Jelang Porprop TC Atlit Masih Berjalan Sendiri-Sendiri 

Senin, 7 Agustus 2017
para atlit panjang tebing OKU saat melakukan perbaikan papan panjat

Baturaja, Sumselupdate.com – Menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprop), Sumatra Selatan (Sumsel) November mendatang, para atlit kabupaten OKU mulai lakukan TC.

Namun, sayangnya pemusatan latihan (TC) dinilai kurang begitu maksimal, para atlit dan pelatih membenarkan hal itu.

Read More

“Untuk latihan terus kami laksanakan, katanya ini TC berjalan,” ucap Ahmaddim pelatih Panjat tebing, Senin (7/8/2017).

Latihan ini, kata dia, pihaknya masih mengeluarkan dana pribadi, belum ada sama sekali bantuan untuk khususnya bagi atlit.

“Bisa dilihat memang sesuai namanya tc-nya berjalan. Tapi berjalannya sendiri-sendiri, belum ada perhatian terhadap atlit,” ucapnya.

Di sisi lain, TC penuh belum dilakukan, padahal TC penuh akan bisa dilihat kinerja pelatih dan atlit secara keseluruhan. Selain itu juga kata dia, nanti bisa diketahui kekurangan selama melakukan TC penuh itu.

“TC penuh tentu lebih fokus dibanding TC berjalan, baik bagi atlit dan pelatih,” ucapnya.

Terpisah, ketua KONI OKU, Edi Jaya saat dihubungi sumselupdate.com membantah TC dilakukan sendiri-sendiri, “Untuk TCpenuh tidak ada, karena dalam TC penuh kita harus adakan pemondokan atlit,” ucapnya.

Sementara pihaknya terkendala dana untuk lakukan itu, “Ini perlu biaya yang cukup besar. Dan memang selama ini belum pernah diadakan TC penuh,” katanya.

Sementara masalah dana untuk atlit memang belum turun lantaran beberapa faktor salah satunya kevakuman KONI tahun lalu.

“Porprov belum dianggarkan baru mau dianggarkan dalam abt ini. Jadi dana TC bukannya belum turun, tapi memang belum dianggarkan,” kata Edi.

Lebih jauh diungkapkanya, TC penuh dan TC berjalan ini hanya istilah pihaknya saja. Hakikatnya yang namanya TC itu harus disertai pemondokan bagi atlit dan pelatih.

“Sekali lagi berhubung dana tidak mencukupi makanya kita buat istilah TC berjalan, karena atlit dan pelatih masih tidur di rumah masing-masing,” terangnya.

Lebih dari itu, ucap Edi, saat ini belum masuk pada tahapan TC berjalan tapi ini masuk dalam program KONI yang berkenaan vo2max atlit.

“Vo2max ini salah satunya untuk melihat daya tahan, kekuatan dan kecepatan atlit, jadi tiap cabang olahraga ada standar masing-masing,” terangnya.

Mengapa hal itu dilakukan pihaknya dari jauh hari, lantaran Edi berpendapat, pengalaman sebelumnya atlit OKU banyak yang gagal di provinsi, “Vo2maxnya rendah kita tidak ingin itu terulang,” tukasnya. (Wid)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts