Cerpen : Sapi Jadi Kambing Hitam

Karya : Rusmin Toboali

Malam makin menjauh. Lolongan anjing hutan liar pun terdengar lirih. Hampir-hampir tak berdesis. Sinar cahaya rembulan pun mulai enggan mengibarkan sinarnya yang indah.

Read More

Malam semakin hening. Sehening hati lelaki yang tiap hari berbaju safari. Suaranya amat religi. Panjatkan doa kepada Sang Maha Pencipta.

“Ya, Allah, yang Maha Pengasih. Ampuni dosa-dosa kami dan dosa-dosa pemimpin kami yang telah tersesat dan menyesatkan kami dalam hidup,” ujarnya dengan nada suara yang sangat dalam sambil tengadahkan kedua tangannya.

“Ampunilah kesalahannya dan luruskan jalan pikirannya ke jalan yang lurus,” lanjut lelaki itu di keheningan malam.

Sementara di tempat yang berbeda doa yang senada pun dipanjatkan oleh lelaki yang sehari-hari pun selalu mengendarai mobil pelat merah.

“Ya Allah, luruskan pikiran pemimpin kami dari kesesatan duniawi. Ampunilah segala dosanya,” doanya dalam keheningan malam.

Para lelaki pengemban amanah itu amat tidak menyangka bila kesetiaannya kepada pemimpin harus berbuah pahit. Mereka sama sekali tak menyangka, dibalik kereligiusan Sang pemimpin terselip sebuah kerakusan besar yang tak dapat mereka bayangkan sebelumnya sebagai bawahan.

Mereka sama sekali tak menyangka. Sama sekali tak menyangka. Apalagi selama ini pemimpin mereka dikenal sebagai orang yang religius dan sederhana serta disiplin dalam bekerja.

“Memang benar sekali, Bung. Kesederhanaan ternyata tak menjamin seseorang akan rakus dan kemaruk akan harta,” ujar lelaki itu saat mereka bertemu di waktu istirahat jam kantor.

“Iya. Saya sama sekali tak menyangka. Sama sekali tak menyangka. Kalau tahu akan begini, saya tak mau diamanahkan beliau jabatan sebagai Kepala Dinas,” ungkap temannya dengan nada suara amat menyesal.

Mentari meredup. Sinarnya seolah enggan menyinari bumi yang makin ganas. Garangnya cahaya mentari seolah-olah bersimpati kepada para lelaki itu.

Mereka masih ingat dan sangat ingat sekali, saat dipanggil Pemimpin untuk membahas masalah anggaran yang ada di dinas mereka. Dan sebagai bawahan mereka sungguh berniat untuk membantu pemimpin menyukseskan program pemimpin sebagai bentuk pertanggungjawaban Pemimpin kepada rakyat yang telah memilih pemimpin mereka.

“Saya minta dana anggaran yang ada di Dinas kalian itu bisa diserahkan kepada saya untuk membeli sapi yang akan saya berikan kepada petani. Apalagi kalian kan tahu visi misi saya soal bidang peternakan ini,” papar Sang Pemimpin di ruang kerjanya yang super luas itu.

“Siap, pak,” ujar keduanya.

“Saya ingin memberikan sapi yang baik dan berkualitas tinggi kepada para petani, biar mereka bahagia dan bisa dijadikan sebagai modal usaha mereka. Dan secara kebetulan saya mempunyai sahabat yang memiliki peternakan sapi yang berkualitas,” lanjut Sang Pemimpin dengan nada penuh heroik.

“Dan kalau ada sesuatu dengan penegakan hukum, saya siap membantu kalian,” sambung sang pemimpin meyakinkan bawahannya.

Tanda-tanda ketidakberesan mulai terlihat saat sapi-sapi bantuan itu diserahkan kepada petani. Para peternak banyak yang enggan menerima bantuan sapi itu karena kualitas sapi amat jelek. Bahkan jenis sapi pun amat tidak sesuai dengan peruntukannya.

Kegundahan hati  mulai melanda para Kepala Dinas ketika media mulai memberitakan tentang sapi-sapi bantuan itu yang tak jelas peruntukannya. Keluhan para peternak penerima bantuan pun mulai bergema dan menjadi konsumsi publik. Keluhan para penerima bantuan sapi seolah-olah sudah menjadi narasi umum dalam setiap pertemuan masyarakat. Tak ada yang mereka bicarakan selain soal bantuan sapi. Seolah-olah narasi tentang sapi membahagiakan mereka.

