Melihat Peluang Bambang Gondrong, Mencoba Budidaya Anggur di Tanah Besemah  

Sabtu, 26 September 2020
Bambang Susilo yang lebih dikenal dengan sapaan Bambang Gondrong menunjukkan tanaman anggur yang dibudidayakannya di rumahnya, Sabtu (26/9/2020).

Laporan: Novrico Saputra

Pagaralam, Sumselupdate.com – Belum banyak masyarakat yang menekuni budidaya Vitis Binivera atau tanaman anggur di Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Read More

Tanaman perdu merambat ini dianggap masih tanaman yang sulit tumbuh dan berkembang di Tanah Besemah.

Namun tidak untuk Bambang Susilo. Pria yang lebih dikenal dengan sapaan Bambang Gondrong itu sudah menekuni budidaya anggur sejak dua tahun silam.

Saat memasuki rumahnya yang berlokasi di Jalan MTS Guffi,Gang Cendana, Kecamatan Pagaralam Utara, Kota Pagaralam, tamu yang datang disambut dengan pohon anggur.

Rumahnya pun cukup asri karena selain anggur yang menghiasi, rumah Bambang Gondrong juga dihiasi dengan berbagai tanaman hias.

Di lahan belakang dan samping rumahnya yang cukup luas,  Bambang Gondrong menanam puluhan anggur yang sudah siap produksi. Bahkan ia juga melakukan pembibitan yang siap dipasarkan.

Baginya, membudidayakan tanaman asal Armenia yang kemudian dikembangkan hingga ke Timur Tengah sejak 4.000 tahun sebelum masehi (SM) adalah sesuatu yang unik.

Dalam komunitas budidaya anggur, menurut Bambang,  di Kota Pagaralam baru ada beberapa orang yang menekuni budidaya anggur.

Puluhan polibag yang berisikan bibit anggur milik Bambang Gondrong.

“Saya pilih budidaya anggur karena belum banyak yang menekuni tanaman anggur. Di Kota Pagaralam saja baru beberapa orang, termasuk saya. Tantangan membudidayakan anggur ini banyak, karena ini bukan tanaman lokal. Kalau berbuah amazing,” kata Bambang Gondrong kepada Sumselupdate.com di lokasi pembibitan, Sabtu (26/9/2020).

Banyaknya peminat pada buah yang satu ini membuat anggur dijual dengan harga yang cukup mahal. Oleh karena itu, banyak petani yang tertarik untuk membudidayakan anggur karena peluang bisnis yang cukup menjanjikan.

Banyak petani yang mencoba untuk menanam tanaman ini, akan tetapi hanya sebagian kecil saja yang sukses. Hal itu disebabkan minimnya pengetahuan tentang budidaya anggur.

Saat ini, Bambang Gondrong memiliki puluhan varietas anggur impor. Seperti isabela, yelow belgi, transfiduration, ninel, jupiter, livia, aps, MF, banana, dan jenis lainnya.

Semua jenis itu, kata lelaki berambut gondrong ini, , sudah bisa berbuah. Namun sayangnya, meski ia telah membudidayakan dan memperbanyak bibit, tanaman anggur di Kota Pagaralam belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

Sehingga, tanaman anggur yang sudah berbuah hanya dijadikan sebagai konsumsi pribadi.

“Saat ini saya masih jual bibitnya saja. Kalau tanaman anggur ini sudah berbuah, paling cuma konsumsi pribadi. Siapa yang pesan saja,” ujarnya.

Sekali panen, kata dia, satu demplon (bronjong) anggur beratnya bisa mencapai 1,5 kilogram (kg). Dan, dalam satu pohon, bisa menghasilkan buah anggur hingga puluhan demplon anggur.

Namun, lanjut Bambang, yang lebih laris manis di pasar adalah bibit anggur. Satu polibag bibit anggur ia jual seharga Rp150 ribu.

Ternyata, bisnis bibit anggur juga lebih menjanjikan karena banyak peminatnya berasal dari individu. Tanaman ini ternyata juga dijadikan sebagai tanaman hias di perkarangan rumah.

“Pembeli biasanya untuk menghiasi perkarangan rumah mereka. Karena tanaman ini merambat, jadi untuk memunculkan kesan rindang, teduh, adem di rumah,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, tanaman anggur jika ditanam dengan cara yang benar, ditambah dengan pengaruh cuaca yang mendukung, maka akan berbuah dengan maksimal.

Meskipun, katanya, banyak orang yang menanam anggur selalu dengan rasa yang asam, bahkan jarang berbuah.

“Kalau curah hujan tinggi, angin kencang, rontoklah bunga. Tanaman ini sulit berbuah. Kurang nutrisi juga membuat tanaman nggak mau berbuah. Kalau tanaman anggur lokal, buah kecil-kecil dan rasanya masam. Berbeda dengan anggur impor. Tanaman anggur saya dari luar negeri seperti Australia dan Belgia. Buahnya besar-besar, warna ungu tua hampir kehitam-hitaman ada juga yang berwarna hijau, rasanya manis, dan rasa asamnya sedikit,” terangnya. (**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts