Cerpen : Warisan

Ilustrasi warisan

Karya: Rusmin Toboali

Tidak ada airmata yang keluar dari kelopak mata mereka. Gerimis yang membasahi dedaunan di sekitar pemakaman seolah-olah sudah cukup mewakili mereka. Para pengantar jenazah itu.

Read More

Seorang lelaki setengah baya menghampiri seorang yang lelaki muda berbaju koko hitam yang menampakan kesedihan di raut wajahnya.

“Terima kasih sudah mengurus ayah saya,” ujar lelaki setengah baya itu kepada lelaki muda berbaju koko hitam itu.

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut lelaki muda berbaju koko hitam itu. Dia masih memandangi gundukan tanah itu. Sementara orang-orang mulai meninggalkan areal pemakaman. Hanya tinggal lelaki setengah baya dan lelaki muda berbaju koko hitam itu.

Lelaki setengah baya itu meninggalkan areal pemakaman bersama lelaki muda berbaju koko hitam itu. Keduanya menaiki mobil mewah. Dan dalam hitungan menit keduanya sudah sampai di sebuah rumah makan terkenal di Kota itu.

Keduanya tampak menikmati hidangan lauk pauk yang tersaji diatas meja dengan sangat lahapnya. Seolah-olah mereka baru saja mengerjakan sebuah pekerjaan yang sangat berat dan menguras tenaga yang banyak.

Lelaki setengah baya itu memandang ke arah lelaki berbaju koko hitam itu dengan penuh selidik. Dirinya tak habis pikir, bagaimana bapaknya bisa memberikan semua warisan kepada lelaki muda Kampung itu.

“Kamu adalah pewaris yang dipilih Bapak saya untuk semua warisannya,” ucap lelaki setengah baya itu. Tak ada jawaban dari mulut lelaki muda berbaju koko hitam itu. Mulutnya masih asyik menggigit paha ayam goreng. Sudah lama dia tak menikmati paha ayam goreng racikan rumah makan terkenal ini. Sudah lama sekali. Makanya, dia lebih tertarik menggigit paham ayam itu daripada menjawab pertanyaan lelaki setengah baya itu.

Lelaki muda berbaju koko hitam itu sungguh tak percaya, saat seorang lelaki setengah baya itu menyodorkan sebuah map yang berisikan surat wasiat dari Bapak yang baru saja dikuburkan itu. Lelaki setengah baya itu rupanya anak sang Bapak yang baru saja dikuburkan.

Lelaki muda berbaju koko hitam itu mengenal Bapak tua itu yang dipanggilnya Atok Tua saat dirinya sering sholat berjemaah di masjid Kampung. Atok tua itu tinggal sebatang kara di sebuah rumah yang terletak tak jauh dari masjid. Seiring waktu, keduanya menjadi akrab. Bak anak dan Bapak.

Berbagai keperluan Atok Tua itu selalu dilayani lelaki muda berbaju koko hitam itu dengan ikhlas. Mulai dari mengisi air di bak mandi hingga membeli berbagai keperluan Atok Tua. Kadang saat awal bulan, Atok Tua itu mengajak lelaki muda itu ke Kota untuk mengambil uang pensiunnya di Kantor Pos.

Dan biasanya, usai mengambil uang pensiun, Atok Tua mengajak lelaki muda itu makan di rumah makan. Dan saat lelaki muda itu pulang ke rumahnya, Atok Tua itu biasanya tak lupa menyisipkan beberapa lembaran uang untuk lelaki muda itu sebagai bentuk terima kasihnya.

“Rumah yang ditempati bapak itu dibelinya usai beliau pensiun. Dan sekarang kamu yang jadi pewaris rumah itu. Kamu yang berhak atas rumah itu. Saya sebagai anaknya tak berhak atas rumah itu,” ujar lelaki setengah baya itu.

Lelaki muda itu kembali terdiam. Membisu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

Lelaki setengah baya yang rupanya anak Atok Tua kembali melanjutkan pembicaraanya.

“Aku bulan depan sudah pensiun. Aku mau tinggal di Kampung ini dan menghabiskan sisa umurku di kampung ini,” lanjutnya.

“Bapak mau tinggal di rumah Atok Tua? Silahkan Pak. Itu rumah milik Atok Tua. Saya tak berhak melarang Bapak untuk tinggal di rumah Atok Tua,” jawab Lelaki muda berbaju koko hitam itu.

“Masalahnya, dalam surat wasiat Bapak, yang berhak atas rumah itu adalah kamu,” kata anak Atok Tua.

“Setahu ku, Atok Tua tidak pernah menceritakan tentang rumah itu. Tak pernah sama sekali,” jawab lelaki muda berbaju koko hitam itu.

“Jadi kamu tidak keberatan kalau aku tinggal di rumah bapak?”, tanya lelaki setengah baya itu.

“Sama sekali tidak keberatan Pak. Itu rumah bukan milik saya. Saya hanya membantu Atok Tua yang hidup seorang diri di rumah itu sebagai bentuk bakti saya kepada orang yang sudah tua. Sebagai sesama manusia, saya berkewajiban membantu sesama manusia. Saya tidak pernah berpikir untuk mendapatkan warisan atau peninggalan dari Atok Tua. Tak pernah terpikir sama sekali dalam otak saya Pak,” jelasnya.

Anak Atok Tua terdiam mendengar penjelasan lelaki muda itu. Nuraninya terkoyak-koyak. Wajahnya tiba-tiba bak kain kafan mendengar narasi anak muda itu. Nuraninya seolah menangis. Ada rasa malu yang mengaliri sekujur tubuhnya. Keringat dingin tiba-tiba mengaliri sekujur tubuhnya. Dan dalam hitungan detik, anak Atok Tua itu pun pingsan. Tak sadarkan diri. (*)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.