Korban Bom Bunuh Diri di Irak Bertambah Jadi 250 Orang Tewas, Mendagri Mundur

Foto: Sabah Arar/AFP

Baghdad, Sumselupdate.com  –Angka kematian akibat bom bunuh diri di pusat perbelanjaan di Baghdad, Irak sebelum perayaan Idul Fitri, 3 Juli lalu mencapai 250 jiwa. Ujar Menter Kesehatan Irak, Rabu (6/7).

Serangan tersebut menjadi insiden bom paling mematikan di Baghdad sejak invasi Amerika ke sana di tahun 2003.

ISIS sudah mengklaim bertanggung jawab atas bom di area komersial yang di distrik Karada. ISIS mengaku target bom adalah kaum Muslim Syiah yang sedang berbuka puasa, dikutip dari Reuters.

Dilansir AFP, Menteri Kesehatan Irak Adila Hamoud mengatakan, sejauh ini ada 250 orang yang tewas. Tes DNA diperlukan untuk mengidentifikasi setengah dari jenazah tersebut.

“Diperlukan pengujian DNA dan pencocokan dengan keluarga korban,” kata Hamoud. Menyurutnya sebagian besar jenazah hancur karena terbakar api akibat bom bunuh diri.

Hamoud tidak menyebut berapa banyak jenazah yang telah teridentifikasi sejauh ini. Namun dia memperkirakan prosesnya akan memakan waktu sekitar 15 sampai 45 hari.

Lamanya proses identifikasi ini membuat marah para keluarga korban, salah satunya seorang pria bernama Yadullah Mahmud. Dia kehilangan enam orang anggota keluarga dalam peristiwa tersebut.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Irak Mohammed Ghabban sendiri telah mengajukan pengunduran diri dari jabatannya terkait peristiwa ini. Dia menyerahkan wewenangnya kepada wakilnya hingga permohonan pengunduran dirinya dipertimbangkan Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi.

Menteri Dalam Negeri Irak Mohammed Ghabban mengajukan pengunduran diri dari jabatannya. Pengunduran diri ini terkait serangan bom bunuh diri yang menewaskan lebih dari 200 orang di Baghdad.

Pernyataan tersebut disampaikan Ghabban dalam jumpa pers di Baghdad seperti dilansir AFP, hari ini. Dia menyerahkan wewenangnya kepada wakilnya hingga permohonan pengunduran dirinya dipertimbangkan Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi.

“Pemerintah telah gagal mencipakan berbagai sistem keamanan dalam sebuah rencana terpadu di Baghdad,” kata Ghabban. Pengunduran dirinya disebutnya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kemarahan publik yang menilai pemerintah gagal menjaga keamanan.

Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi juga dihujat habis oleh publik Irak karena dianggap tak mampu menjamin keamanan.

Al Ghabban sejak menjabat pada 2015 terus meminta pemerintah agar menyerahkan pengaturan keamanan di dalam kota hanya kepada Kementerian Dalam Negeri, namun permintaannya dikesampingkan.

Tanggung jawab pengamanan Irak dibagi oleh tentara, federal dan polisi setempat. Kementerian Dalam Negeri Irak sejauh ini bertanggung jawab pada kepolisian. (hyd)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.