kang Sujatmono (itu juga dalam versi bentuknya yang sekarang). Dahulu biasanya calung dimainkan di gubug-gubug sawah, dengan alunan khusus lagu-lagu klasik Sundanan. Sepihak saya dapat menyimpulkan, bahwa memainkan instrument calung dahulu kala penuh dengan nilai-nilai spiritualitas, selain dilakukan dengan penuh keikhlasan, juga dimaksudkan sebagai ungkapan syukur akan hasil-hasil pertanian. (Bapak Hendarso, sesepuh dan seniman calung).

Asal-usul keberadaan calung di desa Jipang sebenarnya berasal dari Banten, konon kabarnya pada massa penjajahan Belanda, desa Jipang dijadikan sebagai tempat pengasingan orang-orang Banten dan sekitarnya. Ada mitos dari masyarkat Jipang yang mengatakan bahwa Jipang merupakan tempat keramat, sehingga aman untuk berlindung dari serangan penjajah. Salah satu alasannya, karena di desa Jipang terdapat petilasan Arya Penangsang yang konon memiliki kesaktian, sehingga dipercaya warga dapat melindungi warga dari bahaya. Dari masyarakat Banten itulah calung diperkenalkan, sampai ahirnya calung tumbuh dan berkembang di desa Jipang ini. Keseriusan warga masyarakat Jipang sendiri terkait dengan kesenian calung, sebenarnya dimulai pada tahun 1985 dengan mendirikan grup calung “Samanaya” sebelum ahirnya ditahun 1990 diganti nama menjadi “Gebyar Binangkit” sampai sekarang (sebuah nama yang dihadiahkan dari sesepuh desa Jipang yang bernama Murtinah). (Bapak Rukito, Ketua sanggar Gebyar Binangkit).

Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lampirkan, sekiranya sudah sangat jelas menunjukan adanya pergeseran-pergeseran bentuk instrument calung dikaji dari sisi sejarah eksistensi dan perkembangannya. Selain adanya perubahan bentuk instrumen, pergeseran-pergeseran lain yang sangat signifikan pada kesenian calung dahulu dan sekarang di Jipang, terletak pada pemfungsian dan bentuk penyajiannya. Permainan calung dahulu identic dengan kepuasan seorang seniman yang merefleksikan ekpresi estetis. Nilai-nilai calung dahulu tidak terletak pada sisi hiburan semata, akan tetapi lebih ditekankan pada ekplorasi budaya yang syarat dengan nuansa kesakralan. Pertunjukan calung merefleksikan suatu bentuk kesederhanaan (masyarakat pertanian), ketaatan terhadap nilai-nilai tradisi yang adiluhung, serta ungkapan syukur akan hasil pertanian yang berlimpah ruah. Calung menjadi media interaksi social warga masyarakat, selain sebagai bentuk identitas budaya yang melekat. Sehingga eksistensi calung ketika itu, dapat dikatakan jauh dari muatan-muatan komersialisme sebagaimana eksistensinya dewasa ini.

Dilain sisi, perestroika para seniman lokal dalam mentranformasikan bentuk pertunjukan calung sebagai upaya melestarikan budaya sudah sepantasnya mendapatkan apresiasi setinggi-tinginya. Secara unilateral penulis berkeyakinan, bahwa keluhuran dunia seni tercermin dari adanya kreatifitas dan apresiasi dari para pelakunya. Keduanya penting, sebagai bentuk cerminan keluhuran antroposentris, selain meneguhkan tingginya peradaban suatu bangsa. Oleh karenanya kita harus melihat, hasil kreatifitas para seniman pada gilirannya membawa kesenian calung tetap eksis, ditengah hiruk pikuk ketatnya persaingan kesenian-kesenian modern yang kian membumi. Orang-orang besar ini turut membawa dan menempatkan kesenian calung sejajar dengan kesenian lain, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi ditingkat nasional bahkan internasional. Terbukti eksistensi kesenian calung dewasa ini, tidak hanya tampil diacara adat seperti sedekah bumi, khitanan, pernikahan, hiburan di panggung politik, bahkan kerap tampil diacara nasional. Kebanggaan lain dari tahun 2007, calung di daulat menjadi salah satu wakil kesenian Kabupaten Brebes pada tingkat nasional, yang diadakan di TMII Jakarta, Bali, Solo dan Yogyakarta. Atas kerja keras para seniman besar ini, praktis kita sebagai generasi penerus masih bisa melihat, menyaksikan, bahkan merasa bangga bahwa kesenian calung, sebagai salah satu warisan kesenian yang adiluhung tetap menjadi identitas yang melekat bagi masyarakat Brebes pada umumnya. Lain pada itu, eksistensi kesenian calung di desa Jipang memberikan dampak-dampak yang positif bagi para seniman dan orang-orang yang berkecimpung didalamnya. Sedikit banyak kiprah “Gebyar Binangkit” sebagai sebuah grup kesenian calung, turut andil membantu perekonomian para seniman akibat padatnya padatnya tanggapan untuk pentas atau manggung.

