Palembang, Sumselupdate.com – Banyaknya lulusan sarjana di Indonesia yang berprofesi tak sesuai dengan bidang keilmuan atau bahkan bekerja dengan standar pendidikan di bawah kemampuan pendidikannya dianggap sebagai hasil dari proses Seleksi Masuk Perguruan Tinggi (SMPT) yang tidak tepat.
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir mengungkapkan, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi harus didasari atas pemilihan program studi yang sesuai dengan minat peserta didik. Kuliah tanpa landasan minat dan kompetensi akan menyebabkan hasil yang kontraproduktif saat akan memasuki dunia kerja.
Salah satu bukti nyata yang terjadi saat ini adalah tidak sedikit lulusan sarjana yang kemudian bekerja sebagai tukang ojek atau sopir taksi online. Terkait hal itu, Nasir mengatakan, sistem penerimaan mahasiswa baru saat ini telah disempurnakan dengan penerapan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk memastikan mahasiswa kuliah sesuai dengan minat dan kompetensinya.
“Sistem penerimaan mahasiswa baru sekarang menggunakan UTBK, maka calon mahasiswa yang akan masuk perguruan tinggi harus sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kalau tidak, akan menjadi masalah dalam menghadapi pasar (kerja-red) kedepan,” ujar Nasir usai menghadiri kegiatan Simposium Nasional Akuntansi Vokasi (SNAV) VIII IAI di Palembang, Selasa (18/6/2019).
Nasir mengakui fenomena ijazah sarjana yang tidak sesuai dengan bidang kerja masih terjadi saat ini. Meskipun menurutnya tingkat perguruan untuk lulusan Perguruan Tinggi baik politeknik maupun akademik mengalami penurunan, namun tingkat penurunannya dianggap relatif belum signifikan.
“Dari data BPS, dari 2018 ke 2019 mengalami penurunan tapi bagi saya kurang signifikan, harusnya mampu 100 persen terserap oleh industri. Maka pendidikan tinggi harus berkolaborasi dengan industri,” tukasnya.
Disisi lain, Nasir juga mendorong perguruan tinggi untuk melakukan perubahan dalam menghadapi perubahan zaman yang semakin dinamis. Perguruan tinggi diharapkan dapat mempersiapkan menghadapi era 4.0 agar tidak tertinggal.
Nasir mengungkapkan, pihaknya telah menyampaikan kepada seluruh direktur politeknik dan ketua program vokasi di seluruh Indonesia untuk menyesuaikan kurikulum menuju ke arah yang lebih baik guna menghadapi masa depan era digital. (adi)











