Cerpen : Sepasang Mata

Ilustrasi

Karya Rusmin Toboali

Dari balik jendela kayu rumahnya yang berhalaman luas, mata seorang perempuan terus mengawasi halaman rumahnya yang dipenuhi rerumputan yang hijau. Beberapa bunga khas lokal kampung mengornamen halaman itu. Matanya terus mengawasi dan mengawasi.

Bacaan Lainnya

Seketika, terdengar suara keriuhan. Dia keluar rumah dan melihat kerumunan orang-orang. Dia segera bergegas menuju ke arah kerumunan itu untuk segera tahu apa yang terjadi disana. Seorang lelaki  tampak tergeletak di trotoar jalan. Tangannya memegang erat sebuah botol minuman.

Dengan menahan airmata, perempuan itu bergegas menuju ke sebuah rumah yang tak jauh dari lokasi kerumunan orang-orang tadi. Dari balik jendela kaca, dia melihat seorang perempuan tua sedang tidur di kursi. Itu satu-satunya kursi yang ada di rumah tua itu.

Perempuan itu membuka pintu depan rumah tua itu dengan perlahan. Dia tak ingin suara pintu mengagetkan bahkan membangunkan perempuan tua yang sedang tergolek di atas kursi tua itu.

“Apa lagi yang diperbuat lelaki jalang itu,” sapa perempuan tua itu secara tiba-tiba.

Perempuan muda itu terkaget-kaget. Tak menyangka perempuan tua yang biasa dipanggilnya nenek itu tahu dirinya masuk ke rumahnya.

“Dia mabuk lagi,” jawab perempuan muda itu dengan nada suara pelan.

“Dasar anak yang tak tahu diuntung. Kalau tahu, sudah dari dulu kubiarkan dia mati kelaparan,” ujar Nenek.

“Sabar Nek. jangan putus asa. Mungkin suatu hari, dia akan sadar dan tobat,” katanya.

“Anak seperti itu akan tobat ketika sudah dalam keranda mayat,” sembur Nenek.

Sepanjang jalan pulang menuju ke rumahnya, perempuan muda itu menangis. Ia bahkan tak peduli ketika melewati warung, dan menjadi tontonan orang-orang yang duduk di sana sambil tertawa. Bahkan terkesan mengejeknya. Perempuan muda itu tak peduli sama sekali.

Setahun yang lalu, saat keluarga perempuan muda itu tinggal di kampung itu, Keluarga nenek itu adalah keluarga pertama yang menyapa mereka sebagai tetangga baru di kampung. Dan sebagai warga baru di Kampung, tentu saja keluarga perempuan muda itu menyambut baik sikap persahabatan yang diperlihatkan keluarga Nenek.

Seiring dengan berjalannya waktu, tiba-tiba keluarga nenek ingin menjodohkannya dengan anak laki-lakinya. Tentu saja, perjodohan itu ditentang mentah-mentah keluarga perempuan muda itu.

“Mohon maaf Nek. Kami belum bisa menerima lamaran nenek untuk cucu nenek. Anak kami masih sekolah. Usianya masih muda. Belum layak untuk menjadi seorang istri. Apalagi menjadi seorang Ibu,” tolak keluarga muda itu dengan nada suara berbalut kesantunan.

Lelaki itu patah arang. Tabiatnya berubah seribu derajat. Usai pinangannya ditolak keluarga muda itu, dia menjadi pemabuk. Hampir tiap malam, minum minuman keras cap murah di ujung Kampung hingga teler. Bahkan terkadang dirinya tertidur di trotoar jalanan Kampung. Dan semua warga kampung tak seorang pun yang mampu menghentikan aksi liarnya itu. Tak terkecuali Sang Nenek.

“Hanya satu orang yang bisa menegurku, yakni perempuan muda itu. Hanya dia,” ujarnya. Sang Nenek hanya terdiam mendengar penjelasan itu. Mulutnya membisu.

Dari balik jendela kayu rumahnya itu kembali perempuan muda itu menatap luasnya halaman rumahnya. Sinar rembulan yang terang menyinari pandangan mata indahnya. Dari kejauhan, matanya menatap seorang lelaki yang berjalan sempoyangan sembari tangannya memegang sebuah botol minuman keras Cap Murah.

Lelaki itu terus berjalan dengan sempoyongan. Terkadang terjatuh di aspal jalanan dan dia bangkit lagi. Terus berjalan dan melangkah dengan langkah sempoyongan. Cahaya rembulan menuntunnya. Entah kemana. lelaki sempoyangan itu tak tertatap mata wanita muda itu. Hanya airmata yang mengalir dari kelopak matanya yang tajam. Ya, hanya airmata yang mengalir hingga ke pipinya sebagai doa untuk lelaki itu.

Pengirim : Rusmin Toboali

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.