Gowes Jadi Lifestyle, Bagaimana Marka Jalur Sepeda?

Rabu, 15 Juli 2020
Kepala Dinas Perhubungan Kota Palembang Agus Rizal

Palembang, Sumselupdate.com-
Bersepeda kini menjadi gaya hidup (lifestyle) bagi warga Kota Palembang di tengah pandemi corona-19 saat ini. Bahkan, ada yang menjadikan sebagai alat transportasi untuk berangkat kerja sambil olahraga.

Namun sayang, seiring peningkatan pengguna sepeda, fasilitas marka jalur sepeda justru sudah hilang alias pudar sejak dibuat 2010 lalu.

Read More

Kepala Dinas Perhubungan Kota Palembang Agus Rizal mengatakan, di Kota Palembang sejak Covid-19, tingkat penggunaan sepeda meningkat, seiring juga dengan peningkatan gaya hidup sehat. Jalur pesepeda sejak saat itu dibuat tapi diakui belum efektif, khususnya di hari kerja.

“Sekarang marka jalurnya sudah hilang, karena berbagai sebab. Seperti penebalan aspal. Lebarnya marka sepeda itu sekitar 1 meter,” katanya, Rabu (15/7/2020).

Jalur sepeda sudah ditetapkan dengan tanda marka jalan jalur sepeda disepanjang lokasi jalur sepeda. Hanya saja, karena adanya peningkatan jalan maka terjadi pemudaran bahkan hilang.
“Pada 2010 – 2012, jalur sepeda sudah pernah dibuat marka jalurnya dengan rute POM IX – Kapten A Rivai – Kambang Iwak – Merdeka – Sudirman – Gubernur H Bastari – Jakabaring,” katanya.

Dengan kondisi marka jalan yang terhapus ataupun hilang, lanjut Agus, perlu dilakukan pengecatan kembali, sehingga jelas marka jalur sepedanya. “Namun, belum ada anggaran di 2020 induk. Rencananya akan kita ajukan di anggaran perubahan,” katanya.

Sebelumnya pihaknya juga mengakui, jika Jalur sepeda ini efektif hanya pada hari Minggu pada saat car free day (CFD). “Untuk hari lainnya kurang efektif karena mixed dengan arus lalu lintas lainnya, jadi dari aspek keselamatan kurang bagus,” katanya.

Adapun aturan tersebut (jalur sepeda) berlaku sesuai dengan fungsi marka sepeda, apabila ada sepeda yang melintas maka kendaraan bermotor tidak boleh memasuki jalur sepeda. Tetapi kalau tidak ada sepeda yang melintas dapat dipakai sementara oleh kendaraan bermotor.

“Ke depan sebenarnya ada pengembangan jalur sepeda ke arah Sako, Pusri, yang merupakan kawasan perumahan. Tetapi yang terbaik adalah jalur sepeda yang pembatas permanen sehingga aman dan nyaman. Tapi Karena Covid, kita tunda dan diajukan ke anggaran perubahan,” katanya.

Pengguna sepeda, Aldi (25) mengungkapkan, dirinya biasa gowes tidak hanya pada saat weekend, tapi juga bersama teman satu komunitas bersepeda di malam hari.

“Kalau boleh berharap sebenarnya pembuatan jalur sepeda bisa dilakukan sesegera mungkin. Karena kondisi jalanan kita yang ramai, maka sangat berbahaya sebenarnya bersepeda di perkotaan tanpa jalur sepeda,” katanya. (Iya)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts