Palembang, Sumselupdate.com – Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat inflasi sebesar 0,27 persen pada September 2025.
Kondisi ini dipicu oleh terganggunya distribusi dan menurunnya produksi hortikultura akibat cuaca ekstrem.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Moh. Wahyu Yulianto, menyampaikan inflasi bulan September (month to month/mtm) mencapai 0,27 persen dibanding Agustus.
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi tercatat 3,44 persen, sementara inflasi tahun kalender (year to date/ytd) Januari–September sebesar 2,25 persen.
“Beberapa faktor penyumbang inflasi September antara lain penurunan tarif BBM, kenaikan harga hortikultura karena cuaca ekstrem, serta fluktuasi harga emas perhiasan. Untuk beras relatif turun karena operasi pasar Bulog dan Polri yang cukup masif, sedangkan tarif cukai rokok tidak naik, namun ada penyesuaian harga sehingga berdampak pada inflasi,” jelas Wahyu, Kamis (2/10/2025).
Ia menambahkan, inflasi September masih sejalan dengan tren nasional. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat potensi lonjakan inflasi pada November–Desember saat perayaan Natal dan Tahun Baru.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi. Sementara kelompok lain relatif stabil,” katanya.
Dari empat daerah pantauan di Sumsel, inflasi mtm tertinggi terjadi di Muara Enim sebesar 0,35 persen, diikuti Palembang 0,30 persen, Lubuklinggau 0,27 persen, dan Ogan Komering Ilir (OKI) 0,03 persen.
Komoditas utama penyumbang inflasi ialah cabai merah, daging ayam ras, dan rokok kretek. Sementara itu, penurunan harga beras hanya mampu menekan inflasi hingga 0,05 persen.
“Tekanan inflasi yoy sebesar 3,44 persen dipengaruhi lonjakan pada Maret (1,53 persen) dan April (1,39 persen). Karena itu, tiga bulan ke depan harus terkendali agar inflasi tetap sesuai target, yakni 2 persen plus minus 1 persen,” tutup Wahyu.
(**)