Dan yang amat melunakkan hati mereka ketika persoalan ini mereka sampaikan kepada Sang pemimpin, justru pengemban amanah rakyat itu malah menyalahkan mereka sebagai kepala Dinas yang tidak bertanggungjawab.

“Bapak-bapak kan sebagai pengguna anggarannya. Kalian harus bertanggungjawab atas semua itu. Kalian saya beri amanah sebagai kepala Dinas harus mempertanggungjawabkannya. Masa saya yang harus bertanggungjawab. Saya ini pemimpin daerah. Bukan pemimpin dinas seperti kalian,” kata Sang pemimpin dengan nada keras.

Dan para lelaki berbaju safari itu pun hanya terdiam. Membisu seribu bahasa. Suasana ruang kerja Sang pemimpin pun hening. Sehening hati para kepala Dinas yang sedang galau dan resah.

Kegundahan hati mulai dirasakan kepala Dinas ketika aparat hukum menyidik kasus bantuan sapi itu. Dan keduanya pun harus berurusan dengan aparat hukum. Dan salah satu dari mereka hampir pingsan saat diperiksa aparat hukum. Sementara Sang pemimpin seolah-olah tak bersalah. Cuci tangan atas permasalahan yang menimpa bawahannya. Tak memberi dukungan sedikit pun.

Seolah-olah membiarkan kepala Dinasnya menerima hukuman. Seakan-akan itu perbuatan mereka. Bahkan demi pencitraan dirinya sebagai Pemimpin yang sederhana, di koran dirinya meminta aparat hukum untuk menuntaskan masalah sesuai dengan hukum yang berlaku.

“Saya katakan bahwa saya mendukung langkah penegakan hukum terhadap kepala Dinas di daerah ini yang telah menyalahi wewenangnya. Saya tidak ingin di daerah ini terjadi korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Saya dukung langkah aparat hukum. Korupsi harus dibasmi di daerah ini. Korupsi adalah musuh kita semua,” ungkapnya dengan diksi yang berapi-api kepada pewarta yang mewawancarainya.

“Dan tolong kalian tulis bahwa saya sudah mewanti-wanti mereka agar berhati-hati dalam bekerja. Saya sudah seringkali sampaikan kepada para Kepala Dinas bahwa daerah ini zona anti  korupsi. Tak ada tempat bagi mereka yang ingin dan berniat korupsi di daerah ini. Ini sudah saya sampaikan berkali-kali dalam setiap pertemuan dengan mereka,” sambungnya sambil meninggalkan kerumunan juru warta yang mewawancarainya.

Dan paginya sisaat mentari bersinar dengan cahaya yang terang benderang, kepala Dinas yang membaca komentar sang pemimpin di koran pun langsung membanting koran yang tak habis mereka baca.

“Dasar pemimpin licik. Pemimpin tak tahu malu,” ungkap keduanya hampir secara bersamaan.

“Semoga Allah mengampuni dosa pemimpin kita,” ungkap mereka dengan suara yang hampir berbarengan pula. Sinar mentari mulai meredup. Padahal hari masih tergolong pagi. Tak ada kecerahan. Hanya keredupan yang terlihat.

Kini keduanya hanya bisa pasrah dan memasrahkan diri dengan status baru mereka sebagai tersangka. Keduanya hanya bisa meluntakan diri dengan status baru mereka sebagai koruptor. Keduanya hanya bisa memanjatkan doa kepada Sang Maha Pencipta agar Sang pemimpin mereka diberi jalan yang lurus dan tidak menzolimi bawahannya.

Pagi mulai menggeliat. Kokok ayam mulai warnai bumi. geliat mentari yang baru terbangun dari mimpi panjangnya mulai menerangi bumi dan penghuninya. Tak terkecuali menerangi jiwa dan hati sang pemimpin daerah kembali ke jalan yang lurus, jalan yang diridhoi oleh sang Maha pencipta. Dan itulah doa dari mereka para kepala Dinas yang telah terlunta-lunta karena penzoliman yang dilakukan Pemimpin mereka tanpa perikemanusian. (*)

Toboali, Bangka Selatan, 25 September 2021

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.