Cerpen: Telat

Minggu, 11 Juli 2021
Ilustrasi

Dea berada di barisan ibu-ibu di bagian belakang. Rasa-rasanya ada yang aneh. Pikir Dea saat menyadari hampir seluruh pandangan di barisan ibu-ibu menatapnya dengan pandangan aneh. Dea menyunggingkan senyumnya sekilas. Agar tak terkesan sombong. Segera dibentangkannya sajadah yang telah dibawanya dari rumah. Lalu memakai mukenanya.

Sehari sebelum sholat Idul Adha dimulai.

Read More

Dea dan suaminya terlihat duduk santai di teras rumah. Mereka baru saja selesai membereskan seisi rumah dan membersihkan halaman sebagai persiapan untuk merayakan lebaran Idul Adha esok hari. Ditemani setoples kue semprit dan sebotol minuman dingin mereka mulai bercakap-cakap.

“Pai, besok kita sholat di masjid mana?” tanya Dea sambil memasukkan kue semprit ke dalam mulutnya.

“Ya, terserah!” jawab suaminya santai.
“Ihh, seriusan. Masjid Temayeng, Rias atau Padang?” tanya Dea menyebutkan nama-nama lokasi masjid.

Mereka memang terbiasa menyebutkan nama dimana lokasi masjid berada dibandingkan menyebut nama masjid itu sendiri.

“Lihat besok lah!” jawab suaminya singkat. Memang sudah kebiasaan suaminya selalu menjawab “lihat nanti”. Karena suaminya sadar dia sering bangun terlambat. Terlebih bila besok hari lebaran.

Pasalnya malam sebelum lebaran itu suaminya sibuk merapikan beberapa bagian sudut rumah hingga menurutnya bersih dan rapi. Maka tidak heran suaminya akan bangun sedikit terlambat keesokan harinya jika saja tidak dibangunkan oleh Dea, si istri.

Keesokan harinya.

Setelah sholat subuh kedua pasangan suami istri itu malah tidur kembali. Dea yang memang tengah mengandung itu merasa sedikit capek jadi ia memutuskan untuk tidur sejenak. Adapun si suami karena baru tidur beberapa saat sebelum azan subuh memutuskan untuk tidur kembali. Waktu terus berlalu. Detik berganti menit. Menit berganti jam.

Refleks Dea terbangun dari tidurnya. Ia ingat harus sholat Ied pagi ini. Tangannya meraba-raba bantal untuk menemukan hpnya. Setelah ditemukan segera ditekan hpnya hingga menyala dan menampilkan beberapa menu termasuk jam. Rupa-rupanya sudah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit. Dea bergegas bangun sesudahnya ia membangunkan suaminya.

“Sholatnya mulai jam tujuh kan biasanya?” tanya suaminya seakan menegaskan.

“Iya sih. Masih ada waktu nih. Ayo, buruan mandi!” jawab Dea sembari mengambilkan handuk.

Setelah mandi, menyetrika baju, dan aktivitas ringan lainnya mereka pun segera berangkat menuju masjid Rias tepat pukul tujuh pagi.

Sesampainya di masjid Rias, Dea dan suaminya berpencar memasuki barisan masing-masing. Dea berada di barisan ibu-ibu di bagian belakang. Rasa-rasanya ada yang aneh. Pikir Dea saat menyadari hampir seluruh pandangan di barisan ibu-ibu menatapnya dengan pandangan aneh. Dea menyunggingkan senyumnya sekilas. Agar tak terkesan sombong. Segera dibentangkannya sajadah yang telah dibawanya dari rumah. Lalu memakai mukenanya.

Dea melihat sekelilingnya. Tampak para ibu-ibu terlebih anak-anak sebagian dari mereka ada yang membuka mukena bagian atas dan ada pula yang mulai melipat sajadah. Suasana mulai mencurigakan, mungkin begitulah pikir Dea.

Sayup-sayup suara ketukan mic mulai meninggi. Terdengar suara berat seorang pria paruh baya. Tak lama kemudian terdengar suara khas yang menandai bahwa sholat Ied telah berakhir. Sekarang hanya tinggal mendengarkan khotbah dengan seksama.

Dea menepuk keningnya. Rasanya malu sekali.

Setelah khotbah berakhir. Dilanjutkan dengan saling bersalaman antar muhrim. Dea menyalami beberapa jemaah ibu-ibu. Lalu bergegas memakai sandal. Di luar masjid ternyata sudah menunggu suaminya. Lalu mereka pun tertawa bersama atas kekonyolan hari ini.

“Mana kita tau kalo sholatnya mulai jam enam pagi!”

“Hahahaha”

Keduanya tertawa sepanjang perjalanan pulang. Sementara suara takbir mulai bergema.(**)

Toboali, 08 Juli 2021

Karya: Dian Chandra (Hardianti)

Pengirim: Karya: Dian Chandra (Hardianti)

 

Bionarasi:
Dian Chandra adalah nama pena dari Hardianti. Penulis beralamat di Jl. Balai Benih Rias Rt/Rw 005 Toboali, Kab. Bangka Selatan, Prov. Kep. Bangka Belitung. Dian Chandra merupakan seorang arkeolog lulusan S1 & S2 Universitas Indonesia. Penulis dapat dihubungi melalui alamat email: [email protected] dan no.hp: 081289462241.

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts