Nuzulul Qur’an Kurikulum Bagi Manusia Indonesia Untuk Jaga Moralitas

Kamis, 13 April 2023

Laporan: Miduk

Jakarta, Sumselupdate. com-Peringatan Nuzulul Qur’an bisa menjadi kurikulum diri bagi setiap manusia Indonesia untuk menjaga moralitas di dalam kehidupan sehari-hari, baik pada tataran keluarga, masyarakat maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Read More

Sebab, saat Nuzulul Qur’an ini, Al Qur’an yang menjadi pedoman hidup manusia untuk melakukan hal-hal positif dalam perjalanan hidup diturunkan.

“Cara mengaktualisasikan nilai-nilai Al-Qur’an, adalah menjadikan peringatan Nuzulul Qu’ran semacam kurikulum diri kita, supaya Al-Qur’an menjadi sumber inspirasi setiap manusia,” kata KH Musyafa Ahmad Rahim, Ketua Bidang Kaderisasi DPN Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia saat memberikan pengantar Gelora Talks bertajuk “Nuzulul Qur’an dan Aktualisasi Nilai-nilai Al-Qur’an”, Rabu (12/4/2023).

Menurut KH Musyafa, Al-Qur’an telah mengajarkan kepada manusia agar selalu ingat melakukan hal-hal positif dalam kehidupan sehari-hari.

Dewan Pembina MUI Jakarta Utara KH Nur Alam Bakhtir mengapresiasi langkah Partai Gelora menggelar diskusi tentang nilai-nilai aktualisasi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Diskusi semacam ini, harusnya dilakukan semua partai, apalagi partai yang mengatasnamakan Islam. Sebab, banyak yang tidak sesuai dengan aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an,” kata KH Nur Alam.

Dikatakan, Al Qur’an telah mengajarkan manusia mengenai integritas dan kejujuran. Sehingga moralitas setiap manusia, apakah baik atau tidak, tidak bisa dilihat berdasar pakaian yang dikenakan seperti jubah atau jilbab.

“Jubah dan jilbab hanya pakaian biasa yang disebut dengan budaya seperti pakaian di budaya kita. Tidak ada gunanya pakai jubah atau jilbab, kalau tidak memiliki integritas atau kejujuran,” katanya.

Karena itu, lanjut dia, maraknya kasus korupsi di tanah air, menjadi suatu kewajaran, karena pejabatnya tidak memiliki integritas dan kejujuran, bahkan aparat yang seharusnya menjadi penegak keadilan justru ikut terlibat.

“Makanya koruptor kalau ditangkap KPK berterima kasih, bukannya bersedih karena KPK menghapuskan dosa-dosa mereka,” tegasnya.

KH Nur Alam berharap agar diskusi mengenai aktualisasi nilai-nilai Al Qur’an terus digelar untuk mengingatkan politisi, pejabat dan aparat penegak hukum untuk meningkatkan level moralitasnya.

“Saya mengharapkan tradisi membedah Al-Qur’an terus dilakukan. Undang pakar-pakar yang berbeda, kalau perlu Partai Gelora bikin diskusinya setiap hari untuk mengingatkan kita semua,” katanya.

Founder Al Fahmu Institute KH Fahmi Salim menambahkan, masih banyak pihak yang hanya mengambil keuntungan materi dari nilai-nilai Islam dan Al-Qur’an, tapi tidak menerapkan sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-sehari .

“Tetapi ketika bicara tentang penegakan hukum tentang pemberantasan korupsi nilai-nilai Islam dan nilai-nilai Al-Qur’an ditinggalkan. Inilah problem kita, Islam dan Al-Qur’an baru simbol saja, sebatas ritual, retorika, label atau pemanis di bibir saja,” kata KH Fahmi .

Namun, ia mengaku akan terus berusaha menyakinkan agar semua pihak, terutama pejabat meningkatkan kejujuran, integritas dan moralitas agar menjadi pemimpin yang amanah.

“Kalau umat sendiri pada dasarnya memiliki fitrah yang baik, sehingga kita tidak perlu menciptakan kotak-kotak atau kultus kepada individu, termasuk upaya membenturkan nilai-nilai Pancasila dengan Al-Qur’an,” ujarnya.

Padahal Pancasila itu, katanya, hasil ijtihad para pendiri bangsa yang mengambil intisari dari nilai-nilai Al-Qur’an. Sehingga antara Pancasila dan Al-Qur’an sama atau satu hakekat. (**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts