Palembang, Sumselupdate.com — Kualitas udara di Kota Palembang kembali memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan menunjukkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Palembang mencapai 442 dan masuk kategori berbahaya pada Jumat (2/10/2026).
Kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh titik karhutla yang berada di dalam wilayah Kota Palembang. Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan, asap dari wilayah sekitar juga berpotensi terbawa angin dan masuk ke wilayah kota.
Menurut Ratu Dewa, kondisi geografis Palembang yang berada di wilayah dataran rendah membuat asap dari kawasan sekitar lebih mudah masuk dan terakumulasi di sejumlah wilayah.
“Persoalannya di Palembang ini khususnya di Palembang bagian tenggara, Palembang bagian timur dan bagian selatan, kita berada di dataran rendah, apalagi di pinggiran sungai, angin terakumulasi masuk ke Palembang,” kata Ratu Dewa, Jumat (2/10/2026).
Ia menegaskan, penjelasan mengenai pola pergerakan asap tersebut mengacu pada informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Nah ini menurut BMKG, bukan menurut saya,” ujarnya.
Asap dari Wilayah Hotspot Berpotensi Masuk Palembang
Ratu Dewa menjelaskan, wilayah di bagian tenggara, timur, dan selatan Palembang serta daerah sekitarnya memiliki sejumlah titik panas atau hotspot. Asap dari kebakaran di wilayah tersebut, menurut dia, berpotensi terbawa angin menuju Kota Palembang.
“Maka beberapa hotspot yang cukup tinggi di bagian tenggara, timur dan selatan tadi, katakanlah kabupaten/kota yang hotspot-nya cukup tinggi, yang sampai ribuan itu, itu masuk ke Palembang karena kita berada di dataran rendah,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat penanganan kabut asap di Palembang tidak cukup hanya dengan menangani titik kebakaran yang berada di dalam wilayah kota.
Pemerintah daerah di wilayah sekitar juga perlu melakukan penanganan terhadap sumber karhutla agar asap tidak terus terbawa angin menuju Palembang.
Lima Kecamatan Jadi Perhatian
Di dalam Kota Palembang sendiri, Pemkot meningkatkan kesiapsiagaan di sejumlah wilayah yang dinilai memiliki potensi terjadi karhutla.
Lima kecamatan yang menjadi perhatian yakni Sematang Borang, Kalidoni, Ilir Barat I, Alang-Alang Lebar, dan Kertapati.
Ratu Dewa mengatakan personel serta armada pemadam kebakaran didekatkan dengan lokasi yang berpotensi terjadi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
“Sebanyak 30 mobil pemadam kebakaran disiagakan, personel Dinas Pemadam Kebakaran dan BPBD juga dikerahkan untuk melakukan pemantauan di lapangan,” jelasnya.
Menurut Ratu Dewa, kondisi lahan di Palembang yang didominasi lahan mineral membuat api di sejumlah titik relatif lebih cepat ditangani.
“Karena kita lahan mineral, lahan mineral hitungannya antara tiga sampai lima jam sudah tuntas. Bahkan semalam hitungan satu jam setengah sudah padam,” katanya.
Ia mencontohkan dua titik karhutla yang terpantau pada malam sebelumnya berada di wilayah Sematang Borang dan Jakabaring. Kedua titik tersebut disebut berhasil dipadamkan dalam waktu relatif singkat.
Api Padam, Kabut Asap Masih Berpotensi Masuk
Meski titik kebakaran di dalam kota dapat ditangani dengan cepat, persoalan kabut asap belum otomatis selesai.
Pasalnya, asap dari wilayah lain masih berpotensi terbawa angin menuju Palembang. Karena itu, penanganan karhutla perlu dilakukan secara terpadu, tidak hanya oleh Pemkot Palembang tetapi juga pemerintah daerah di wilayah yang menjadi sumber kebakaran.
Palembang sendiri bukan kali pertama terdampak kabut asap karhutla. Ratu Dewa menyebut kondisi serupa pernah terjadi pada 2019, 2023, dan 2025.
Untuk membantu mengatasi kondisi cuaca dan kualitas udara saat ini, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) direncanakan berlangsung mulai Jumat hingga pekan depan dengan tujuan meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Di tengah kondisi udara yang masuk kategori berbahaya, Pemkot Palembang juga meminta jajaran di tingkat kecamatan meningkatkan pengawasan terhadap potensi munculnya titik kebakaran baru.
Ratu Dewa meminta para camat memperketat pemantauan di wilayah masing-masing sekaligus mengantisipasi dampak kabut asap terhadap masyarakat.
Kondisi kualitas udara Palembang yang memburuk juga telah berdampak pada aktivitas masyarakat. Sehari sebelumnya, kabut asap bahkan menurunkan jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II hingga sekitar 500 meter dan mengganggu sejumlah penerbangan.
Dengan ISPU yang mencapai 442 pada Jumat pagi, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan. RSUD Palembang BARI menyebut paparan asap karhutla dapat menyebabkan keluhan mulai dari batuk, pilek, iritasi tenggorokan hingga sesak napas dan ISPA.
(**)







