Palembang, Sumselupdate.com – Pemerintah semakin berupaya untuk medeteksi secara dini kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Indonesia secara umum dan Sumatera Selatan yang berbuntut terjadinya kabut asap seperti tahun 2015 lalu .
Kepala BNPB Wilem Rampangilei, Kamis (24/3) di sela acara gelar siaga api dan program DMPA (Desa Makmur Peduli Api) di Desa Sungai Baung Air Sugihan Kabupaten OKI mengatakan kebakaran lahan yang terjadi selama ini terus terjadi di setiap tahun, hal itu pula yang membuat anggapan seolah tidak bisa teratasi.
Hal itu tidak lepas dari kebakaran lahan dan hutan yang telah menjadi isu nasional. Selain itu karena mengganggu kehidupan masyarakat banyak serta telah mengganggu sistem perekonomian Indonesia.
“Sebanyak 0,2 persen sistem ekonomi kita terganggu selama musim kebakaran lahan tahun lalu, atau menimbulkan kerugian hingga 221 triliun,” katanya
Dampak kabut asap serta kebakaran lahan dan hutan cukup besar, mulai dari aspek lingkungan, kesehatan,serta sangat sulit dilakukan pemulihan ,pemulihan bisa dilakukan dengan waktu yang cukup lama.
Selain itu Wilem menyebutkan Karhutla sudah menjadi isu internasional karna dampaknya yakni telah menghasilkan co2 karena asap yang dihasilkan akibat kebakaran lahan yang terjadi.
“Oleh karenanya sesuai arahan dari bapak Presiden, melakukan pencegahan sedini mungkin berbasis masyarakat desa, terpadu, serta terarah terukur harus ditingkatkan,” tegasnya
Ia juga menyebutkan kedepan semua harus berperan dalam menekan kebakaran hutan dan lahan semua harus berperan, keterlibatan dunia usaha juga sangat diharapkan dalam upaya pencegahan.
Harus diakui kebakaran lahan yang terus terjadi selama ini karena kurang efektifnya penanggulangan yang telah dilakukan selama ini, kedepan hal itu harus diperbaiki agar apa yang diharapkan bisa diraih.
Sebagai catatan pada tahun lalu setidaknya 2,6 juta hektar hutan di Indonesia telah terbakar, sementara Sumsel sendiri sebanyak 775 hektar juga terbakar pada tahun lalu. (adi)











