Palembang, Sumselupdate.com – Feasibility Study (FS) rencana restorasi Sungai Sekanak dan Lambidaro sudah menemukan titik terang dan bakal menjadi kawasan multifungsi di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.
Walikota Palembang, Harnojoyo kepada awak media, Selasa (1/10/2019), mengatakan, multifungsinya Sungai Sekanak dan Lambidaro yakni selain untuk menjadi pengatur debit air, juga menjadi menjadi destinasi wisata baru bagi warga.
“Restorasi segera dimulai tahun ini juga, hasil DED (Detail Enginering Design) dananya cukup besar mencapai Rp394 miliar, pembiayaannya oleh pemerintah pusat. Tadi kita mendengarkan paparan, juga meminta masukan dari berbagai pihak terkait restorasi ini,” ungkap Harnojoyo.
Harnojoyo menargetkan restorasi akan selesai pada tahun 2021 atau 2022. Setelah selesai maka akan dijadikan destinasi wisata sungai.
Ia menceritakan bahwa restorasi ini sudah lama direncanakan dan mewujudkan Palembang sebagai Venesia dari Timur.
“Restorasi ini akan menjadikan lingkungan sungai menjadi bersih, apalagi akan dibangun taman serta fasilitas lainnya. Fungsi restorasi ini untuk pengendalian banjir, transportasi, dan juga destinasi wisata,” jelasnya.
Ditambahkannya, selama ini rumah-rumah membelakangi sungai, setelah pembangunan ini nanti, maka akan menghadap ke sungai semua.
Ke depan Harnojoyo berharap semua sungai di Palembang dapat direstorasi untuk dikembalikan fungsinya seperti Sungai Lambidaro dan Sungai Sekanak.
Di tempat yang sama Agung Setiono, Kepala Tim Perencana Restorasi Sungai Sekanak-Lambidaro mengatakan, ada perubahan perencanaan desain.
Awalnya kedua sungai ini restorasinya secara terpisah tetapi terbaru menjadi satu.
“Konsep restorasinya adalah selain pengendali banjir juga akan menjadi sarana transportasi dan destinasi wisata. Palembang memiliki tiga sub sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) yakni Sungai Sekanak, Sungai Lambidaro, dan Sungai Bendung,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa untuk Sungai Lambidaro mempunyai kolam atau rawa-rawa alami dikembalikan sebagai reservoir alami.
“Jadi agar saat kemarau air tidak kering maka kita akan memaksimalkan kolam retensi dan rawa alami untuk tampungan air. Untuk restorasi akan ada tiga tahap,” ujar dia. (syd)











