Pelatihan dan Pendampingan Dalam Meningkatkan Pemasaran Kemplang Panggang di Kelurahan Pipa Reja Kota Palembang

Kamis, 27 September 2018
Lokasi Penjualan Kemplang Panggang Panggang yang terkenal di sepanjang Jalan Pipa, Kelurahan Pipa Reja, Palembang.

Politeknik Negeri Sriwijaya

Jurusan Administrasi Bisnis

Read More

 

Yusleli Herawati, SE, MM

Yahya, SE, MM

Abdul Hamid, SE, MSi

 

Sebenarnya berbagai program pembinaan dan pemberdayaan terhadap pelaku UMK sudah banyak dilakukan baik oleh pemerintah pusat dan daerah maupun pihak swasta dan perguruan tinggi.

Namun pembinaan dan pemberdayaan tersebut belum memadai dan belum sesuai dengan kebutuhan atau permasalahan yang dihadapi pelaku UMK.

Hal ini disebabkan oleh pembinaan dan pemberdayaan yang dilakukan oleh berbagai instansi masih bersifat tumpang tindih dan dilakukan sendiri-sendiri tanpa terkoordinasi dengan baik.

Pelaku UMK terkesan hanya sebagai obyek dan diperlakukan secara terkotak-kotak, sedangkan institusi Pembina hanya mementingkan dan mengejar target dan sasarannya masing-masing.

 

Kegiatan pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh tim pelaksana.

 

Program pembinaan dan pemberdayaan telah banyak dilakukan baik oleh pemerintah pusat dan daerah maupun pihak swasta dan perguruan tinggi, kenyataan di lapangan masih banyak pelaku UMK yang belum sempat tersentuh program pembinaan dan pemberdayaan serupa.

Hal ini disebabkan masih ada pelaku UMK yang tidak terdata pada Dinas Koperasi dan UKM. Salah satunya adalah usaha mikro yang ada di sepanjang jalan Pipa Kecamatan Pipa Reja yaitu Usaha Wanita Pengrajin Kemplang Panggang di Jalan Pipa Kecamatan Pipa Reja Kecamatan Kemuning Palembang.

Usaha mikro ini telah ada sejak lama di Jalan Pipa, lokasi yang strategis, dan cukup terkenal sebagai pusat penjualan kemplang panggang serta terdapat banyak pengusaha kemplang panggang di kiri dan kanan sepanjang Jalan Pipa tersebut dengan kondisi lalu lintasnya yang ramai. Calon pembeli yang ingin membeli kemplang panggang khas ini cukup datang ke Jalan Pipa.

Semua pengrajin kemplang panggang di sepanjang kanan dan kiri Jalan  Pipa adalah wanita. Usaha wanita pengrajin kemplang panggang di Kelurahan Pipa Reja, Palembang merupakan usaha wanita yang memproduksi dan menjual kemplang panggang dalam skala mikro.

Mitra yang akan dijadikan sasaran pembinaan adalah Usaha Kemplang Panggang Leli (Mitra I) dan Usaha Kemplang Panggang Sawiyah (Mitra II). Kedua mitra sudah memulai usahanya sejak tahun 2011.

Bahan baku kemplang panggang adalah Ikan Tenggiri (Tenggiri Papan, Tenggiri, atau Gabus) dan udang. Ikan dan udang yang digunakan dalam pembuatan kemplang panggang hanya sedikit, bahan lainnya adalah sagu, garam dan telur.

Jadi jenis ikan yang digunakan  dan semakin banyak ikan yang digunakan dalam adonan kemplang dan dapat mempengaruhi harga jual kemplang panggang tersebut.

Kegiatan pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh tim pelaksana.

 

Jumlah pekerja dalam usaha mikro ini tidak ada, produksi selain mitra dibantu oleh anggota keluarga. Untuk produksi kemplang panggang biasa dari tenggiri papan membutuhkan modal rata-rata sebesar Rp160 ribu sekali produksi per hari, dapat diproduksi berkisar 25-30 kantung kemplang panggang (isi 20 keping).

Sehingga dalam sebulan diproduksi rata-rata 120 kg bahan baku yang akan menghasilkan 900 kantong kemplang panggang (isi 20 keping) siap jual.

Harga jual per kantung kemplang panggang (sekantung isi 20 keping) berkisar Rp15.000–Rp25.000 tergantung  jenis kemplang panggang (ikan atau dari udang, dengan keuntungan rata-rata Rp290 ribu ketika musim sepi dan keuntungan sampai Rp750 ribu (terjual 50 kantung) dalam sehari jika ramai terutama saat menjelang lebaran dan tahun baru.