Oleh karenanya, eksistensi kesenian calung bisa dikatakan bersifat komersil, karena terbukti membantu perekonomian warga masyarakat sekitar, khususnya para seniman-seniman terkait. Dengan kata lain, eksistensi kesenian calung berkontribusi pada taraf perbaikan ekonomi baik ditingkat Desa, Kecamatan, bahkan Kabupaten. Secara keseluruhan keberadaan “Gebyar Binangkit” di desa Jipang, memberikan dampak sekaligus kontribusi yang positif bagi warga masyarakat Kabupaten Brebes pada umumnya.

Dengan melihat pemaparan diatas, sebagimana objek penulisan: “Calung di Desa Jipang” dan mengkorelasikannya dengan pemikiran-pemikiran Marx sebagai suatu metode segaligus pisau analisisnya, maka dapat disimpulkan: 1. Metode pemikiran Marx lebih difocuskan pada nilai-nilai pemfungsian eksistensi kesenian calung itu sendiri (adanya pergeseran orientasi dari makna dan subsatnsi kesenian calung ke praktis pemfungsiannya), 2. Pendasaran perubahan kepuasan ekspresi estetis (kepuasan personal), hiburan yang berimplikasi pada (interaksi social warga) identitas budaya dalam skala mikro, dan nilai kesakralan menjadi ekspresi bentuk pertunjukan yang diorientasikan pada padatnya tanggapan, 3. Eksistensi kesenian calung dilihat dari aspek praktisny, yakni komoditi seni yang bersifat komersil. Ketiga kesimpulan diatas dengan segera dapat penulis garis bawahi, bahwa secara kasar perpektif atas pemikiran Marx, berada pada wilayah posisi ketiga. Artinya, pendasaran Marx hanya berkapasitas sebagai pengamat seni yang berpegang pada bangunan pemikiran-pemikiran teorinya, diluar kedua subjek seni (subjek “seniman” dan subjek “penanggap dan penikmat atau penonton).

Perlu diingat, bahwa menilai Marx yang mengedepankan praktek didalam gagasan pemikirannya, jangan dimaknai secara fatalistic, sinisme bahkan fasis. Karena ditengah kritiknya, Marx tetap membela wilayah-wilayah berkesenian sebagaimana pengagungannya atas seni-seni luhur yang ideal menurutnya. Marx disatu sisi tetap memberikan penilaian yang netral atas seni, dengan menempatkan diri sebagai pemilik, pendukung dan penikmat yang sejati. Seni yang luhur menurutnya adalah manifestasi citraan artistic yang merefleksikan kebaikan dan keindahan moral manusia, oleh karenanya suatu keabsuran yang fatah dengan dikerdilkannya seni sebagai penggambaran-penggambaran eksploitasi, penindasan, perbudakan dan alienasi manusia.

Praktik berkesenian seyogyanya memerdekakan manusia dari adanya nuansa kapitalisme dan kelas-kelas social yang membelenggu. Dengan nada penuh pembelaan, Marx menuturkan kesenian baru dimulai ketika suatu langkah umum didasarkan pada kegiatan teoritik, atau ketika objek imajinasinya dalam benak manusia tidak terdistorsi oleh derau kekuatan luar, ketika seniman dan mediumnya berbicara dengan bahasa medium itu, sehingga tampil kebenaran yang terdalam. Penulis sepakat, bahwa objek seni semestinya mengandung pesan-pesan moral yang dapat dikomunikasikan secara lebih mendalam antara penyaji dan penonton seni. Objek seni sudah seharusnya dijadikan media kritis para seniman, pemerhati dan penikmat seni dalam merefleksikan realitas atas kondisi-kondisi yang timpang. Praktik-praktik berkesenian pada gilirannya harus didorong pada kepekaan rasa, melek situasi dan kondisi yang dialami oleh masyarakat kita dewasa ini.(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts