Duh, Dampak Virus Corona, Harga Karet di Sumsel Kembali Anjlok

Aktivitas di pasar karet Kabupaten PALI, Provinsi Sumsel.

Banyuasin, Sumselupdate.com – Harga getah karet kualitas mingguan di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) kembali anjlok. Turunnya harga karet ini dikarenakan kian mewabahnya virus Corona di beberapa negara tujuan ekspor, khususnya China.

Di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) harga karet basah saat ini berkisar antara Rp4.000 hingga Rp4.300 per kilogram. Sedangkan harga karet kering atau seratus persen sebesar Rp7.000 per satu kilogramnya.

Read More

Muslim (33), warga Desa Lubuk Saung, Kelurahan Pangkalan Balai, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin mengaku, harga jual getah karet di desanya berkisar Rp4.000 per kilogram sampai Rp4.300 per kilogramnya.

Menurut dia, dengan mengandalkan satu hektar lahan karet sendiri dan satu hektar lahan bagi hasil dengan pemiliknya, dalam satu minggu terkadang dia mengantungi pendapatan hanya Rp600 ribu per minggu.

“Dalam seminggu kadang dari menyadap karet dapat 200 kilogram. Pendapatan dari menjual karet ini harus bagi hasil dengan pemilik lahan tempat kami menyadap karet,” kata Muslim kepada Sumselupdate.com, Sabtu (28/3/2020).

Sebelumnya, pada pekan pertama di bulan Februari 2020 lalu, harga getah karet di pasar Simpang Raja, Kelurahan Handayani Mulya, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI, harga getah paling tinggi hanya menembus angka Rp6.200 per kilogram.

Dengan harga getah karena seperti itu membuat galau petani karet setempat. Sebab turunnya harga getah dirasa petani membuat penghasilan mereka jauh berkurang.

“Bukan turun Pak, tapi terjun, sebab pada minggu lalu harga getah mencapai Rp7.700 per kilogram, tapi sekarang hanya Rp6.200 per kilogram,” kata Nasar, salah satu petani setempat.

Dengan turunnya harga getah diakui Nasar bahwa omsetnya turun drastis hingga 25 persen, belum lagi hujan yang kerap turun pada siang hari.

“Sudah turun, produksi getah juga berkurang karena sering ditimpa hujan. Kami hanya pasrah hadapi kondisi ini, dan percuma juga meminta pemerintah untuk menaikan harga getah, kami hanya minta kepada pemerintah untuk menekan harga kebutuhan pokok,” harapnya.

Keluhan sama diutarakan Hendi, petani karet asal Jerambah Besi Kecamatan Talang Ubi. “Harapan kami ada upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi getah kami dengan memberikan pupuk atau penyuluhan kepada petani karet supaya meski harganya murah namun produksi melimpah,” harapnya

Terpisah, Kepala Bidang Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan Sumsel Rudi Arpian mengungkapkan, harga karet Sumsel sejak awal Januari fluktuatif cenderung stagnan yang berkisar antara Rp16.000-17.000 per kilogram untuk kadar karet kering (KKK) seratus persen.

Namun, memasuki pekan ketiga Januari, harga karet terus menurun. Tercatat penurunan terus terjadi sejak 21 Januari 2020.

Pada 20 Januari, harga karet tercatat Rp17.151 per kilogram, turun menjadi Rp16.290 per kilogram pada 24 Januari. Pada Selasa 28 Januari, harga sempat naik Rp51 menjadi Rp16.312.

Namun pada Rabu, 29 Januari, harga anjlok Rp1.362 dalam satu hari menjadi Rp14.950 per kilogram untuk KKK 100 persen atau turun 12,8 persen sejak 20 Januari lalu.

Sementara untuk KKK 70 persen Rp10.465 per kilogram, KKK 60 persen Rp8.970 per kilogram. KKK 50 pesen Rp7.475 per kilogram, dan KKK 40 persen Rp5.980 per kilogram.

“China merupakan importir terbesar karet alam Indonesia. Kekhawatiran pelaku pasar akan Virus Corona menjadi sentimen negatif terhadap harga karet global. Saat ini terjadi serangan masal wabah Virus Vorona, otomatis kegiatan ekonomi di Cina menurun bahkan di beberapa sektor terhenti sama sekali,” ujar Rudi seperti dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (29/1).

Rudi menjelaskan, harga karet sepanjang pada 2020 sempat diprediksi naik 1,5 persen karena peningkatan permintaan untuk industri ban. Pulihnya perdagangan Amerika Serikat dengan China beberapa waktu lalu mempengaruhi hal tersebut.

Kendati demikian, merebaknya wabah virus corona di China membuat kegiatan ekonomi terganggu. Imbasnya pertumbuhan ekonomi diprediksi melandai dan menyebabkan permintaan karet dari China ke Indonesia berkurang.

“Lebih dari 40 persen penduduk Sumsel menggantungkan hidupnya dari komoditas karet. Daya beli masyarakat akan ikut terhantam. Pendapatan petani berkurang, turunnya kemampuan investasi petani dan mereka perlu mencari sumber penghasilan lain selain usaha tani karet. Bahkan dampak terburuk, akan ada alih fungsi lahan dari usaha tani karet ke tanaman lain yang dinilai lebih prospektif,” jelas Rudi.

Dinas Perkebunan akan melakukan upaya untuk membantu petani bisa bertahan dari harga karet yang rendah saat ini. Pihaknya akan memberikan bantuan bibit unggul berproduktivitas tinggi, membantu alat pasca panen dan bangunan Unit Pengolahan Hasil (UPH) di lima daerah. Dinas perkebunan pun akan menganjurkan petani untuk menanam tanaman sela sebagai tambahan pendapatan.

“Upaya lain yang bisa dilakukan yakni hilirisasi karet dan dan pembuatan inovasi yang dapat mendorong peningkatan konsumsi karet alam dalam negeri. Serapan karet nasional harus ditingkatkan seperti proyek jalan aspal karet yang harus diperluas,” ujar dia. (edo/adj/cnn)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.