 

  Harga Kemplang Panggang

No.Jenis Kemplang PanggangHarga Jual Kantung per kantong (isi 20 keping)
1Kemplang panggang udang Rp  25.000
2Kemplang panggang udang super Rp  40.000
3Kemplang panggang biasa (Tenggiri papan) Rp  15.000
4Kemplang panggang super (Tenggiri/Gabus) Rp  20.000

Sumber: Hasil wawancara lapangan

 

Dalam menjalankan aktivitasnya kedua mitra mengalami permasalahan yang sama. Berdasarkan hasil kunjungan lapangan, wawancara, dan pengamatan terhadap Usaha Wanita Pengrajin Kemplang Panggang di sepanjang Jalan Pipa, Kecamatan Pipa Reja, Kelurahan Kemuning, Palembang, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan yakni:

  1. Produksi kemplang panggang tidak menentu disebabkan ketergantungan pada kondisi musim atau keadaan cuaca. Jika kondisi panas maka proses pengeringan kemplang dapat lebih cepat. Saat ini produksi berfluktuasi antara 25-30 kantung (isi 20 keping) per hari.
  2. Produksi dan penjualan dilakukan di pinggir jalan, sehingga higienitas hasil produksi kemplang panggang relatif rendah. Kemplang panggang siap jual hanya dijajakan dalam kantung-kantung plastik dan selama pemanggangan, kemplang yang telah selesai di panggang dibiarkan terbuka.
  3. Belum memiliki kantung plastik berlogo dan hanya menggunakan kantong plastik yang tidak ada identitas usaha.
  4. Tidak memiliki merek (brand) atau identitas, sehingga pelanggan sulit mengenali nama dan pemilik usaha. Dengan kata lain belum ada aktivitas promosi sama sekali.
  5. Tungku pemanggangan kemplang masih sangat sederhana, sehingga kualitas dan tampilan kemplang panggang relatif kurang baik. Kemplang panggang terlihat bintik bintik hitam bekas arang dan kurang menarik.
  6. Cabai kemplang panggang hanya dibungkus kantung plastik biasa, tidak higienis, dan dengan kualitas yang belum baik.
  7. Hanya mengandalkan modal sendiri dan terbatasnya modal kerja, sehingga produksi belum optimal. Belum adanya kerjasama (sinergi) antar-sesama pengrajin kemplang panggang di area Jalan Pipa baik dalam pemasaran maupun penggalangan modal kerja.
  8. Belum adanya pembukuan usaha yang dilakukan oleh mitra.

 

Logo merek mitra yang tertera di kantung pembungkus kemplang panggang.

 

Pelaksanaan kegiatan PKM ini dilakukan dengan metode partisipatif dimana mitra sasaran ikut terlibat langsung baik dalam FGD (Focus Group Discussion), wawancara, dan menentukan keputusan tindakan. Kegiatan PKM terdiri dari 4 tahapan sebagai berikut :

  1. Tahap Persiapan dan Perencanaan

Pada tahap ini tim pelaksana melakukan beberapa persiapan dan perencanaan antara lain :

  • Sosialisasi Kegiatan PKM (Pemaparan oleh Tim Pelaksana dan FGD dengan Mitra I dan Mitra II). Pada tahap ini akan dijelaskan maksud dan tujuan, metode dan teknis pelaksanaan PKM, serta akan disepakati permasalahan yang menjadi prioritas untuk dicarikan solusinya.
  • Penyusunan Program Kegiatan (FGD dengan Mitra I dan Mitra II) Menentukan bentuk, waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan. Program kegiatan terdiri dari pelatihan pemasaran dan promosi usaha, pelatihan tentang permodalan usaha dan pembuatan proposal, pelatihan pembentukan paguyuban, pelatihan pembukuan usaha, dan pembuatan alat pemajangan produk (etalase), tungku pemanggangan, dan pembotolan cabai kemplang panggang. Dalam hal ini perlu didisain sedemikian rupa sehingga pemanggangan dapat efektif namun hasilnya lebih baik.
  1. Tahap Implementasi Kegiatan

Pada tahap ini Tim pelaksana akan memulai kegiatan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan dan disepakati bersama dengan mitra.

  1. Tahap Evaluasi dan Monitoring

Pada tahap ini pelaksanaan kegiatan di-monitoring oleh tim sendiri dan melihat apa saja kendala dan masalah yang muncul di lapangan. Kemudian dilakukan evaluasi apabila memang muncul kendala dan masalah untuk selanjutnya dicarikan solusi agar kegiatan tetap berlangsung dengan baik sesuai yang diharapkan.

