Energy Watch Dukung Erick Thohir Larang Ekspor EBT Untuk Kebutuhan Energi dalam Negeri

Minggu, 5 Juni 2022
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.

Jakarta, sumselupdate.com – Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan mendukung kebijakan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, melarang ekspor Energi Baru Terbarukan (EBT) ke luar negeri.

Pelarangan ini  sama seperti kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) batu bara dan minyak goreng yang mengharuskan badan usaha memenuhi kebutuhan masyarakat terlebih dahulu.

Read More

Menurut Mamit, pelarangan ekspor EBT tersebut demi memenuhi kebutuhan dalam negeri, mengingat bauran listrik dari energi bersih secara nasional masih berada pada angka 11,7 persen.

“Saya kira memang  seharusnya ya, karena jumlah (EBT) kita masih sedikit. Harusnya memang tidak untuk di pasar export. Jadi kita coba penuhi dulu kebutuhan dalam negeri secara optimal,” ujar Mamit, Minggu (5/6/2022).

Dikatakan Mamit,  tahun 2025 pemerintah harus mengejar target bauran listrik bersih mencapai 23 persen. Meski terasa cukup berat untuk mencapai target tersebut, pemerintah telah menggalakkan beberapa program salahsatuya dengan penggunaan PLTS Atap untuk mempercepat transisi energi dan meningkatkan pemanfaatan potensi energi baru dan terbarukan (EBT).

“Tapi paling tidak  saat ini pemerintah sedang menggalakkan dengan program terutama untuk PLTS atap supaya terus berkembang. Nah ini menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan EBT di 23 persen untuk 2025,” jelasnya.

Selain itu untuk mendukung penggunaan EBT pemerintah juga tengah menggodok Rancangan Undang-Undang EBT untuk menciptakan iklim investasi dan pengembangan EBT.

“Kita juga sedang menggodok UU EBT. Ini menjadi salah satu pintu masuk untuk investasi di sektor EBT dan  ini salah satu cara kita  mengejar target 23% tahun 2025,” tuturnya.

Mamit  mengingatkan pemerintah saat ini kondisi pasokan listrik dari PLN sedang Over Supplay atau mengalami kelebihan pasokan, sehingga kelebihan itu harus diserap.

Belum lagi ditambah sumbangan pasokan energi dari EBT sehingga pemerintah harus menciptakan pasar baru demi konsumsi listrik.

“Kita juga mesti paham  saat ini kondisi listrik kita sedang over supplay,  kalau tetap dipaksakan juga  nanti bagaimana dengan PLN karena  mereka harus tetap menampung dari EBT ini,” paparnya.

Sedangkan listrik ini masih cukup banyak, mau tidak mau pemerintah  harus menciptakan pasar baru ataupun bagaimana  cara supaya konsumsi listrik  meningkat. Sehingga listrik dari EBT bisa dioptimalisasi  potensi di dalam negeri,” tegasnya. (duk)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts