PALI, Sumselupdate.com – Petani karet di Bumi Serepat Serasan semakin menjerit. Karena, selain harganya yang terus merosot, hasil getah dari nyadap pohon karet pun semakin berkurang. Akibatnya, menambah kesulitan masyarakat untuk memenuhi kebutuhanya sehari-hari.
Semakin sedikitnya hasil sadapan para petani ini, ternyata tidak lain akibat tidak menentunya cuaca di awal bulan Ramadan ini. Dimana, para petani harus berpacu dengan cuaca untuk melakukan penyadapan hasil getah karet yang dimilikinya.
Dimana turunya harga tersebut, tidak sesuai dengan harga kebutuhan warga sehari-hari, yang justru merangkak alami kenaikan. Tak hanya itu, akibat cuaca ini, membuat hasil tani para warga menjadi merosot, serta membuat hasil yang tidak begitu berkualitas.
Junto (35), petani karet di Desa Karang Agung, Kecamatan Abab mengatakan, bahwa harga karet harian di desanya saat ini dihargai pengepul Rp 4500 perkilogramnya, dari harga sebelumnya yang hanya angka Rp5.000 per kilogram, sehingga membuat keluarganya berhemat.
“Harga karet memang perlahan turun pak, dan memang tidak naik-naik. Kami berharap ini tidak berkelanjutan, karena cuaca juga membuat hasil kebun mengalami penurunan secara drastis dan semakin membuat kita susah,” ujarnya, Selasa (22/5/2018).
Hal senada juga diungkapkan Insan (29), petani di Desa Persiapan Jerambah Besi, Kecamatan Talang Ubi yang mengatakan, bahwa keluarganya harus membatasi biaya hidup di bulan suci ramadhan ini. Untuk itu dirinya berharap pemerintah bisa menstabilkan kembali harga getah karet, agar masyarakat bisa sejahtera.
“Kami harapkan, tidak menentunya harga karet ini, tidak secara menerus. Sebab, kalau karet ini tidak ada harganya lagi. Maka, kami dan warga lainya terpaksa beralih profesi lain dalam memenuhi kebutuhanya sehari-hari kekuarga kami pak,” katanya. (adj)