  1. Tahap Refleksi

Setelah semua kegiatan terlaksana sesuai jadwal, maka dilakukan refleksi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut, dimana mitra dapat mengungkapkan manfaat maupun dampak yang muncul setelah dilakukan pelatihan dan pembinaan. Hal ini diperlukan sebagai masukan bagi pelaksanaan kegiatan serupa di masa datang.

Pengusul dan kedua mitra, masing-masing memiliki peran penting dalam kesuksesan kegiatan PKM ini. Pengusul berperan dalam menyediakan hal-hal yang berkaitan dengan fasilitas teknologi, seperti: alat pengering kemplang, tempat pemajangan (etalase) berbentuk gerobak yang tertutup kaca, tungku pemanggangan, desain kartu nama, dan desain kantong plastik berlogo.

Sedangkan mitra berperan aktif dalam memberikan masukkan mengenai penyusunan program kegiatan, pembuatan jadwal kegiatan, desain kemasan yang diinginkan, dan kegiatan-kegiatan FGD.

Berikut ini adalah beberapa hasil kegiatan pelatihan dan pendampingan yang dilakukan pada mitra I dan mitra II.

Setelah kegiatan pelatihan Pemasaran dan Promosi Online, selanjutnya diadakan Pelatihan dan pendampingan manajemen Permodalan Usaha, Pelatihan dan pendampingan Pembuatan Proposal Kedit, Pelatihan pembentukan paguyuban untuk kedua mitra.

Fungsi paguyuban atau komunitas ini adalah  menjaga harga pasaran kemplang panggang di lokasi Jalan Pipa Reja, menjadi wadah penyaluran aspirasi bersama, membantu mengatasi jika ada masalah/kendala usaha, dan kegiatan positif lainnya. Pelatihan dan pendampingan selanjutnya adalah pembukuan usaha untuk kedua mitra.

Tahap selanjutnya adalah monitoring dan evaluasi, pelaksanaan kegiatan di-monitoring oleh tim sendiri dan melihat apa saja kendala dan masalah yang muncul di lapangan.

Kemudian dilakukan evaluasi apabila memang muncul kendala dan masalah untuk selanjutnya dicarikan solusi agar kegiatan tetap berlangsung dengan baik sesuai yang diharapkan.

Setelah semua kegiatan terlaksana sesuai jadwal, maka dilakukan refleksi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut, dimana mitra dapat mengungkapkan manfaat maupun dampak yang muncul setelah dilakukan pelatihan dan pembinaan.

Hal ini diperlukan sebagai masukan bagi pelaksanaan kegiatan serupa di masa datang. Tahap refleksi ini dinyatakan dalam bentuk pemetaan melalui analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) pada mitra I dan mitra II.

Hasil SWOT ini dihubungkan juga dengan hasil kuesioner yang diberikan kepada pelaku/pemilik usaha.

Hasil dari kegiatan pelatihan dan pendampingan yang dilakukan selama 8 bulan didapatkan berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan kepada pihak mitra tersebut adalah terjadi peningkatan daya saing usaha pada mitra I dan mitra II dengan capaian sebesar 70%.

Tempat usaha masing-masing mitra terlihat telah lebih baik dengan  tungku pemanggangan yang lebih baik dan rapi, tersedia etalase kaca sebagai tempat penyimpanan dan pajangan kemplang panggang yang akan dijual sehingga terhindar dari debu dan kotoran, cabai kemplang lebih higienis karena telah dilakukan pembotolan, serta bungkus kemplang yang telah tersedia merek usaha serta terbentuk paguyuban/komunitas sesama pengrajin kemplang panggang yang berlokasi di Jalan Pipa Reja.

Di samping itu, terjadi peningkatan penerapan Iptek, di mana pengetahuan dan skill pelaku usaha (mitra I dan mitra II) telah lebih baik karena telah memiliki kemampuan pemasaran secara online dengan memanfaatkan sosial media yang ada khusus facebook dan WhatsApp.

Begitu pula halnya dengan kemampuan penyajian laporan keuangan usaha telah lebih baik dari sebelumnya.  Peningkatan kemampuan manajemen usaha mitra I dan mitra II dengan capaian sebesar 65%.

Hal ini ditunjukkan melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan masing-masing mitra dalam pengelolaan manajemen usaha dan kemampuan membuat proposal pengajuan kredit bank. (**)

 

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts