Palembang, Sumselupdate.com — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus mencari cara untuk mengoptimalkan lahan rawa sebagai sumber produksi pangan. Salah satu inovasi yang kini dikembangkan adalah Padi Apung, yakni budidaya padi menggunakan media tanam yang dapat mengapung di atas permukaan air.
Program tersebut dikembangkan sebagai alternatif pemanfaatan lahan rawa lebak yang selama ini memiliki potensi besar untuk mendukung sektor pertanian. Selain menghasilkan pangan, pemanfaatan lahan rawa juga diharapkan menjadi bagian dari upaya menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Selatan Bambang Pramono mengatakan, optimalisasi lahan pertanian tidak hanya dilakukan melalui pencetakan sawah baru. Inovasi pertanian di lahan tergenang juga menjadi perhatian pemerintah daerah.
“Selain pencetakan sawah konvensional, saat ini Dinas Pertanian juga mengembangkan inovasi pertanian di atas air lewat Padi Apung,” kata Bambang.
Menurut dia, pengembangan Padi Apung telah berlangsung selama dua tahun dengan dukungan Bank Indonesia. Salah satu bentuk dukungan tersebut berupa penyediaan media tanam apung yang kini telah diterima dan dikembangkan di kawasan potensial Jakabaring.
Pengembangan di kawasan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pola pertanian yang menyesuaikan dengan karakteristik lahan rawa. Dengan menggunakan media tanam apung, lahan yang tergenang tetap dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya tanaman pangan.
Bambang mengatakan, pengembangan Padi Apung juga menjadi salah satu program yang diperkenalkan dalam kegiatan gebyar perbenihan pada September 2025. Kegiatan itu melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang berkaitan dengan sektor pertanian.
“Pada September 2025 kita melakukan gebyar perbenihan dengan mengundang seluruh stakeholder terkait dan program yang kita tonjolkan adalah Padi Apung,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan rawa lebak menjadi penting karena karakteristik lahan tersebut memungkinkan tetap produktif pada kondisi tertentu ketika lahan pertanian lainnya menghadapi persoalan kekeringan.
Terlebih, fenomena El Nino dapat meningkatkan risiko kekeringan pada lahan pertanian. Dalam kondisi tersebut, rawa lebak dapat menjadi salah satu alternatif sumber lahan produktif untuk menjaga kesinambungan produksi pangan.
Optimalisasi rawa juga memiliki manfaat lain. Pemanfaatan lahan secara produktif diharapkan dapat mengurangi potensi lahan terbengkalai yang berisiko terdampak kebakaran, sekaligus meningkatkan produksi pertanian.
Rawa lebak sendiri merupakan dataran rendah berbentuk cekungan di wilayah pedalaman yang secara periodik mengalami genangan air, setidaknya selama satu bulan dalam setahun.
Potensi tersebut menjadi modal penting bagi Sumatera Selatan dalam memperkuat ketahanan pangan. Saat ini, lebih dari 73 persen lahan dari keseluruhan area produktif tanam di Sumsel merupakan lahan rawa.
Dengan potensi yang besar itu, pemerintah daerah mendorong pemanfaatan rawa tidak hanya melalui pencetakan sawah, tetapi juga melalui inovasi seperti Padi Apung. Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas pemanfaatan lahan sekaligus menjaga produktivitas pertanian di tengah perubahan kondisi iklim. (Iya)







