Jakarta, Sumselupdate.com – Keluarga Mutmainah, tersangka pemutilasi anak kandung di Cengkareng, mengatakan bahwa rumah tangga Mutmainah dengan Aipda Denny Siregar, anggota provost Polda Metro Jaya tidak harmonis. Mutmainah jadi sering terlihat murung setelah menikah.
“Pas nikah sama si Denny, tubuhnya jadi kurus. Dulunya gendut,” kata Mohamad Wahidin (35), kakak Mutmainah, kepada wartawan di kediamannya di Cengkareng, Jakarta Barat seperti dilansir detikcom, Selasa (4/10/2010).
Perubahan sikap juga sangat dirasakan pihak keluarga. Keluarga merasa khawatir dengan kondisi Mutmainah.
“Setelah menikah murung. Sebelumnya biasa, sering bercanda. Pas (kerja) jadi caddy golf malah senang. SMA malah lebih happy,” kata Wahidin.
Sebelum mengontrak di tempat yang menjadi TKP dua bulan yang lalu, Mutmainah dan Denny tinggal di rumah keluarga besarnya. Ada pula orang tua dan beberapa kakaknya di rumah tersebut.
“Abang-abangnya melarang pindah biar tinggal bareng sama keluarga. Soalnya sering ribut rumah tangga,” kata Wahidin.
Menurut Wahidin, Denny sering mengekang Mutmainah. Mutmainah sendiri belum didaftarkan sebagai istri polisi.
“Setahu saya, tetangga juga ngerti. Orang itu (Denny) mengekang. Tidak boleh dekat dengan saudara,” kata Wahidin.
Puncak keributan rumah tangga adalah keinginan Mutmainah untuk bercerai dengan Deni. Hal ini disampaikan kepada Mohamad Riswanto (27), adik Mutmainah.
“Dua bulan yang lalu Ka Iin (Mutmainah) telepon saya, dia bilang, ‘Ris kakak enggak kuat lagi sama Deni. Kakak ingin cerai saja.’ Saya bilang, ya sudah terserah kakak saja,” kata Riswanto.
Wahidin sendiri mengaku, pemberitaan di media massa sangat menyudutkan adiknya.
Seolah-olah, adiknya mengalami kelainan mental dan pernah mengancam suaminya. Wahid, demikian dia disapa tak mau lagi pemberitaan soal adiknya dipelintir.
“Saya yang membawa adik saya dari TKP, dari masih tak pakai baju dan mayat Arjuna masih tergeletak di lantai, sampai siang tadi,” terang Wahidin dikutip Liputan6.com.
Wahidin kesal, ia tak terima jika adiknya disebut pembunuh. Namun, keluarga tak menampik fakta-fakta yang ada mengarah pada adiknya memutilasi anaknya sendiri.
“Kita nggak mau ngomong soalnya, karena kita berduka, tapi karena saya lihat di tivi udah kelewatan. Ya sudah, kalau mau basah, ya mandi sekalian,” terang Wahidin.
Wahidin menyebutkan, adiknya tak pernah mengancam suaminya, Aipda Denny Siregar. Malahan cekcok yang mereka alami jauh dari kekerasan. Adiknya juga tidak pernah menjadi korban kekerasan.
“Denny nggak pernah mukul, sebab dia tahu hukum. Tapi, adik saya sering tekanan batin, pernah itu ribut di depan rumah sini, sampai semua tetangga keluar. Ributnya mulut aja,” kata Wahidin.
Wahidin mengatakan, Iin pernah berkeluh kesah kepadanya sebelum peristiwa mutilasi. Iin mengadu merasa tertekan dengan sikap sang suami.
“Iin pernah nelepon saya, dia ngakunya tertekan dan nggak sanggup. Tapi dia nggak cerita secara jelas,” kata dia.
Dia menuturkan, sudah lima tahun belakangan ini adiknya depresi. Bahkan, pernah dibawa berobat karena depresi berat. Depresi dimulai sejak ia putus hubungan dengan Denny, saat masih menjalin kasih.
“Pas dia nggak pacaran lagi sama Denny, dia jadi depresi. Sampai harus dibawa berobat ke Jawa Tengah selama empat bulan,” terang Wahid.
Setelah kembali dari Jawa Tengah, Iin mulai tenang. Tapi, ia kembali mengalami depresi karena Denny kembali hadir dalam hidup adiknya.
Wahidin mengatakan, adiknya itu kembali ditinggal Denny dan menikah dengan seorang petugas keamanan. Pernikahan hanya berlangsung satu bulan. Iin kemudian menikah dengan Denny.
Ibu Iin, Komala (60) menyebut anak perempuannya mabuk kepayang pada Denny. Apalagi, selama bertahun-tahun tinggal dengan Denny dan satu atap dengan Komala.
“Dia nurut, pas nyari kontrakan aja. Iin bilang dia nurut mau dibawa ke mana aja. Padahal kami udah bilang, nggak usah ngontrak, tinggal di sini aja,” terang Komala.
Mutmainah atau Iin diduga memutilasi anak kandungnya yang berusia 1 tahun dan melukai anak pertamanya di rumah kontrakannya di Gang Jaya, Cengkareng, Jakarta Barat pada Minggu 2 Oktober 2016 sekitar pukul 21.00 WIB.
Iin menjalani pemeriksaan psikologi di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur. Kondisi kejiwaan Iin masih belum stabil. Dari keterangan sementara dari polisi, Iin mendengar ada bisikan-bisikan kepadanya. (hyd)











