Ketika Mimpi Pedagang Mainan di Kota Pagaralam Sirna Diterpa Dampak Pandemi Covid-19

Senin, 25 Mei 2020
Salah satu pedagang mainan di pasar Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan.

Laporan Novrico Saputra

Pagaralam, Sumselupdate.com – Pagi itu, Senin (25/5/2020), pukul 09.00 WIB, Heri (31) sudah tampak sibuk membenahi kios boneka dan mainan yang berada tepat di  rumah petak miliknya.

Read More

Dibantu istri, Heri membongkar dan membawa boneka dan mainan berbagai ukuran ke kiosnya untuk dipajang.

Hilir mudik, satu persatu boneka dan mainan dia bawa. Ada yang hanya sekadar dia jinjing, pegang, bahkan tak sedikit yang dia peluk dengan erat dan tentunya dengan susah payah.

Dari dagangan yang dipajangnya, tidak sedikit boneka dan mainan berukuran jumbo yang dia jual di kiosnya.

“Iya susah bawanya. Gede banget ini. Belum juga laku padahal udah mau tiga bulan di gudang,” kata Heri sambil menyeka keringat yang mengucur dari pelipisnya.

Heri adalah satu dari puluhan pedagang mainan di pasar Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan.

Pedagang yang mencoba peruntungan di kota yang dikenal dengan keindahan obyek wisata Gunung Dempo ini, tidak hanya datang dari Pagaralam.

Namun tidak sedikit juga pedagang dari luar yang berbondong-bondong mendatangi pasar ini.

Harga yang ditawarkan cukup bersaing dan boneka yang dijajakan bervariasi, sehingga membuat pasar ini tak pernah sepi pengunjung.

Banyak kendaraan yang terparkir di sepanjang Jalan Talang Jawa, Kecamatan Pagaralam Selatan yang mengitari kios–kios mainan dan alat tulis di pasar tersebut.

Momen liburan seperti hari raya biasanya dimanfaatkan keluarga berbelanja di Pasar Kota Pagaralam, baik untuk membelikan mainan sebagai hadiah Lebaran atau hanya sekadar cuci mata.

Namun keramaian itu tidak tampak sekali di Lebaran tahun ini yang diterpa pandemi virus Corona atau Covid-19.

Kios-kios ini memutuskan libur setelah mendapati dagangannya sepi dan kurang diminati pengunjung.

“Saya Enggak jualan selama bulan Ramadhan kamaren, nggak ada yang beli. Duduk saja di rumah, karena toko menyatu dengan rumah,” kata Asti (42), salah satu pedagang asli di kawasan Pasar kota Pagaralam.

Sepinya pengunjung tak hanya dialami Dewi, banyak kios pedagang yang mengitari area troatoar jalan sepanjang hingga lapangan tenis, kini malah lebih sepi dan bahkan tutup.

Dewi menyebutkan, baru kali ini sepi pengunjung. Padahal sejak awal 2016-an, dia mencoba peruntungan berjualan mainan dan boneka, terus ramai pembeli, terutama di Hari Raya Idul Fitri.

Berjualan sejak 2016, Dewi mengaku sudah banyak mengalami pahit-manis berdagang. Kadang laris, kadang sepi.

Selain itu, dulu terdapat persaingan harga di pasar tersebut. Jika salah satu pedagan sepi, masih ada pedagang lain yang mendapat untung karena menjual dengan harga yang lebih rendah.

Tapi, tahun ini semua toko mainan di Pasar Kota Pagaralam mengalami kerugian dan mimpi pedagang mainan untuk meraup untung besar, mendadak sirna.

“Semua rugi, bukan karena bersaing, tapi karena memang enggak ada yang beli,” tutur Dewi.

Padahal, soal harga, Dewi sudah memberi diskon besar. Di tokonya, mainan dijual dengan kisaran Rp5 ribu hingga yang paling mahal bisa menyentuh angka Rp1 juta.

Akibat sepinya pembeli, Dewi sudah tidak melakukan penyetokan mainan sejak akhir tahun lalu.

“Kagak ada, ngapain nyetok-nyetok. Sehari aja paling yang kejual satu, numpuk deh mainan di gudang,” katanya.

Sepinya pengunjung pun dirasakan pedagang mainan di warung tenda. Nakhrowi (39), yang berjualan di trotoar Jalan Talang Jawa juga mengalami penurunan omset penjualan.

Rowi, yang merupakan pedagang musiman, mengaku sedih lantaran dagangannya berupa kembang api dan mercon, tak kunjung laku.

Padahal, biasanya Lebaran jadi momen mengais untung. Tapi tahun ini, alih-alih untung, Rowi malah buntung.

“Rugi (tahun ini –red). Padahal tahun lalu untung gede, balik modal juga. Tahun ini mah boro-boro. Kagak ada yang laku ini jualan,” cetus dia.

Sesekali, memang ada pembeli yang mampir ke pasar ini. Sayangnya, mereka hanya cuci mata. Kebanyakan hanya melihat, lalu kemudian berlalu dan pergi tanpa membeli. (**)

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts