Cerpen: Sang Biduan

Ilustrasi

Malam makin merentah. Sepoi angin malam makin menua. Seiring mulai terbangunnya matahari dari lelapnya yang panjang. Perempuan muda itu tergesa-gesa meninggalkan panggung hiburan yang masih riuh redah oleh suara-suara pujian penonton yang tertuju kepadanya.

Sinar cahaya lampu di panggung masih terang. Kesibukan masih terlihat diatas panggung. Para crew band berikut pemain musik masih bersantai ria usai menghibur para penonton. Perempuan muda yang dipanggil Lilik menyelinap di antara kerumunan penonton yang memadati lapangan pertunjuka.

Bacaan Lainnya

Lilik tak tertarik dengan seruan pujian yang diterimanya dari penyaksi yang menyaksikan aksinya malam ini. Tak tertarik sama sekali. Sepanjang turun dari panggung hiburan itu, hanya satu yang ada dalam pikirannya. Anaknya yang sedang sakit keras di Pusksmas dekat rumahnya.

Berboncengan dengan ojek online yang telah dipesannya jauh sebelum dirinya meninggalkan panggung musik malam itu, Lilik menyusuri jalanan beraspal bersama pengemudi ojek online yang terus memuji suara dan goyangannya di atas panggung yang erotik.

Lilik sama sekali tak mengubris ocehan pemboncengnya. Pikirannya hanya pada satu tujuan. Bagaimana dia bisa tiba di Puskesmas itu dan melihat kondisi terkini anaknya yang sedang diopname. Itu saja yang ada dalam otak cerdasnya.

Begitu sampai di halaman Puskesmas, perempuan muda langsung berlari kecil menuju sebuah ruangan tempat anaknya dirawat. Dalam hitungan menit, Dia sudah tiba di ruangan tempat anaknya dirawat. Dilihatnya putra semata wayangnya sedang tertidur pulas didampingi Ibunya yang ikut menemani anaknya. Sejuta sesal tampak tergambar dalam raut wajahnya. Ada sebuah penyesalan yang tak terumbar dengan kata-kata indah berbalut puitis yang sering dilantunkannya di atas panggung.

“Maafkan ibumu, Nak,” ujarnya dengan suara lirih. Malam makin menjauh. Menjauh. Sejauh lelapnya mimpi para politisi yang sedang terbuai dalam mimpi indah mereka tentang kekuasaan.

Cahaya mentari pagi sudah di ubun-ubun. Panasnya mulai terasa menyengat. Suasana rumah kontrakan Lilik pun tampak panas. Kipas angin yang ada di ruang tamu tak mampu meredam emosi para pembicara yang ada di ruangan itu. Suara mereka meninggi hingga terdengar ke langit tujuh. Getarkan bumi.

“Mbak tidak bisa membatalkan pertujukkan malam ini secara sepihak. Kami sudah mengontrak Mbak dan membayar uang mukanya,” seru seorang pria yang berperawakan gendut dengan nada suara tinggi.

“Saya paham Pak. Saya paham dengan kontrak itu. Persoalannya anak saya sedang sakit,” jawab Lilik dengan tenang.

“Lho, Mbak ini gimana sih? Kan dalam kontrak tertera dengan jelas tak ada alasan pertunjukan batal hanya karena anak sakit. Tak ada. Coba baca kontrak kerja kita,” ujar pria itu sambil menunjuk selembar kertas bermaterai.

“Saya hanya minta kebijaksanaan dari Bapak semuanya. Mohon pahami kondisi saya. Mohon pengertian terhadap suasana yang saya alami,” ujar Lilik dengan nada suara memelas.

Seorang teman Bapak berperawakan gendut, tiba-tiba membisikan sesuatu ke telinganya. Lilik kaget setengah mati. jantungnya hampir lepas. Tiba-tiba sekujur tubuhnya lemas.

“Bagaimana dengan tawaran saya tadi?” tanyanya dengan wajah penuh kemenangan. “Itu win-win solution,” lanjutnya dengan suara penuh kemenangan.

“Kalau tidak maka kami akan menuntut Mbak ke pihak berwajib karena telah mengingkari kontrak kerja yang kita buat bersama tanpa paksaan,” ujar lelaki itu. Matahari mulai berjalan ke arah timur. Sinarnya terasa panas.

###

Seharian, Lilik menemani anaknya yang sedang diopname di Puskesmas. Bermain. Bercanda gurau hingga terasa dunia milik mereka berdua. Para pengunjung Puskesmas sesekali minta berswa foto dengannnya yang tampil alami tanpa bantuan make up. Sejuta pujian terus diumbar para pengunjung Puskesmas yang mengenalnya. Mereka takjub dengan penampilan Lilik di luar panggung.

“Cantik sekali Mbaknya,” puji para pengunjung Puskesmas yang melihatnya.

Lilik cuma tersenyum. Hanya senyuman yang diberikannya sebagai jawaban indah kepada mereka yang memujinya. Hanya sebuah senyuman. Dan hanya senyuman yang kini dimilikinya.

Pujian itu mengingatkannya saat dirinya masih tinggal di Kampung dimana dirinya dibesarkan hingga tumbuh dewasa menjelma menjadi seorang gadis yang cantik rupawan. Kerupawanannya membuat tergila-gila para kumbang Kampung hingga terbawa ke dalam mimpi mereka saat tidur.

Aktivitasnya sebagai penyanyi lokal menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum Adam. Suaranya di panggung musik sungguh mendayu-dayu. Memikat telinga para pendengar. Membuat setiap pertunjukannya selalu disesaki penonton. Tak kalah kelas dengan suara para penyanyi yang sering tampil di acara festival dangdutan dadakan di media tipi. Tak terkecuali, Seno anaknya Pak Kades yang masih kuliah di Kota. Sangat tergoda dengan kerupawanan Lilik. Terpikat dengan suara sang penyanyi Kampung.

Saking tergila-gilanya dengan Lilik, setiap minggu Seno rela pulang ke Kampungnya hanya untuk menyaksikan penampilan Lilik di atas panggung hiburan dan bisa melihat Lilik hingga akhirnya dapat mengantar Lilik pulang ke rumah usai manggung.

Hubungan kedua anak manusia itu tentu saja menuai narasi di mulut para warga. Semua warga Kampung membicarakan keakraban dua anak manusia itu, hingga menembus dinding telinga Pak Kades dan keluarganya. Berita itu sontak membuat Pak Kades marah. Dan tidak menyetujui hubungan asmara dua anak manusia itu.

“Kita ini keluarga terpandang di kampung ini. Keluarga terhormat. Ibarat bumi dan langit dengan keluarga Lilik. Jangan kamu merendah martabat keluarga kita di mata masyarakat. Mohon kamu pikirkan baik-baik,” ungkap Pak Kades Ayah Seno.

“Pak. Hubungan hati kami tidak bisa diukur dengan harta dan tahta. Ini hubungan batin,” jawab Seno.

“Saya tidak setuju. Dan saya tidak akan merestui hubungan kalian,” tegas Ayah Seno.

“Tapi, Pak,..” ujar Seno dengan suara terputus.

“Kalau penyanyi Kampung itu sudah hamil, bayar ongkos kelahirannya dan biaya hidupnya. saya tidak mau bermenantukan penyanyi Kampung,” jawab Ayah Seno dengan suara tinggi.

Seno terdiam. Tak ada bantahan dari lelaki muda itu. Tak ada sama sekali. Cuma matanya nanar menatap ayahnya.

Lilik terkaget saat suatu senja, utusan Pak Kades datang ke rumahnya dengan sebuah berita dan segepok uang. Hanya kesedihan yang melanda jiwanya. Tak ada bantahan. Tak ada perlawanan. Hanya diam dan membisu yang bisa dilakukannya.

Dengan menahan rasa duka yang teramat dalam. dirinya pun memutuskan untuk meninggalkan Kampung. Berselancar ke Kota bersama benih yang telah ditanam Seno dalam rahimnya. Melupakan duka yang telah menghempaskannya.

###

Jantung Lilik kembali mau copot, ketika seseorang berseragam putih-putih tiba di ruangan anaknya yang sedang dirawat. Keduanya saling bertatapan. Seolah saling mengenal. Dan…

“Lilik,” sapa lelaki yang berprofesi sebagai dokter.

“Mas Seno,” jawab Lilik dengan suara bergetar. “Ini anak kita,” lanjut Lilik. Lelaki itu menebar senyuman. Senyuman yang khas yang amat dikenangnya. Senyuman yang membuatnya terpesona kepada lelaki yang pernah membuahi rahimnya.

“Saya sudah tahu. Saya yang memeriksanya selama anak kita berada disini,” jelas Seno.

“Iya, Bu. Ayah Seno yang memeriksa aku,” jawab sang anak. “Dan kata Ayah Seno kita akan tinggal bersama,” lanjut sang anak yang disambut Seno dengan anggukan kepala sebagai sebuah pembenaran.

Senja itu indah. Seno, Lilik dan putranya menyusuri senja yang berhiaskan pelangi. Susuri jalanan Kota hingga tiba pada suatu tempat yang mereka idamkan. Ya, disebuah rumah milik keluarga kecil ini. Rumah baru mereka yang dihalamannya berpagarkan bunga bakung yang kembali menumbuh suburkan cinta mereka yang sempat mati suri.

Dikejauhan terdengar suara lagu Rumah Kita yang amat populer dari band rock Legendaris God Bless.

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri.
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Rumah kita

Pengirim : Rusmin Toboali

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.