Jakarta, Sumselupdate.com – Lebih dari 60 persen kapal serangan cepat milik Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps dilaporkan masih dalam kondisi siaga tempur meski telah digempur serangan udara Amerika Serikat dan Israel selama enam pekan terakhir.
Berdasarkan laporan New York Post, lebih dari 155 kapal militer Iran disebut telah dihancurkan. Namun, armada kapal cepat IRGC tetap bertahan dan bersiaga di kawasan strategis Selat Hormuz, di tengah perundingan damai yang berakhir tanpa kesepakatan.
Analis militer menilai keunggulan utama armada IRGC terletak pada ukuran kecil dan kecepatan tinggi, sehingga sulit terdeteksi oleh satelit.
Selain itu, kapal-kapal tersebut dapat bersembunyi di fasilitas bawah tanah di sepanjang pesisir berbatu, sehingga menyulitkan operasi militer untuk melumpuhkannya.
“Membutuhkan waktu lama bagi AS untuk menyingkirkan semua armada itu,” ujar Chris Long, mantan pejabat Angkatan Laut Inggris di Teluk Persia.
Strategi ini merupakan hasil evaluasi Iran sejak konflik “Tanker War” pada 1980-an, ketika sebagian besar armadanya dihancurkan dalam waktu singkat. Sejak itu, Iran beralih ke strategi asimetris dengan mengandalkan kapal cepat bersenjata ringan namun lincah.
Dalam sejumlah latihan militer terakhir, kapal-kapal tersebut dilaporkan dilengkapi peluncur roket serta kemampuan menebar ranjau laut, yang dinilai efektif mengganggu jalur pelayaran internasional.
Data terbaru menunjukkan sedikitnya 50 serangan telah terjadi terhadap kapal di kawasan Teluk dan Selat Hormuz sejak konflik pecah. Dampaknya, distribusi energi global terganggu dan harga minyak dunia mengalami lonjakan.
“Strategi asimetris mereka bekerja,” kata David Des Roches, mantan pejabat kebijakan Teluk Persia di Departemen Pertahanan AS.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan pihaknya bersama sekutu akan mengerahkan kapal penyapu ranjau dan kapal perusak untuk membuka kembali jalur pelayaran.
Langkah tersebut bertujuan membebaskan lebih dari 2.000 kapal yang saat ini tertahan di kawasan tersebut.
Trump juga memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz setelah perundingan damai dengan Iran berakhir tanpa kesepakatan, khususnya terkait isu nuklir.
Dalam pernyataannya, Trump menuding Iran memanfaatkan posisi strategis Selat Hormuz untuk menekan pihak lain.
Ia menegaskan, setiap kapal yang masuk atau keluar dari kawasan tersebut akan dihadang oleh Angkatan Laut AS mulai saat ini.
Situasi ini menandai meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas global, terutama sektor energi dan jalur perdagangan internasional.
(**)











